
3 bulan berlalu ....
Kehidupan Daniza mengalami perubahan drastis. Ia bukan lagi wanita malang yang telah kehilangan segalanya. Alvin, kakak kelas yang dulu dianggap Daniza adalah raja iblis itu memberikan apapun yang tidak pernah dibayangkan Daniza sebelumnya.
Kata orang bijak, terkadang Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah sebelum mempertemukan dengan orang yang tepat. Daniza sudah membuktikan sendiri. Sebelumnya ia pernah berpikir bahwa setelah dibuang oleh suaminya sendiri, hidupnya akan berantakan dan menderita. Namun, takdir berkata lain karena justru menjadi awal kebahagiaannya.
Tak hanya kartu belanja tanpa batas dan fasilitas mewah lainnya, Alvin juga melengkapi kehidupan Daniza dengan kebahagiaan. Meskipun terkadang Daniza harus kerepotan karena Alvin sangat posesif dan cemburuan.
Seharian ini Daniza menghabiskan waktunya di apartemen. Ia sedang dibuat bingung dalam memilih paket bulan madu yang ditawarkan Alvin. Pernikahan mereka pun tinggal menghitung hari.
"Mbak Daniz, di depan ada tamu," panggilan Santi membuat Daniza menoleh.
"Siapa, Santi?" Dahi mulus Daniza berkerut. Sebab seingatnya, ia tidak memiliki janji temu dengan siapapun hari ini.
"Ibu Keshia, Mbak. Tantenya Den Alvin."
Daniza langsung merubah posisi dari yang semula berbaring terkurap di ranjang menjadi duduk. Raut wajah wanita itu pun spontan berubah. Masih begitu melekat dalam ingatannya bagaimana Tante Keshia mempermalukannya di pesta ulang tahun Mama Elvira beberapa bulan lalu.
Karena kejadian itulah Alvin marah besar dan memecat semua keluarga dan kerabatnya yang turut menertawai Daniza malam itu. Termasuk suami Tante Keshia yang menduduki posisi cukup penting.
"Mau apa Tante Keshia ke sini?" tanya Daniza takut-takut. Pikiran negatifnya langsung menebak bahwa Tante Keshia datang untuk mengatakan hal yang akan menyakitinya lagi. Terlebih, hingga kini Alvin belum juga memberinya maaf.
"Saya tidak tahu, Mbak. Beliau cuma bilang ada perlu dengan Mbak Daniz," jawab Santi, yang dapat menebak bahwa Daniza seperti orang yang sedang ketakutan. "Apa saya bilang saja kalau Mbak Daniz sedang sakit?"
Daniza terdiam sejenak. Menimbang dalam benak apakah dirinya siap bertemu Tante Keshia atau tidak. "Jangan, San. Tidak baik menghindar saat ada tamu. Siapa tahu benar-benar ada keperluan penting."
Bangkit dari tempat tidur, Daniza membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kardigan rajut. Sebab saat ini ia hanya menggunakan tank top yang cukup ketat berpadu dengan celana rumahan.
"Tolong buatkan minum dulu untuk Tante Keshia, ya."
"Baik, Mbak."
Setelah memastikan penampilannya tidak berantakan, Daniza segera menyusul keluar. Tante Keshia tampak sedang duduk berpangku tangan di ruang tamu. Meskipun dipenuhi keraguan, Daniza melangkah mendekat.
"Selamat siang, Tante," sapa Daniza yang terdengar begitu sopan di telinga Tante Keshia.
__ADS_1
"Selamat siang, Daniza," balasnya dengan ramah. "Maaf kalau kedatangan Tante ke sini mengganggu waktu kamu."
Tante Keshia membenarkan posisi duduknya. Sementara Daniza memilih duduk di sofa sebelahnya. Ia bahkan tidak berani duduk di sisi Tante Keshia, padahal wanita itu sengaja duduk di ujung.
"Ada apa ya, Tante?" tanya Daniza.
Terdiam beberapa saat, Tante Keshia seperti sedang memilih kata untuk diutarakan. Ia baru berani membuka suara setelah Santi meletakkan minuman ke meja dan kembali ke dapur. Namun, tentu saja Santi tetap akan mengawasi dari jarak aman. Sebab Alvin sudah berpesan untuk melaporkan apapun yang terjadi kepada Daniza.
"Tante ke sini untuk minta maaf sama kamu soal kejadian malam itu. Tante sangat menyesal. Tolong maafkan Tante, Daniz," mohon wanita itu. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Soal itu saya sudah tidak anggap masalah lagi, Tante. Jangan dipikirkan."
Tante Keshia meraih selembar tissue dan menyeka air mata yang meleleh. "Terima kasih, kamu baik sekali. Pantas Alvin sayang sekali sama kamu."
Daniza mengulas senyum tipis. Ia pun jadi tidak enak hati sebab Tante Keshia sampai menangis hanya untuk meminta maaf.
"Sebenarnya, tante juga mau minta tolong sesuatu kepada kamu."
"Minta tolong apa, Tante?" tanya Daniza.
"Daniz, apa kamu bisa membujuk Alvin untuk menerima kembali suami tante bekerja di perusahaannya? Kamu tahu kan, suami tante sudah tidak muda lagi dan akan sulit mencari pekerjaan baru. Tante yakin kalau kamu yang bujuk, Alvin akan luluh."
Terbukti dengan cintanya kepada Daniza yang tidak pernah berubah sejak dulu. Bahkan ia menolak semua perjodohan yang pernah ditetapkan untuknya dan membuat Mama Elvira kerepotan.
"Kalau soal itu saya tidak berani janji, Tante. Tapi saya akan coba bicara dengan Kak Alvin nanti."
Menghela napas panjang, Tante Keshia tampak lega. Besar harapannya agar Daniza dapat meluluhkan kerasnya hati Alvin.
*
*
*
Sesuai permohonan Tante Keshia, sore ini Daniza benar-benar mendatangi kantor Alvin dengan diantar sopir pribadinya. Daniza menatap bangunan super megah itu dengan takjub.
__ADS_1
Siapa sangka bahwa dulu ia bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor ini. Dan Alvin, yang kala itu mengaku sebagai staf biasa sebenarnya adalah bos besar pemilik perusahaan yang sekarang adalah calon suaminya.
Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki lagi di kantor itu setelah terakhir kali mengundurkan diri. Entah mengapa ia berdebar-debar, padahal di tangannya ada kartu akses yang diberikan Alvin kepadanya beberapa waktu lalu, agar Daniza bebas masuk ke ruangan direktur sekalipun.
Dua pria berseragam hitam langsung membungkuk hormat saat melihat Daniza hendak masuk. Sebagian karyawan kantor memang sudah tahu seperti apa rupa calon nyonya bos, karena foto Daniza sudah tersebar dan sempat menjadi buah bibir di kalangan staf kantor.
"Selamat pagi, Bu," sapa salah satu resepsionis.
"Selamat pagi, Mbak. Saya ke sini mau ketemu Pak Alvin," balas Daniza agak canggung.
"Pak Alvin ada di atas. Mari, saya antar, Bu."
Daniza mengulas senyum ramah. Ia masih ingat dengan resepsionis ini. Mereka lantas menuju sebuah lift khusus yang akan mengantar ke ruangan sang bos.
Sepanjang jalan, pandangan Daniza tertuju pada gedung-gedung tinggi di sekitar kantor. Karena dinding lift terbuat dari kaca transparan.
"Terima kasih, maaf merepotkan," ucap Daniza setelah tiba di depan ruangan Alvin.
"Sama-sama, Bu. Saya permisi." Wanita itu membungkuk hormat lalu beranjak pergi. Sementara Daniza diam mematung di ambang pintu.
Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas hanya dengan melihat pintu kokoh bertuliskan ruangan direktur utama itu. Rasanya seperti hendak menemui hakim dalam persidangan. Padahal makhluk di dalam adalah calon suaminya sendiri.
"Aduh, bagaimana ini?" Daniza bergumam sambil menggigit kuku.
Toilet di sudut ruangan pun menjadi tempat yang dipilih Daniza untuk menenangkan diri dan menghilangkan rasa gugup. Sudah beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan Alvin karena sedang dalam masa pingitan. Bahkan Mama Elvira sudah beberapa kali memperingatkan Alvin untuk tidak menemui Daniza sebelum hari pernikahan tiba.
Beberapa menit dihabiskan Daniza di dalam toilet. Setalah merasa lebih baik, ia pun hendak keluar. Namun, baru akan mendorong pintu sudah terdengar suara dua wanita yang sedang mengobrol.
"Apa kamu tahu calon istri Pak Alvin ternyata adalah Daniza? Aku dengar dia pernah bekerja di perusahaan ini sebagai CS," ucap salah satu di antara mereka.
"Yang benar?" balas satunya dengan nada terdengar sangat terkejut.
"Iya. Dia beruntung sekali loh. Aku dengar Daniza itu janda, dia pernah diceraikan suaminya dan diusir dari rumah."
Mendengar obrolan itu, Daniza menarik napas dalam. Tangannya mulai berkeringat. Ternyata jalan tidak semulus itu untuk menikah dengan Alvin. Ada banyak berita yang beredar tentang dirinya.
__ADS_1
"Ya ampun enak sekali jadi dia. Dibuang suami dan dinikahi boss?"
...****...