Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Ulang Tahun Alamjaya


__ADS_3

"Kamu mau ke mana, Revan?" Suara Alina tiba-tiba muncul dari belakang membuat Revan terlonjak.


Alina menatap Revan yang malam ini terlihat sangat rapi dengan setelah jas formal seperti akan pergi ke sebuah acara penting.


Bukannya segera menjawab, Revan malah balik bertanya. "Mau ngapain kamu ke sini?"


"Tidak apa-apa. Hanya mau bertemu kamu!" jawabnya. "Kamu belum jawab peryanyaanku tadi. Kamu mau ke mana?"


"Aku ada undangan ke ulang tahun perusahaan Alamjaya Grup," jawab Revan sambil membenarkan dasi yang melilit kerah kemejanya.


"Ulang tahun perusahaan Alamjaya?" Sudut mata Alina berkerut. Ia mencoba mengingat nama perusahaan yang terdengar tak asing itu. "Bukannya itu perusahaan laki-laki yang pernah bersama Daniza, ya?"


"Iya." Sekarang Revan sibuk menyisir rambut. Memperhatikan lagi penampilannya agar tampak sempurna.


"Aku mau ikut!" pinta Alina sambil mengguncang lengan Revan.


"Untuk apa kamu ikut, Al. Itu hanya pesta ulang tahun biasa. Kamu pulang saja lah!"


Rasanya Alina benar-benar kesal dengan ulah kekasihnya itu. Sekarang Revan banyak menolak permintaannya. Padahal dulu, apapun yang ia minta akan dituruti oleh Revan tanpa bertanya.


"Kalau aku tidak boleh ikut, kamu pun tidak boleh pergi!"


Revan mendengkus kesal, lalu menatap Alina. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Acara hampir mulai. Jika ia meladeni Alina, sudah pasti akan terlambat ke hotel.


"Ya sudah, kamu boleh ikut!"


*


*


*


Malam harinya ....


Mobil yang dikemudikan Eric memasuki sebuah hotel mewah tempat diadakannya acara besar itu. Daniza terpukau menatap bangunan mewah di hadapannya. Namun, ia terlihat ragu untuk turun dari mobil. Ia sadar pesta malam itu bukanlah sebuah pesta biasa. Salah sedikit saja bisa membuatnya malu. Terlebih Daniza sama sekali belum pernah menghadiri pesta mewah semacam ini. Dulu, ayahnya sering mengajak ke pesta serupa, namun Daniza terlalu pemalu dan tertutup.

__ADS_1


Alvin turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil. Sambil tersenyum, ia mengulurkan tangannya kepada Daniza. "Ayo turun!" pintanya lembut.


Ragu-ragu, Daniza menyambut uluran tangan Alvin dan turun dari mobil. Pandangannya menyapu sekitar area parkir. Tampak beberapa tamu yang juga baru tiba. Beberapa di antara nya tampil sangat cantik dan elegan.


"Kenapa, Daniz?"


"Kak Alvin, aku malu. Aku belum pernah ke acara seperti ini sebelumnya. Apa lebih baik aku tunggu di mobil saja?"


Alvin menepuk dahi mendengar ucapan yang baginya terlampau polos itu. "Memang kenapa? Di dalam tidak ada presiden, kok."


“Bukan begitu."


"Ini hanya pesta biasa, Daniz. Kalau kamu gugup, ayo gandeng tangan aku."


Daniza sempat ragu. Tetapi kemudian dengan malu-malu melingkarkan tangannya di lengan Alvin, membuat laki-laki itu bersorak kegirangan dalam hati. Sementara Daniza menarik napas dalam, tak dapat dipungkiri, menggandeng lengan Alvin membuatnya merasa lebih nyaman.


Nah begini kan seperti pasangan sebenarnya.


"Kamu harus percaya diri. Kamu tidak kalah cantik dari wanita-wanita di dalam sana.” Sebuah kalimat gombalan secara terang-terangan baru saja terucap di bibir Alvin, membuat wajah Daniza merona.


"Nanti jangan jauh-jauh dari aku, ya!" pinta Alvin.


"Benar-benar anak Nyonya Elvira satu ini. Harus diruqiyah dulu biar sadar supaya jangan jadi pebinor!"


*


*


Revan baru tiba di hotel bersama Alina. Ia terpaksa menuruti keinginan Alina untuk ikut, karena wanita itu memaksa. Padahal Revan sengaja datang untuk mencari info tentang Daniza. Dan adanya Alina akan mengacaukan rencananya.


Alina terpaku menatap gedung hotel yang desain mewah. Wanita itu mulai berpikir bahwa Alvin pasti jauh lebih kaya dari Revan.


Lihat saja pesta ulang tahun perusahaannya yang terkonsep sedemikian rupa. Alina yakin untuk pesta semacam ini Alvin pasti menghabiskan dana milyaran.


"Bagus sekali, Revan. Kira-kira kapan perusahaanmu bisa mengadakan acara sebagus ini?" puji Alina.

__ADS_1


Kata-kata itu membuat Revan berdecak dalam hati. Sepertinya langkah Revan untuk memilih Alina adalah keputusan yang salah besar. Dia terlalu matre, beda sekali dengan Daniza yang tak pernah memandang derajat orang lain dari segi kasta.


"Itu bukan perusahaanku, itu perusahaan Daniza," balas Revan kesal. Alina seketika menoleh, menatap geram karena Revan kembali membahas wanita itu.


Pesta dimulai dengan meriah.


Berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, Alvin dan Daniza memasuki gedung mewah itu. Sebuah karpet merah membentang, membuat Daniza merasa gugup. Apalagi melihat betapa ramainya malam itu oleh kehadiran para tamu.


Semua mata tertuju kepada sosok Alvin Alexander yang merupakan si empunya acara, yang malam ini datang dengan membawa seorang wanita cantik.


Pasalnya ini adalah kali pertamanya Alvin menggandeng seorang wanita setelah dinobatkan sebagai single boy yang sukses.


Awalnya baik Revan maupun Alina tak sadar kalau wanita bermata biru itu adalah Daniza. Namun, setelah jarak mereka semakin dekat. Keduanya baru sadar bahwa wanita yang baru saja disulap penampilannya itu adalah Daniza.


"Itu kan Daniza?" Revan bergumam tanpa sadar. Matanya tak berkedip melihat sosok yang berjalan semakin dekat. Daniza lewat di depannya, tetapi ia tak memandang Revan barang sedetik pun.


"Revan, apa yang kamu lakukan?" Alina mencubit lengan Revan saking kesalnya. Lelaki itu terbengong seperti baru pertama kali melihat bidadari.


"Revan!" panggil Alina untuk kedua kali. Lelaki itu baru tersadar. Revan mengusap lengannya.


Bukannya minta maaf karena sudah mengabaikan Alina, Revan malah tersenyum dengan binar kebahagiaan.


"Al, wanita cantik yang bersama Alvin itu benar Daniza, 'kan? Aku yakin itu Daniza. Aku tidak mungkin salah mengenali kalau wanita cantik itu adalah Daniza," ucap Revan dengan bangga. Alina merengut. Bibirnya maju beberapa centi.


"Memangnya kenapa kalau itu Daniza? Dia cuma perempuan kampungan yang disulap menggunakan MUA profesional! Aku juga bisa lebih cantik dari Daniza kalau tadi kamu tidak melarangku pergi ke salon dulu." Alina menatap jengkel.


"Tapi menurutku kecantikan Daniza terlihat alami. Entahlah … kenapa sekarang aku merasa Daniza cantik sekali?" Revan bermonolog sendiri seolah tak menganggap Alina ada di sampingnya. Alina hanya diam menahan geram.


Mereka baru saja baikan beberapa jam lalu, jadi ia tak mau berdebat atau mencari gara-gara. Apalagi sekarang mereka sedang ada di tempat umum.


Sementara Alvin merangkul pinggang Daniza cukup mesra. Daniza sangat gugup tetapi berusaha ditutupi dengan sikap tenang. Apalagi setelah menyadari semua mata sedang tertuju kepadanya.


Satu hal yang membuatnya terheran, mengapa Alvin disambut dengan sangat hormat di pesta malam itu. Bukankah ia hanyalah karyawan biasa? Daniza mendekatkan bibirnya ke telinga Alvin.


"Kak Alvin sedang menyamar jadi pewaris Alamjaya Group, ya?"

__ADS_1


Pertanyaan polos Daniza membuat Alvin gemas. Ingin rasanya ia menggigit bibir merah menggoda itu.


****


__ADS_2