
Pagi harinya, Mama Elvira masih terlelap ketika samar-samar mendengar suara lenguhan kecil. Hal yang memaksanya untuk segera membuka mata.
"Alvin?" Ia segera bangkit dari pembaringan, setelah sebelumnya membangunkan Eric dengan mengguncang bahu sangat pelan. Eric pun segera terbangun menyusul Mama Elvira.
"Mama ...." Suara lenguhan lemah Alvin kembali terdengar, menciptakan genangan air di bola mata sang mama, begitu pun dengan Eric. Pria itu sigap menekan alarm pemanggil dokter yang tersedia di sisi pembaringan.
"Alvin, kamu sudah sadar, Nak?" bisik Mama Elvira.
Alvin membuka mata perlahan, meskipun tampak masih belum sadar sepenuhnya.
"Ini sakit, Mah." Sebelah tangan Alvin bergerak lemah hendak menyentuh bagian dada.
"Iya, Nak. Tunggu, dokter sebentar lagi datang." Mama Elvira menjatuhkan air mata. Ada rasa syukur yang besar dalam hati melihat Alvin sudah tersadar.
"Sakit!" lirihnya lagi, sehingga Eric mengusap bagian yang dikeluhkan Alvin. Sangat pelan dan hati-hati agar Alvin tidak semakin kesakitan.
"Mama tahu kamu kesakitan. Tapi kamu harus kuat, Vin. Sabar ya, Nak!"
"Jangan banyak gerak dulu, Vin!" tambah Eric.
Hanya dalam hitungan menit, beberapa tim dokter yang khusus menangani Alvin sudah masuk ke dalam ruangan. Mereka langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh. Selama diperiksa, Alvin beberapa kali mengeluhkan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya.
Melihat itu, Mama Elvira merasa hatinya seperti disayat-sayat. Beruntung, Eric selalu ada di sisi sang mama dan berusaha menguatkannya.
"Sabar ya, Tante. Kita harus kuat untuk Alvin," ucapnya seraya menghapus lelehan air mata di pipi Mama Elvira.
"Iya, Ric."
Sambil memeriksa, sesekali tim dokter tampak berdiskusi dengan serius. Sebab Alvin sama sekali belum dapat berkomunikasi, selain mengeluh kesakitan. Salah satu dokter pun memberikan obat melalui suntikan.
Hingga akhirnya, Alvin kembali tertidur.
__ADS_1
"Pasien sudah melewati masa kritis. Tapi, masih harus tetap dipantau. Kami baru saja memberikan penenang dan penahan sakit. Dia akan baik-baik saja begitu terbangun nanti," jelas sang dokter.
"Terima kasih, Dokter," balas Eric.
Mama Elvira pun bernapas lega. Setidaknya rasa takut dan khawatir sedikit berkurang.
*
*
*
Daniza merasakan jantungnya terpompa lebih cepat melewati ruas jalan Kota Paris menuju rumah sakit tempat suaminya dirawat. Setelah mendapat kabar dari Eric bahwa Alvin sudah siuman, Daniza bergegas menyusul ke rumah sakit. Tadinya, Eric ingin menjemput, tetapi Daniza yang sudah tidak sabar memilih segera ke rumah sakit dengan menggunakan taksi.
Hatinya kini dipenuhi rasa syukur. Tidak ada yang lebih membahagiakan saat ini selain mendengar Alvin sudah tersadar dari tidur panjangnya.
"Tolong lebih cepat, Pak!" pinta Daniza kepada sang sopir, dengan menggunakan bahasa seadanya.
Sementara itu, di rumah sakit ....
Perlahan Alvin membuka mata setelah tidur selama tiga jam. Obat yang diberikan dokter bersinergi dengan baik dengan tubuhnya. Terbukti, sekarang ia merasa jauh lebih baik dibanding saat pertama kali terbangun beberapa jam lalu.
"Kamu masih merasa sakit, Nak?" tanya Mama Elvira. Hendak memastikan kondisi putranya baik-baik saja.
"Sedikit sakit di dada, Mah." Suara Alvin terdengar tak bertenaga. Dalam keadaan setengah sadar, ia melirik sang mama, kemudian menyoroti sekeliling kamar sambil bertanya dalam hati apa yang membuatnya bisa berada di tempat itu, sebab segalanya masih terasa tersamar dalam ingatan. "Aku kenapa, Mah? Kenapa di sini?"
"Kamu habis kecelakaan mobil. Tapi kamu akan baik-baik saja. Kamu butuh sesuatu, Nak? Atau mau mama panggilkan dokter lagi untuk memeriksa kamu?"
"Nggak usah. Aku mau ditemani mama aja," tolak Alvin. Setidaknya sakit yang ia rasakan sekarang tak seperti pagi tadi.
"Biar mama panggil dokter dulu. Sebentar, ya."
__ADS_1
Begitu Mama Elvira keluar dari ruangan, bersamaan dengan Eric yang juga baru akan masuk. Melihat Alvin sudah terbangun, Eric tampak sangat bahagia. Pria itu langsung mendekati pembaringan pasien.
"Kamu sudah bangun, Vin? Kamu bisa lihat aku, kan?" tanya Eric. Matanya berkaca-kaca. Jika tidak ingat Alvin sedang kesakitan, ia pasti sudah memeluknya erat.
Desakan pertanyaan dari Eric berhasil membakar kekesalan Alvin.
"Apaan sih, Nyet? Lebay!" gerutu Alvin sembari menahan sakit.
Makian Alvin membuat Eric bernapas lega. Setidaknya hal itu menegaskan bahwa ia baik-baik saja. 'Nyet' adalah panggilan yang biasa disematkan Alvin kepada Eric atau Eric kepada Alvin di masa SMA dulu.
"Ini orang sakit sempat-sempatnya memaki."
"Lagian udah tahu masih sakit, ditanya terus!" sambar Alvin.
Eric terkekeh. "Syukur, deh. Bisa memaki artinya kamu sudah sehat dan bisa tawuran lagi."
Alvin memejamkan mata sejenak. Kemudian kembali menatap Eric dengan penuh selidik. "By the way ... Kamu beneran Eric, kan?"
"Kamu pikir siapa, Dodol?"
"Oh ... soalnya kamu kelihatan tua banget." Sesekali Alvin menatap tubuhnya yang masih dipenuhi alat medis. Ia tampak bingung menatap laki-laki di sisinya. Pikirannya sempat dipenuhi pertanyaan sudah berapa lama tak sadarkan diri, mengapa Eric dan mama terlihat lebih tua dari usianya. "Memang aku tidur berapa lama?"
"Sudah mau lima hari! Tante Elvira sampai nangis-nangis tungguin kamu bangun.
"Lama juga ternyata!" Alvin bergumam lirih. Sorot matanya tertuju pada pintu di mana Mama Elvira baru datang bersama seorang dokter. "Mah, kita pulang aja yuk! Aku sudah mendingan sekarang."
"Jangan bercanda, Vin! Kamu baru sadar dari koma. Luka-lukanya juga belum sembuh," tolak sang mama.
"Kan bisa sambil rawat jalan. Kalau kelamaan di sini bisa di DO dari sekolah. Mana kemarin satu minggu bolos, tambah lagi lima hari pingsan di sini! Lagian kenapa bisa kecelakaan, sih?"
Keluhan panjang Alvin membuat Mama Elvira dan Eric saling pandang dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
...****...