
Konon katanya, aktivitas bercinta dengan pasangan mampu menumbuhkan benih-benih kasih sayang dan menciptakan ikatan batin yang kuat. Daniza percaya akan hal itu. Pagi ini ia terbangun dengan tubuh berbalut lelah setelah aktivitas menguras tenaga semalam.
Kata bahagia mungkin tidak akan cukup untuk menggambarkan perasaannya sekarang. Setiap sentuhan hangat yang ditinggalkan Alvin pada tubuhnya seolah mampu menghidupkan kembali hatinya yang pernah luluh lantak.
Daniza masih betah dalam pelukan selimut tebal. Kegiatan semalam menyisakan rasa sedikit aneh pada bagian bawah tubuhnya. Alvin ternyata sangat barbar di ranjang, bahkan tak melepaskan Daniza dari cengkeramannya semalaman seperti harimau kelaparan.
Tangan wanita itu lantas merambat ke kanan dan kiri demi mencari sang suami, namun sekarang tempat di sebelahnya kosong. Ke manakah tubuh kuat dan tangguh yang semalam membuatnya kehabisan energi?
"Mas Alvin?" panggil Daniza dengan suara serak.
"Iya, Sayang. Aku di kamar mandi."
Daniza menyibak selimut dan merubah posisi berbaring menjadi duduk. Tak lama kemudian, terdengar gemercik air dari dalam sana, yang menandai bahwa suaminya sedang mandi. Alvin baru keluar setelah beberapa menit kemudian.
"Baru bangun, ya?"
"Iya," jawab Daniza sambil meraba punggung lehernya yang terasa pegal. "Badanku kayak remuk."
"Istirahat saja, Sayang. Malam ini aku tambah durasinya deh."
Hah, tambah durasi? Yang semalam saja sudah membuat Daniza kehabisan tenaga. Wanita itu pun melukis senyum di bibirnya mendengar kalimat jahil yang terkesan vulgar itu. Masih dengan gaun malam tipis, ia bangkit meninggalkan tempat tidur yang berantakan akibat aktivitas semalam.
Melihat tubuh tegap se xy yang hanya berbalut handuk putih sebatas lutut, rambut yang basah dan juga wajah segar suaminya membuat Daniza tidak tahan untuk segera meminta pelukan pagi.
"Sepertinya aku kena pelet sampai tidak mau jauh. Maunya dipeluk terus," ungkap Daniza dalam hati.
__ADS_1
Matanya terpejam menyesap aroma segar dari tubuh suaminya. Dada bidang berkulit halus itu seolah menjadi tempat bersandar paling nyaman di dunia.
"Mau mandi tidak?" Alvin melepas pelukan. Kemudian menyeringai tipis saat mendapati mahakarya semalam yang ia tinggalkan di bagian leher dan dada Daniza. Satu ciuman hangat pun ia benamkan di kening.
"Mau. Tapi sebentar dulu." Daniza kembali membenamkan diri dalam pelukan suaminya. Entah mengapa, ia ingin berlama-lama dalam posisi ini.
"Mandi sekarang aja, terus kita sarapan. Aku sudah pesan tempat soalnya."
"Tapi ...."
"Mandi sekarang, atau kita akan olahraga pagi!" ancam Alvin sambil melirik ke arah tempat tidur.
Daniza merinding. Dengan tidak relanya melepaskan diri. Sebelum beranjak ke kamar mandi, ia sempat mencuri ciuman di pipi suaminya.
*
*
*
Alvin membawa Daniza untuk mengunjungi festival balon udara tahunan yang diadakan di kota itu.
Saat ini Daniza sedang terpaku memandangi keindahan langit biru yang dihiasi oleh balon udara. Ia sempat mengabadikan pemandangan langka itu dengan kamera.
"Kalau mama ikut ke sini pasti enak ya, Mas?" ucap Daniza.
__ADS_1
"Jalan-jalan berikutnya aja kita ajak mama," ucap Alvin. "Udah yuk, kita jalan. Makin rame, nih."
Alvin menggandeng tangan istrinya di antara lautan manusia. Beberapa kali Daniza hampir terjatuh jika tersenggol oleh bule-bule yang memiliki tubuh tinggi menjulang.
"Ini bule-bule aslinya mau pada ke mana sih? Kenapa harus ngumpul di sini coba?" gerutu Alvin.
Ia tidak menyangka jika festival hari ini akan sangat ramai dan padat oleh para pengunjung. Mereka bahkan harus menyalip orang yang berlalu lalang demi mencari tempat yang tidak begitu padat. Anehnya, beberapa kali Daniza mencoba melepas tangan Alvin. Tetapi, laki-laki itu menarik tangan Daniza ke sela lengannya.
"Sayang, jangan lepas tangan aku! Kalau kita terpisah bisa susah carinya."
"Sorry?" Alvin tertegun. Suara berat dari belakang membuatnya menoleh. Apalagi ia sempat merasakan perlawanan.
Alvin dibuat terkejut luar biasa. Betapa tidak, tangan yang sedari tadi ia genggam ternyata adalah milik seorang pria bule. Lalu, ke mana perginya Daniza?
"Sorry," ucap Alvin, langsung melepas tangan lelaki itu.
Pria bule itu mengulas senyum, sebelum akhirnya lanjut berjalan bersama beberapa rombongan lain.
Sementara Alvin mengedarkan pandangan ke segala penjuru demi mencari istrinya. Sama sekali tidak terlihat Daniza di antara lautan manusia itu.
"Daniz! Kamu di mana?" teriak Alvin sembari mencoba menajamkan penglihatan dan pendengaran.
Ia berjalan ke sana ke mari. Rasa khawatir mulai menyergap. Alvin merogoh ponsel dari saku celana dan menghubungi nomor telepon sang istri. Namun, tak kunjung tersambung.
"Daniz!"
__ADS_1
...****...