
Lima belas menit waktu yang dihabiskan Daniza terdiam di kamar mandi. Wanita itu tengah memandangi tubuhnya dalam balutan lingerie transparan.
Ia agak gugup. Meskipun sudah pernah menikah sebelumnya, tetapi Daniza belum pernah mengenakan pakaian seperti ini. Dulu ia tidak pandai bersolek dan sama sekali tidak mengerti banyak hal, termasuk cara menyenangkan suami agar tak berpaling.
"Jadi istri itu harus bisa membangkitkan hassrat suami." Begitu kalimat yang Daniza baca dari sebuah buku dan terekam jelas di benaknya.
Tak ingin kenangan pahit kala Alina merebut suaminya terulang kembali, malam ini Daniza memutuskan untuk menjadi istri solehot.
Ia harus bisa bermain cantik dan membuat Alvin tidak bisa lepas darinya.
"Aku harus bisa merayu Mas Alvin. Pelakor di luar sana sangat mengerikan."
Menarik napas dalam, Daniza beranjak keluar dari kamar mandi. Alvin tampak sedang berdiri menghadap jendela sambil menatap keluar.
"Mas," panggil Daniza.
Alvin menoleh. Matanya seketika terbuka lebar menatap istrinya yang baru keluar dari kamar mandi. Untuk beberapa saat, kewarasannya seperti terbang entah ke mana.
Terkejut membuat lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan sepatah kata. Ia hanya dapat menyoroti sosok cantik di depan dengan teliti, dari ujung kaki ke ujung kepala. Penampakan Daniza sekarang membuat jantungnya berdegup cepat seperti telah melakukan aktivitas berat.
"Sa-sayang, kamu ...."
Tersenyum menggoda, Daniza berdiri di ambang pintu dengan gaun malam tipis yang memamerkan lekukan sempurna tubuhnya. Kemudian menunduk saat menyadari tatapan Alvin yang seperti sedang melahap tubuhnya.
"Katanya para suami suka kalau istrinya memakai pakaian seperti ini. Aku belum pernah menggunakan pakaian seperti ini sebelumnya." Daniza mulai gugup dan gemetar.
Wanita itu memberanikan diri mendekati suaminya. Sementara Alvin masih terpaku memandangi wanita yang hanya setinggi dagunya itu. Daniza pun mendongakkan kepala sehingga tatapan mereka saling beradu.
"Maaf, aku lama di kamar mandi. Aku sudah siap." Daniza mengulas senyum tipis.
Alvin tak lagi melihat ekspresi malu-malu Daniza seperti saat tadi berendam di air hangat. Malah sekarang wanitanya itu tampak sangat percaya diri dan menggoda.
Dan melihat itu saja sudah membuat Alvin hampir gila. Ia menarik pinggang Daniza hingga menempel sempurna di tubuhnya. Kemudian membenamkan kecupan sayang di kening.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang. Tapi kamu yakin sudah siap? Aku tidak mau malam pertama kita dilalui dengan terpaksa." Alvin hendak memastikan.
"Aku sama sekali tidak terpaksa. Atau jangan-jangan kamu yang belum siap?"
"Siaplah! Kalau perlu gaspoll."
Ucapan Alvin yang terdengar sangat vullg@r membuat Daniza membenamkan wajah di dada polos suaminya. Alvin membalas dengan memeluknya erat.
Rasa hangat pun kembali dirasakan Daniza ketika tangan kekar itu melingkar erat di tubuhnya. Dalam hitungan detik, ia merasakan tubuhnya melayang. Alvin sedang menggendongnya menuju tempat tidur.
"Aaa kenapa aku berani sekali merayu Mas Alvin seperti tadi?"
.
.
.
.
Di manakah bagian itu? Silahkan pikirkan sendiri! 🤭
Alvin sudah hampir gila dengan tingkah istrinya yang begitu manja dan menggemaskan. Bahkan Daniza sengaja menunjukkan bentuk tubuhnya dengan menggunakan gaun malam tipis berwarna hitam yang semakin memancarkan keindahan kulit putihnya.
"Boleh tanya sesuatu?" bisik Alvin.
"Mau tanya apa, Mas?"
"Kamu dapat baju transparan begini dari mana? Kamu beli sendiri atau ...." tanyanya sambil menjatuhkan tali pakaian yang tersemat di bahu.
"Dikasih mama sebelum berangkat ke sini."
Alvin kembali menyeringai. "Wah, mama memang ibu terbaik di galaksi Bima Sakti. Tau aja kebutuhan anaknya."
__ADS_1
Daniza cekikikan. Ibu mertuanya itu memang memiliki hati yang lembut di balik sikapnya yang kadang galak. "Iyalah. Mama kayaknya tahu banget anaknya semesum apa."
"Kalau begitu kita nggak boleh mengecewakan mama. Pulang dari sini minimal harus sudah ada embrio di perut kamu."
"Memang bisa secepat itu?"
"Bisa. Pakai tenaga turbo!"
Alvin mengurung Daniza di dalam dekapan hangatnya. Meskipun keinginan sudah di ubun-ubun, tetapi Alvin tak ingin terburu-buru menjalankan malam pertamanya. Ia lebih banyak memberi ruang bagi Daniza untuk bermanja kepadanya.
Mereka banyak membicarakan masa lalu. Bagaimana Alvin patah hati saat kehilangan jejak Daniza, dan juga betapa bahagia saat pertama kali berjumpa lagi di tengah hujan.
Rasanya semua seperti kejutan yang sudah ditentukan oleh semesta.
"Mulai aja, yuk!" bisik Alvin.
Ia meraih ujung dagu sang istri hingga keduanya saling tatap. Sebuah tatapan yang menyiratkan api cinta yang menggelora.
Daniza pun memejamkan mata saat Alvin mendekatkan wajah dan menyatukan bibir mereka. Tangannya yang lebar meninggalkan sentuhan lembut pada setiap bagian tubuh istrinya.
Keduanya terhanyut dalam kenikmatan dunia yang melenakan. Daniza tak sadar lagi kapan Alvin berhasil melepas pakaian tipisnya. Kini keduanya hanya terbalut selimut tebal. Wajah Daniza pun semakin memerah saat baru tersadar Alvin memandangi seluruh bagian tubuhnya hingga bagian paling pribadi.
Suara lenguhan pun memenuhi seisi kamar ketika dua tubuh itu melebur menjadi satu. Alvin termabukkan oleh sensasi hangat yang meledak.
Pengalaman pertama ini membuatnya menggila hingga Daniza harus kehabisan seluruh tenaga. Ketika segalanya terasa mencapai puncak, Alvin menciumi lekukan leher istrinya sambil mempercepat gerakan di pinggang. Matanya terpejam ketika merasakan sesuatu mengalir di bagian bawah tubuhnya.
Akhirnya ....
Alvin mencium kening sesaat setelah pelepasan sempurna. Keduanya terdiam dengan napas terengah-engah.
"Aku mencintaimu, istriku."
...*****...
__ADS_1