
Santi terlonjak saat mendapati Alvin mematung di ambang pintu kamar mandi. Wanita itu tampak mengusap dada berkali-kali sambil dengan mulut seperti membaca mantra.
"Den Alvin bikin kaget saja," ucap wanita itu.
"Kamu yang bikin kaget, kamu pikir saya hantu?"
"Bukan begitu. Den Alvin berdiri di situ, jadi saya kaget."
Alvin menatap Santi yang malam itu keluar kamar dengan menggunakan sweater seperti hendak keluar. "Kamu mau ke mana?"
"Mau ke mini market sebelah, Den. Mau beli sesuatu."
"Oh ...." Alvin mengangguk paham. Tepat di samping apartemennya memang ada minimarket. Jadi ia tidak perlu khawatir jika Santi keluar sendiri di malam hari. Selain itu, ada petugas keamanan yang berjaga di depan apartemen.
"Den Alvin mau titip sesuatu?" tawar Santi.
"Tidak, terima kasih. Kamu ada uangnya?"
"Ada, Den! Den Alvin 'kan selalu kasih lebih ke saya," jawab wanita itu. Sejak bekerja untuk menemani Daniza, Alvin memang menambah gaji Santi dua kali lipat dari gaji saat bekerja di rumah Mama Elvira.
"Ya sudah, hati-hati."
Wanita itu menunduk hormat sebelum akhirnya menuju pintu.
Sementara di dalam sana, sudah cukup lama Daniza menghabiskan waktu di kamar mandi. Entah mengapa air mata seperti enggan berhenti mengalir. Sekarang matanya tampak sembab dan merah.
Setelah sekian lama, Daniza baru menyadari perasaannya sendiri justru di saat segalanya sudah terlambat. Alvin tak lagi begitu peduli terhadapnya. Mungkin sudah bosan. Selain itu, beberapa waktu lalu Ibu Elvira sendiri mendatanginya dan meminta untuk menjauhi Alvin.
Lalu, apa lagi yang Daniza harapkan? Ia sudah kehilangan Alvin. Mungkin setelah ini Ibu Elvira akan menjodohkan putranya dengan Dokter Mila. Dan Daniza akan kembali patah hati melebihi saat dikhianati Revan dan Alina.
__ADS_1
"Daniz, kamu masih lama di kamar mandi?" Sapaan yang berasal dari luar membuyarkan lamunan Daniza.
"Tidak!"
Wanita itu menyeka air mata yang sialnya terus saja mengalir. Kemudian menarik napas dalam-dalam demi menguatkan hatinya yang rapuh. Apakah benar ia akan sanggup melepas Alvin?
Setelah memastikan dirinya mampu membendung air mata, Daniza segera bangkit dan membuka pintu.
Sudut mata Alvin tampak berkerut menatap mata Daniza yang sembab dan merah. Namun, Daniza membuang pandangan ke arah lain demi menyembunyikan kepedihan hati yang memancar jelas di matanya.
"Kamu kenapa nangis? Perutnya masih sakit?" tanya Alvin.
Daniza menjawab dengan gelengan kepala lemah. "Kenapa Kak Alvin masih di sini?"
"Aku cuma mau memastikan kamu tidak apa-apa." Ia melirik ke arah jam dinding.
Daniza kembali meradang karena merasa Alvin lebih memilih pulang dibanding menemani dirinya. "Aku tidak apa-apa! Kak Alvin pulang saja! Mulai sekarang tidak usah peduli padaku lagi!"
"Sebenarnya kamu maunya apa sih?" pekik Alvin. Membuat tubuh Daniza tersentak.
"Maksud Kak Alvin apa?" Suara Daniza terdengar gemetar.
"Kamu minta aku pergi dan menjauh dari kamu? Kenapa?" Alvin berkata penuh tekanan. Daniza memberanikan diri mendongak dan menatap manik hitam laki-laki itu. Rasa sakit kembali menjalar, ini adalah pertama kali Alvin membentaknya penuh amarah.
Membuatnya terpaku di tempat. Tiba-tiba lidahnya terasa kaku. Apalagi kini Alvin mencengkram kedua lengannya seperti beberapa waktu lalu saat memaksa menciumnya.
"Aku kurang apa di mata kamu, Daniz? Sampai sekarang kamu tidak pernah sedikit pun menganggap aku ada. Kamu tidak pernah memikirkan sakitnya aku kehilangan kamu selama bertahun-tahun! Bagaimana cemburunya aku melihat kamu masih mencintai laki-laki lain, padahal ada aku yang rela memberikan apapun untuk kamu!"
Air mata Daniza kembali berurai. Tak ada kata yang dapat terucap dari bibirnya yang pucat dan kering. Sebab Alvin meluapkan seluruh isi hatinya penuh emosional.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan lagi supaya kamu mengerti seberapa berartinya kamu untuk aku? Kenapa untuk hal seperti itu saja begitu sulit kamu pahami?"
Alvin menarik napas dalam demi mengendalikan diri. Jika tidak, ia bisa saja lepas kendali dan membuat Daniza ketakutan seperti sebelumnya.
"Mungkin aku benar-benar tidak ada artinya di mata kamu. Aku minta maaf kalau aku terlalu memaksa selama ini."
Perlahan cengkraman Alvin merenggang. Ia menjauhkan tubuhnya perlahan. Tanpa kata, ia segera membelakangi Daniza, kemudian berjalan menuju pintu. sementara Daniza bungkam dalam tangis. Ia hanya dapat menatap nanar punggung tegap lelaki itu.
"Kak Alvin!" panggil Daniza.
Tertatih-tatih ia melangkah menyusul. Sebelum Alvin membuka pintu, ia sudah menabrakkan tubuhnya pada punggung tegap dan melingkarkan tangan di pinggang laki-laki itu.
"Aku minta maaf, jangan tinggalkan aku! Aku butuh kamu di sini," lirih Daniza.
Alvin membeku. Menatap sepasang tangan lemah yang melingkar kuat di pinggangnya. Isak tangis Daniza membuat pertahanannya jebol. Ia membalikkan tubuhnya dan memeluk Daniza seerat-eratnya.
Untuk beberapa saat keduanya larut dalam posisi saling memeluk. Seolah tidak ingin lagi terpisah. Daniza menyandarkan kepala di dada Alvin hingga dapat mendengar detak jantungnya yang cepat. Menyelami kedamaian dan kehangatan dalam pelukan lelaki itu.
"Aku sangat mencintai kamu, Daniz!" bisik Alvin lembut.
"Aku juga."
Rasanya Alvin akan melayang detik itu juga. Seperti baru saja mendapat sebuah hadiah besar. Penantiannya selama ini telah terwujud. Tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan betapa bahagia hatinya.
Tangannya yang lebar bergerak naik turun mengusap puncak kepala dan punggung. Alvin dapat merasakan tubuh Daniza yang lemah sepertinya tidak kuat lagi untuk berdiri.
"Kita lanjut di kamar saja, ya?"
Daniza mengangguk. Membuat Alvin menggendongnya menuju kamar.
__ADS_1
...******...