
Tubuh Daniza semakin gemetar setelah membaca pesan dari Alvin. Meskipun isi pesan yang dikirim lelaki itu hanya untuk menanyakan keberadaan, namun tetap membuat jantungnya berpacu lebih cepat.
Posisi duduknya semakin tidak tenang, Daniza menggigiti kuku-kukunya yang terawat. Memikirkan apakah Alvin sudah tahu tentang sejumlah uang yang dikeluarkannya untuk mempermalukan Alina.
"Aku harus bagaimana sekarang?"
Nyali Daniza menciut. Untuk sekedar membalas pesan pun tak berani. Yang ia lakukan hanya memandangi layar ponsel yang masih menyala. Dan tanpa disadari olehnya malah membuat Alvin merasa diabaikan.
Tak berselang lama, deringan ponsel tanda panggilan masuk membuat wanita itu terlonjak. Sepasang bola matanya membulat penuh saat melihat nama yang tertera pada layar.
"Kak Alvin?"
Kenapa aku merasa seperti ditelepon malaikat maut?
*
*
*
Sementara itu di tempat lain
Alina masih dipenuhi rasa kesal setelah kejadian memalukan di pusat perbelanjaan tadi. Sekarang ia tak dapat berbuat apa-apa tanpa kartunya.
Tak mau menunda waktu, Alina gagas menuju kantor kekasihnya itu. Dengan tujuan menanyakan alasan apa yang membuat Revan memblokir kartunya tanpa pemberitahuan.
"Berani-beraninya Revan memblokir kartu kreditku! Apa dia lupa dengan semua yang sudah kulakukan untuknya? Aku sudah sabar menunggunya menceraikan Daniza selama ini," gumam Alina begitu keluar dari mobil.
Begitu tiba di lobi, ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift khusus untuk ke ruangan Revan. Namun, langkahnya harus terhenti oleh seorang resepsionis yang tiba-tiba menghadang.
"Ada apa?" ketus Alina dengan sorot tak bersahabat.
"Maaf, Mbak Alina mau ke mana?"
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat amarah terasa menembus ubun-ubun. "Seharusnya kamu tidak perlu tanya saya mau ke mana! Ini bukan pertama kali saya ke sini!"
"Saya tahu, Mbak Alina. Tapi maaf ... Pak Revan berpesan agar hari ini tidak diganggu siapapun."
Sontak Alina menoleh. Menatap angkuh resepsionis bernama Sarah itu sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
"Apa kamu bilang? Memangnya kamu tidak tahu siapa saya? Kamu mau dipecat dari perusahaan ini?"
"Ini perintah Pak Revan sendiri, Mbak!"
Alina menghembuskan napas panjang. Kesabarannya semakin terkikis. "Perintah bos kamu tidak berlaku untuk saya! Kamu harus lihat dulu siapa orang yang sedang kamu ajak bicara!" bentak wanita itu agak murka. Alina merogoh ponselnya untuk menghubungi Revan.
"Saya hanya menjalankan perintah. Karena tadi Pak Revan berkata siapa pun tidak boleh ke atas."
"Asal kamu tahu ya, saya calon istrinya Revan! Saya yakin kamu tidak buta, kamu pasti sering melihat saya keluar masuk kantor ini," bantah Alina.
Sang resepsionis hanya menunduk dan tak berani menyahut. Hubungan Revan dan Alina memang sudah menjadi rahasia umum di kalangan karyawan kantor. Banyak gosip miring yang beredar tentang mereka.
"Maaf, Mbak. Bukannya saya lancang, tapi yang saya tahu istri Pak Revan itu Nona Daniza!" Ucapan wanita itu pun membuat Alina murka.
"Baru jadi resepsionis saja sudah songong! Saya akan beritahu Revan tentang kekurang-ajaran kamu ini!" ancamnya.
Merogoh tas miliknya, Alina segera menghubungi Revan. Sialnya, laki-laki itu sama sekali tak menjawab panggilan.
"Ini Revan ke mana sih?" gumamnya sambil menatap layar ponsel dengan kesal.
Alina sedikit ragu. Mau ditaruh di mana harga dirinya jika Revan benar-benar tidak mengizinkannya ke atas?Jelas ia tidak mau kalah dengan karyawan bawahan sekelas resepsionis.
"Hubungi Revan sekarang juga dan beritahu saya ada di sini?" perintahnya tanpa basa-basi.
Sarah terdiam di tempat.
"Cepat! Kenapa malah diam? Kamu mau saya adukan ke Revan agar kamu langsung dipecat?"
__ADS_1
"Maaf, Mbak. Saya mohon jangan!" jawabnya terbata. Tak punya pilihan, Wanita berseragam hitam itu menuruti perintah Alina. Ia segera berjalan menuju meja resepsionis dan menghubungi sang bos. Hanya dalam hitungan detik, panggilan terhubung.
Alina merasa hawa panas menjalar di tubuhnya. Revan yang kurang ajar mengabaikan panggilannya, namun sangat cepat menjawab panggilan resepsionis.
"Selamat siang, Pak, saya mau memberitahu ...." Belum sempat wanita itu melanjutkan perkataannya, gagang telepon sudah direbut Alina.
"Revan!" Suara Alina bak petir di siang bolong, membuat Sarah merasa raganya nyaris loncat begitu mendengar teriakan wanita gila tersebut.
Ampun, ini manusia apa Nenek Lampir? gerutunya dalam hati.
"Aku ada di lobi! Tapi resepsionismu ini bilang aku tidak boleh masuk."
Hela napas berat terdengar dari sana. "Iya, tadi aku memang memintanya menghalangi siapa pun yang mau ke ruanganku."
"Jadi aku juga tidak boleh?" Tak mau kehilangan muka di hadapan Sarah, Alina memutar otak. Ia merengek manja agar terkesan diprioritaskan oleh lelaki itu. "Aku tidak mau tahu, Rev. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan kamu sekarang juga! Atau jangan-jangan kamu sedang ada tamu wanita di lain, ya?" tanyanya curiga.
"Apa si, Alina? Aku memang sedang sibuk," jawab lelaki itu semakin malas.
"Pokoknya aku mau ke ruangan kamu!" Wanita itu sengaja mengeraskan suara, membuat wanita di sebelahnya geleng-geleng kepala.
"Ya sudah naik saja!" jawab Revan pasrah.
Alina mengulas senyum kemenangan, lalu menyerahkan gagang telepon ke tangan Sarah. "Nih, bicara sama bos kamu!"
Begitu terhubung dengan Revan, Sarah mengangguk sopan, mengiyakan permintaan Revan lalu kembali menutup telepon.
"Silakan langsung ke lift. Mbak Alina sudah diperkenankan masuk. Maaf jika tadi saya melakukan kesalahan," ucapnya sambil membungkuk sedikit.
"Awas saja, aya akan meminta Revan untuk memecat kamu!"
Setelah mengucapkan kalimat ancamannya, Alina melenggang dengan angkuh menuju lift. Sementara Sarah hanya dapat menghela napas panjang sambil menggerutu.
Dasar Mak Lampir! Pelakor tidak tahu diri!"
__ADS_1
****