
"Apanya yang keluar?" Alvin terlonjak ketika Eric menepuk pundaknya secara tiba-tiba. Secepat kilat ia refleks menutupi bagian bawah tubuhnya. Bisa ditaruh di mana harga dirinya jika sampai ketahuan oleh Eric memimpikan adegan dewasa dengan Daniza.
"Itu ... aku mau keluar kamar."
Eric melirik arah jam di dinding. "Ya ampun, mau ngapain keluar kamar? Ini masih gelap. Yuk tidur lagi," ajak Eric, tetapi Alvin masih betah dalam posisi duduknya. "Apa jangan-jangan kamu tidak bisa tidur karena kangen si Daniz?"
"Sembarangan!" Alvin memukul Eric dengan bantal, membuat laki-laki itu terkekeh sambil membenarkan posisi berbaringnya.
"Hati-hati, biasanya orang yang dibenci itu suka muncul di mimpi."
Rasanya, Alvin benar-benar ingin menenggelamkan Eric di Palung Mariana. Biar saja ia berbaur dengan hiu goblin, gurita teleskop, ikan berkepala transparan, atau cacing zombie yang merupakan penduduk asli tempat itu.
Dengan sedikit terpaksa, Alvin kembali ke tempat tidur setelah sebelumnya mengganti celana yang sudah basah oleh ulah si Djarot.
*
*
*
Pagi menyambut alam. Mentari sudah terbit dengan membawa sinarnya yang hangat. Alvin beranjak keluar kamar. Kepalanya sedikit pusing karena semalaman tidak bisa tidur nyenyak. Mimpi itu seperti hantu yang terus membayangi kepalanya.
Aroma mentega dan roti panas menyeruak. Alvin yakin aroma ini berasal dari dapur yang memang menjadi salah satu fasilitas kamar mewah itu. Perlahan ia melangkah menuju dapur. Alvin menelan saliva saat memperhatikan sosok bertubuh se xy yang tengah berdiri dalam posisi membelakang dirinya.
Tanpa dapat dikendalikan, bayangan mimpi semalam muncul kembali. Tak dapat dipungkiri penampakan Daniza yang sekarang memang jauh berbeda dari Daniza di jaman SMA. Sekarang Daniza terlihat lebih lebih cantik, lebih imut dan yang pasti lebih wow. Alvin sudah tidak tahan rasanya.
Oh, tidak! Apakah ini yang disebut dengan masa puber?
Alvin menggelengkan kepala demi menghilangkan pikiran m3sum di otaknya. Dengan cepat memilih duduk di meja makan sambil menikmati segelas air putih. Ingin minta roti bakar yang tengah dibuat Daniza, gengsinya setinggi Gunung Fuji di Jepang. Padahal perut sedang dalam kondisi memprihatinkan, sebab semalam Alvin belum makan apapun.
"Selamat pagi, Mas. Ini aku buatkan roti bakar kesukaan kamu." Daniza meletakkan beberapa potong roti bakar ke meja.
Alvin menoleh sejenak demi menatap wanita itu. Seketika ia terlonjak saat Daniza sedikit membungkuk hingga belahan dadanya terlihat.
"Heh, kalau keluar kamar pakai baju yang baik dan benar!" Alvin memalingkan wajah demi menutupi semburat merah di pipi.
__ADS_1
Daniza menahan senyum melihat tingkah suaminya yang menggemaskan. Dulu, Alvin tidak pernah tahan jika melihat dirinya menggunakan pakaian ini. Ia akan menyeret Daniza ke kamar dan memonopoli tubuhnya semalaman.
"Tapi dulu kamu suka kalau aku pakai baju ini." Daniza sengaja menyandarkan tubuhnya di meja dengan gerakan menggoda. Baju tidur berbahan sutera itu memamerkan lekukan sempurna tubuhnya.
"Jangan sembarangan menuduh, ya. Aku bisa melaporkan kamu ke polisi dengan tuduhan pelecehan s3ksual terhadap anak di bawah umur!" ancam Alvin.
"Tapi sayangnya polisi tidak akan menanggapi laporan kamu, karena kamu bukan anak di bawah umur." Daniza membelai lekukan leher Alvin. Laki-laki itu merasakan hawa panas sekaligus dingin di waktu bersamaan. Apalagi, aroma tubuh Daniza yang sangat menurunkan iman tetapi justru menaikkan imun.
"Kenapa Daniza yang dulu culun berubah menjadi wild woman?" Alvin menggerutu dalam hati.
Sebisa mungkin menahan serangan yang dilancarkan Daniza. Sejak semalam, wanita itu bertekad tidak akan menjadi wanita cengeng untuk menghadapi suaminya. Kalau perlu ia akan merayu Alvin setiap hari untuk mer@ngsang ingatannya agar cepat pulih.
"Eh eh, jangan macam-macam, ya! Aku teriak, nih!" Alvin langsung panik, wajahnya semakin memerah. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, jangan sampai Eric keluar kamar dan mendapati Daniza menggunakan pakaian seperti ini. Meskipun merasa benci, bukankah wanita itu adalah istrinya yang terlupa?
"Teriak aja!" Daniza terkekeh. Ia bahkan sengaja mencium pipi Alvin. Membuat jantung suaminya itu seperti akan melompat keluar. Selaksa bayangan muncul di ingatan. Sentuhan itu terasa amat hangat dan familiar.
Kok nikmat, sih?
Tetapi, Alvin tersadar saat itu juga.
Laki-laki itu berdiri dari kursi untuk kembali ke kamar bernuansa 21+ semalam. Baru akan membuka pintu, ia sudah teringat dengan roti bakar madu buatan Daniza yang ketinggalan di meja. Tergesa-gesa, ia kembali untuk mengambil roti dan masuk ke kamar setelahnya.
Daniza hanya tertawa melihat pintu kamar yang baru saja tertutup.
"Suamiku itu memang menggemaskan. Aku akan merayu kamu lagi nanti."
*
*
*
Mama Elvira dan juga Daniza tengah merapikan beberapa koper. Siang ini mereka semua akan kembali ke Indonesia. Sesekali Daniza menengok ke arah suaminya yang sedang duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.
"Vin, koper kamu yang semalam di mana?" tanya sang mama.
__ADS_1
"Di kamar, Mah!" jawab Alvin singkat.
"Biar aku aja yang ambil, Mah." Baru saja Daniza akan berdiri, sudah dicegah oleh mama.
"Biar mama aja, Sayang. Kamu bereskan yang lain."
"Ta-tapi, Mah—" Daniza jadi panik. Akan sangat memalukan jika mama melihat isi kamar itu. Di sana lah ia kerap menghabiskan malam yang hangat dengan Avin.
Tanpa mengindahkan Daniza, Mama Elvira lantas melangkah menuju kamar tersebut. Alangkah terkejut sang mama melihat seisi kamar. "Ya ampun, kamar apaan ini? Kenapa ada benda seperti ini?"
Daniza sudah menunduk saking malunya. Kemudian melirik Alvin yang malah bersikap sangat santai.
"Nggak tahu, Mah. Aneh-aneh aja ini hotel. Ngapain juga ada barang-barang terkutuk dan tercela di disimpan di kamar." Alvin ikut menggerutu.
Eric yang duduk di sebelahnya hanya menahan tawa. "Kamar ini cocok untuk pasangan bulan madu, Tante."
"Diam! Anak di bawah umur kayak kamu mana tahu soal bulan madu!" Alvin menendang kaki Eric di bawah sana.
Sementara Daniza sudah tidak mampu menahan rasa malu. kejadian ini sangat memalukan baginya.
Tak lama berselang, terdengar suara bel. Eric segera membuka pintu. Tampak seorang petugas hotel datang dengan membawa billing fasilitas tambahan yang sempat diminta Mama Elvira selama menginap di hotel tersebut.
"Terima kasih," ucap Mama Elvira sambil membubuhkan tanda tangan dan menyerahkan sebuah kartu. "Oh ya, kenapa di kamar ini ada ruangan yang isinya barang-barang erotis? Apa hotel ini memang menyediakan fasilitas seperti itu?"
"Hotelnya m3sum, Mah. Aku juga geli nginap di sana tadi malam," celetuk Alvin yang kesal, sebab kamar itu menjadi bahan ledekan Eric semalam.
Dahi sang karyawan hotel itu tampak berkerut tipis. Ia sempat melirik ke arah kamar yang ditunjuk Mama Elvira. Sepertinya, jiwa paparazzi Mama Elvira sedang kumat.
"Oh, kamar itu adalah special request dari Tuan Alvin Alexander sendiri saat melakukan pemesanan kamar beberapa waktu lalu," jawab karyawan hotel itu.
Alvin terlonjak. Mendadak wajahnya bersemu merah. Ingin rasanya menyembunyikan diri di lubang Bumi terdalam.
Mendengar itu, Eric dan mama tersenyum menggoda.
"Jadi kamar ini special request ya, Vin."
__ADS_1
...****...