Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Apa Kamu Menyesal?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang belum ada pembicaraan antara Alina dan Revan. Keduanya saling diam satu sama lain. Revan memilih fokus mengemudi. Sementara Alina memainkan ponsel super mahal yang pernah dibeli Revan untuknya sebagai hadiah ulang tahun. Ia sedang saling berkirim pesan dengan teman se-gengnya.


Alina terdiam sambil membolak-balikkan ponsel. Ia ingat dua tahun lalu saat pertama kali berpacaran dengan Revan. Kala itu Revan belum memiliki apa-apa dan masih berstatus sebagai asisten pribadi ayah Daniza. Kala itu keduanya memutuskan untuk menyembunyikan hubungannya.


"Kamu sekarang berubah sama aku, Rev. Tidak seperti dulu lagi." Alina membuka suara. Memecah kebekuan malam itu.


Memilih untuk diam, Revan tak menjawab demi menghindari pertengkaran yang lebih buruk. Ia sudah dipusingkan dengan kelakuan Alvin yang membawa pergi Daniza. Dan Revan tidak ingin dipusingkan lagi dengan pertengkaran dengan Alina.


"Rev, kenapa kamu diam saja!" Alina menaikkan suaranya. Ia tidak pernah bisa menerima jika Revan mengabaikan dirinya.


"Lalu aku harus menjawab apa, Al?" Revan menghela napas panjang. Ia terlihat sangat malas untuk berdebat dengan Alina.


"Kamu benar-benar sudah berubah sejak Daniza pergi dari rumah! Padahal saat aku mengusir dia kamu diam saja dan tidak membelanya." Alina terkekeh sinis. Pada saat yang sama sepasang bola matanya tergenang cairan bening.


Alvin sadar sikapnya selama beberapa waktu ini memang sangat berubah terhadap Alina. Tetapi, semua itu disebabkan oleh Alina sendiri. Alina sangat posesif, mudah marah, dan cemburuan.


"Kamu yang sudah membuat aku berubah, Al."


Sorot mata menghujam Alina mengarah kepada Revan saat itu juga. Tidak terima disalahkan, Alina mencengkram kuat lengan kekasihnya itu. "Apa maksud kamu? Aku yang membuat kamu berubah?"


"Iya. Kamu membuat aku jenuh dengan sikap kamu yang kadang berlebihan!"


Alina benar-benar tidak percaya bahwa kalimat menyakitkan itu akan terlontar dari mulut Revan.


"Padahal kamu sendiri yang meminta aku menunggu. Tapi sekarang kamu seperti mengabaikan aku dan itu semua hanya karena Daniza!" Alina menyeka air mata yang sudah jatuh membasahi pipi mulusnya. "Atau jangan-jangan kamu memang sudah jatuh cinta dengan dia?"


"Sudahlah, Al!" bentak Revan yang tak ingin pertengkaran mereka terus berlanjut. "Jangan membuat aku menyesal karena diam saja saat kamu mengusir Daniza dari rumah. Karena kalau itu terjadi, mungkin aku akan memintamu untuk meninggalkan rumah orang tua Daniza."

__ADS_1


Melihat keseriusan dalam setiap kata yang terucap dari bibir Revan, Alina pun memilih diam. Revan cukup menyeramkan saat marah dan Alina tidak ingin menguji kesabaran laki-laki itu.


Setelah hampir setengah jam perjalanan, mobil yang dikemudikan Revan memasuki halaman sebuah rumah mewah, setelah seorang penjaga membuka gerbang.


Alina segera membuka pintu mobil. Tanpa berpamitan dengan Revan, ia berlari kecil memasuki rumah sambil terisak-isak. Sikap Revan sangat melukai hatinya.


Revan sendiri memilih tidak menyusul. Hari ini mood-nya sangat hancur. Revan pun pergi meninggalkan rumah itu. Ia memilih pergi ke sebuah kelab malam dan bersenang-senang dengan teman-temannya.


"Daniza ... apa yang harus kulakukan agar dia mau kembali kepadaku?" Revan bergumam dengan suara berat, sambil menatap gelas berisi minuman beralkohol di tangannya. Entah sudah berapa gelas yang ia habiskan. Kesadarannya mulai berkurang. Pandangannya pun memburam. Ia merasa sekeliling terasa berputar.


"Alvin Alexander ... lihat saja nanti apa yang akan kulakukan kepadamu! Aku tidak akan membiarkan Daniza jatuh ke tanganmu!"


*


*


*


"Argh!" teriak Alina, menghempas benda apapun yang ada di sekitarnya.


Pecahan kaca berhamburan di mana-mana. Kamar yang tadinya bersih dan rapih mendadak bagai diterjang badai. Seprai dan bantal berserakan di lantai. Alina yang malam ini begitu kesal dan kecewa dengan Revan, mengamuk membabi buta bagaikan telah kehilangan akal sehatnya.


Ia berteriak, menangis dan meraung. Bahkan asisten rumah tangga yang mendengar suara pecahan kaca dari kamar majikannya tidak berani mendekat.


Salah satunya bahkan sudah menghubungi Revan untuk memberitahu apa yang dilakukan Alina di kamar. Namun, Revan tak menjawab panggilan itu. Membuat dua asisten rumah tangga itu kebingungan sendiri.


Tadinya, Alina pikir setelah berhasil menyingkirkan Daniza hidupnya akan bahagia bersama Revan. Menikah dan tinggal di rumah itu, serta menikmati segala fasilitas yang ada. Namun, ternyata semua tak sesuai harapannya. Bukannya hidup bahagia, ia malah semakin menderita.

__ADS_1


Dulu, ia hanya memendam rasa iri melihat Daniza termanjakan dengan kehidupan serba mewah. Tinggal di sebuah rumah yang luas bagaikan istana. Hingga rasa iri itu mengakar di hatinya dan ingin merebut apa yang dimiliki oleh sepupunya itu. Ia bahkan berselingkuh dengan Revan demi memuluskan ambisinya.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini!" pekik Alina. Sebuah bingkai foto dirinya bersama Revan ia hempas ke lantai hingga pecahannya berhamburan.


Alina benar-benar merasa hancur sekarang. Tiba-tiba ia ingat ucapan Alvin tadi di hotel. Alina mungkin menyesal telah memaksa Revan untuk membawa serta dirinya menghadiri ulang tahun perusahaan Alvin. Karena Alvin seperti menjatuhkan bom di dalam kehidupannya.


"Aku harus bagaimana sekarang?" Alina berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku-kukunya yang terawat. "Bagaimana kalau ternyata Alvin tahu apa yang sudah kulakukan?"


Alina menjatuhkan tubuhnya di ujung tempat tidur. Dengan gemetar ia menjambak rambut panjangnya yang memang sudah tampak berantakan.


"Tapi dari mana dia tahu? Aku yakin tidak ada yang melihatku masuk ke rumah kontrakan Daniza!"


Alina mencoba mengingat malam di mana ia mengikuti Daniza yang baru pulang kerja. Diam-diam ia masuk ke dalam dan memanfaatkan keadaan Daniza yang tengah terlelap. Alina mencampur kan obat ke dalam minuman Daniza.


Alina pikir keadaan malam itu cukup aman baginya karena keadaan sangat sunyi. Tetangga juga tidak ada yang keluar rumah. Selain itu, ia memarkir mobil agak jauh dari rumah Daniza demi menghindari kecurigaan. Lalu, bagaimana Alvin bisa tahu?


"Kartu As? Kartu As apa yang dipegang Alvin?" Alina kembali menjambak rambutnya sendiri. Ia mencoba meyakinkan diri bawa semua ucapan Alvin hanyalah ancaman semata.


Namun, nyatanya ucapan Alvin telah berhasil membuat Alina ketakutan. Benar kata Alvin tadi, bahwa malam ini Alina tidak akan bisa tidur nyenyak.


Buktinya, hingga larut malam tiba, Alina belum dapat terpejam. Bayang-bayang dirinya terkurung di balik jeruji besi memenuhi pikirannya. Demi apapun ia tak mau jika harus berakhir di tempat mengerikan seperti penjara.


"Aku harus mencari tahu tentang semuanya. Aku tidak bisa seperti ini terus." Alina bergumam dalam pencahayaan kamar yang temaram.


Sepanjang malam, ia sangat gelisah.


****

__ADS_1


__ADS_2