Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Berusaha Tetap Tegar


__ADS_3

Mama Elvira belum mampu meredam tangis sejak tiba di rumah sakit. Putranya yang selama ini selalu tampak kuat, kini harus terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri. 


Hampir tiga hari Alvin dalam keadaan kritis dan belum menunjukkan perkembangan apapun. Selama itu pula, Daniza tidak pernah beranjak dari sisinya. Ia terus menunggu dan berharap suaminya segera membuka mata. 


"Aku minta maaf, Mah. Seharusnya aku tidak membiarkan Mas Alvin pergi sendirian malam itu," lirih Daniza. 


Mama Elvira menatap Daniza. Wajah yang pucat, matanya yang sembab dan juga pipi sedikit tirus seolah mampu menggambarkan perasaannya saat ini. Hal yang membuat Mama Elvira memeluk menantunya itu. 


"Bukan salah kamu, Sayang. Kita semua tidak menginginkan Alvin seperti ini," bujuk Mama Elvira. Tetapi, bukannya reda, tangis Daniza malah semakin menjadi-jadi, hingga menyisakan suara sesegukan. 


Sebagai istri, sudah pasti menjadi orang yang paling terpukul atas kejadian ini. Mereka sedang menikmati manisnya pernikahan dengan berbulan madu. 


"Kamu tenang saja. Alvin itu kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini." 


Daniza hanya mengangguk. Setidaknya sekarang ia dapat bernapas lega dengan adanya Mama Elvira dan Eric. 


 *


*



"Daniz, kamu pulang dulu ke hotel ya, Nak! Kamu istirahat dulu, biar mama yang jaga Alvin di sini." 


Melihat Daniza yang terlihat sangat lelah, Mama Elvira jadi tidak tega, sehingga meminta Daniza untuk beristirahat di hotel. 

__ADS_1


"Aku mau di sini menunggu Mas Alvin, Mah," tolak Daniza. Ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Alvin saat terbangun nanti. 


"Tapi kamu bisa sakit kalau kurang istirahat. Lihat, kantung mata kamu mulai hitam. Danny bilang sejak Alvin di rumah sakit, kamu kurang makan dan kurang tidur," bujuk sang mama sekali lagi. Tetapi, Daniza tetap menunjukkan reaksi penolakan dengan gelengan kepala. 


"Mama benar, Daniz. Ayo, aku antar ke hotel dulu. Kamu bisa ke sini lagi besok pagi," ucap Eric, turut prihatin dengan kondisi Daniza. 


"Kalau Mas Alvin bangun dan cari aku bagaimana?" Daniza menatap wajah suaminya lekat-lekat. Kelopak matanya terpejam bersamaan dengan cairan bening yang mengalir di pipi. 


"Aku akan hubungi kamu setiap ada perkembangan. Lagi pula, kalau kamu sampai sakit, Alvin bisa marah." 


"Apa Mas Alvin bisa marah sama aku?" Pertanyaan itu lolos begitu saja. 


"Marah tidak, tapi mungkin sedih. Kamu tahu kan, Alvin sayang sekali sama kamu. Dia pasti sedih kalau lihat kamu seperti ini." 


Daniza memang tak menampik ucapan Eric. Alvin akan mengomel jika dirinya tidak menjaga kesehatannya dengan benar. Apalagi jika sampai terlambat makan.


Setelah bersusah payah membujuk, akhirnya Daniza setuju untuk kembali ke hotel. Lagi pula saat ini tubuhnya sedang sangat lelah dan Daniza sendiri tidak yakin masih bisa bertahan.


Bahkan saat dalam perjalanan pulang ke hotel, ia tertidur di mobil akibat lelah dan kantuk. 


Sementara Mama Elvira masih menemani putranya di rumah sakit. Ia memilih duduk di sisi Avin sambil menunggu kedatangan Eric yang sedang mengantar Daniza. 


Air mata pun harus berurai lagi. Ini adalah pertama kali Mama Elvira melihat putranya dalam keadaan seperti sekarang. Alvin yang bandel sedang berjuang seorang diri antara hidup dan mati.


"Bangun, Vin! Kamu harus bisa bertahan," bisik Mama Elvira. 

__ADS_1


Wanita paruh baya itu menyeka air mata yang meleleh di pipi. Berusaha menguatkan hatinya yang rapuh. Sudah cukup ia kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya saat kepergian papa Alvin untuk selamanya. Ia tidak ingin kesedihan yang sama terulang kembali. 


"Kamu tidak kasihan sama Daniz? Dia sudah berhari-hari menangisi kamu. Apa kamu tega membuat Daniza sedih lagi? Ingat, perjuangan kamu untuk bisa hidup bersama Daniza tidak mudah. Apa kamu akan menyerah seperti ini? Bangun, Vin!" 


Tiadanya respon dari Alvin membuat Mama Elvira membenamkan ciuman di kening putranya itu. Setidaknya, Mama Elvira yakin bahwa saat ini Alvin dapat mendengar suaranya. 


Tak berselang lama, pintu ruangan itu terbuka, disusul dengan kedatangan Eric. Pria itu meletakkan beberapa menu makanan yang tadi sengaja ia beli dalam perjalanan ke rumah sakit. 


"Tante istirahat saja. Biar aku yang jaga Alvin." 


"Tidak apa-apa, Ric. Oh ya, bagaimana Daniza?" 


Eric mengulas senyum tipis. "Daniz sudah istirahat di hotel, Tante. Dia juga baru makan setelah aku paksa." 


"Kasihan Daniz. Padahal dia baru saja bahagia sama Alvin." 


Melihat raut Mama Elvira yang semakin menggambarkan kesedihan, Eric menghampiri ibu angkatnya itu. "Tante tenang, ya. Alvin pasti kuat dan bisa melewati masa-masa ini. Kalau dia masih bandel, Tante kan bisa ngasih jurus sapu flying in the sky." 


Mau tak mau Mama Elvira terkekeh mendengar ucapan Eric. "Kamu memang mood booster mama, Ric. Hanya satu hal yang mama tidak suka dari kamu." 


"Apa?" tanya Eric. Bibirnya mulai mengerucut. 


"Kamu tidak pernah mau panggil mama. Padahal apa susahnya, sih? Kamu kan anak mama juga," protes Mama Elvira.


Eric hanya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Meskipun Mama Elvira memperlakukannya sama seperti anak kandung sendiri, tetapi Eric selalu membatasi diri. Bahkan ia tidak pernah menggunakan segala fasilitas mewah yang diberikan Mama Elvira kepadanya, termasuk kartu tanpa batas. 

__ADS_1


...***...


__ADS_2