
Ucapan selamat dari berbagai pihak diterima Alvin dan Daniza malam ini. Banyak kerabat yang turut memberikan doa dan hadiah. Tak hanya teman dan kerabat, beberapa musuh lama pun bermunculan kembali.
Tidak sedikit yang terkejut mendengar kabar pernikahan keduanya. Sebab sepengetahuan sebagian orang, Daniza adalah objek bagi Alvin dalam mempraktekkan kenakalan. Dan salah satu yang datang malam ini adalah Ruben, orang yang pernah merasakan betapa bandelnya Alvin di masa remaja.
"Selamat ya, Vin! Akhirnya kamu menikah juga." Ruben mengulurkan tangan kepada Alvin, tetapi sorot matanya justru mengarah kepada Daniza.
Hal itu membuat Alvin meradang. Jika saja di sisinya tidak ada Mama Elvira, kepalan tinju pasti sudah melayang.
"Terima kasih," balasnya datar.
Tatapan Ruben kemudian berpindah ke Mama Elvira. Ia menyalami wanita itu dengan penuh hormat. "Selamat ya, Tante. Akhirnya anak Tante menikah juga."
"Terima kasih, Ruben. Semoga kamu cepat menyusul," goda Mama Elvira.
"Maunya sih gitu, Tante. Tapi sayang gebetannya diambil orang duluan." Ruben mengulas senyum ramah, lalu hendak menyalami Daniza, tetapi Alvin langsung menepis tangan lelaki itu.
Jangan harap bisa menyentuh Daniza! Begitu tatapan Alvin berbicara. "Yang ini nggak usah, bukan mahram kamu!"
Untuk kali ke dua Ruben berdecak. Tingkah Alvin yang posesif dan cemburuan akut itu terasa sangat berlebihan baginya. "Ya sudahlah. Selamat ya, Daniz. Kamu pasti tidak menyangka kalau cowok yang dulu suka jahatin kamu ternyata adalah jodohmu."
Daniza memilih diam dan mengabaikan ucapan Ruben.
"Jahat?" Mama Elvira menyambar begitu saja. "Memang Alvin jahat bagaimana sama Daniza, Ben?"
Sontak Alvin dan Ruben saling pandang. Ruben dapat merasakan bahwa atmosfer di wajah Alvin berubah dalam sekejap.
"Jangan macam-macam kamu! Belum puas diikat di gorong-gorong?" ancam Alvin tanpa suara. Tetapi Ruben dapat membaca melalui gerakan bibirnya. Tetapi, sepertinya laki-laki itu sengaja ingin membuka kisah masa lalu untuk sedikit membalas perbuatan Alvin kepadanya.
"Memangnya Tante nggak tahu?" tanya Ruben sok polos.
Mama Elvira memindai Alvin dan Daniza secara bergantian. Sebab setahunya dulu di masa sekolah Alvin memang kerap mem-bully Daniza. Tetapi semua itu dilakukan semata untuk mencari perhatian.
Daniza yang menyadari situasi lantas melingkarkan tangan di lengan suaminya, seolah memberi isyarat agar Alvin menahan diri. Daniza tahu Ruben masih menyimpan dendam.
__ADS_1
"Mah, aku kan sudah pernah cerita kalau Mas Alvin dulu sering jahil sama aku karena cemburu," ucap Daniza membela suaminya. "Iya kan, Mas?"
"Iya, Sayang." Sudut bibir Alvin terangkat membentuk senyum penuh bangga mendengar panggilan mesra yang disematkan Daniza untuknya. Dari yang semula 'kakak' menjadi 'mas'.
Sekarang sepasang suami istri baru itu malah memamerkan kemesraan di depan Ruben dengan saling bergandengan.
Ruben merasa hawa panas seakan melahap habis seluruh tubuhnya. Tak ingin berlama-lama, ia pun pamit untuk mencari hiburan lain. Kebetulan hotel menyediakan satu ruangan bebas rokok.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Tante, Alvin, Daniza, sekali lagi selamat. Semoga bahagia selalu."
Setelah kepergian Ruben, barulah Alvin bernapas lega. Setelah menyalami tamu-tamu lain, laki-laki itu mengendurkan dasi yang terasa melilit lehernya. Sudah beberapa jam mereka berdiri di panggung. Daniza juga sudah terlihat mulai lelah.
Keramaian pun mulai berkurang karena sebagian tamu sudah pulang setelah pengumuman undian door prize. Sekarang sedang dilakukan sesi foto untuk keluarga besar.
*
*
*
"Lumayan. Kaki aku pegal." Tangan Daniza terulur ke bawah dan memijat betis di balik gaun indah yang membalut tubuhnya.
"Kayaknya sudah bisa istirahat. Tamunya kan tidak banyak lagi," usul Alvin. "Coba sepatunya dibuka saja, biar kamu enakan."
Daniza lantas melepas sepatu yang dikenakannya. Berdiri dengan heels selama berjam-jam membuat kakinya terasa pegal.
"Mah, sudah boleh ke kamar, kan? Sepertinya Daniz butuh istirahat," bisik Alvin kepada sang mama.
Sejenak, Mama Elvira melirik Daniza. Wajah wanita itu memang terlihat cukup lelah. "Iya, boleh. Kalian bisa langsung ke kamar. Mama panggil orang WO dulu, ya."
Kebetulan hotel mewah tempat digelarnya resepsi pernikahan memang menyediakan kamar pengantin eksklusif untuk pasangan pengantin. Ada pula beberapa kamar khusus untuk keluarga mempelai.
Daniza pun dibantu beberapa pekerja WO untuk kembali ke kamar. Sebab gaun panjang yang dikenakannya cukup berat, sehingga harus dibantu.
__ADS_1
Memasuki kamar pengantin, pandangan Daniza berkeliling. Hatinya berdecak kagum melihat kamar yang dihias begitu indah dengan kelopak bunga yang ditabur di tempat tidur dan lantai. Dulu pernikahannya dengan Revan tidak digelar semewah ini.
Ia langsung mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, sambil memperhatikan beberapa fasilitas mewah yang disediakan pihak hotel. Presidential suite itu menawarkan panorama kota dan laut yang sangat indah.
"Aduh ...." Daniza meringis menyentuh perutnya yang sejak tadi terasa nyeri.
Melihat itu, Mama Elvira pun mendekat. "Kamu kenapa, Nak?"
"Perut aku agak kram, Mah."
"Kram? Kenapa tidak bilang dari tadi?" protes sang mama.
"Tidak enak, tadi masih banyak tamu," jawab Daniza. "Makanya dari tadi aku tahan."
Alvin yang belum paham langsung duduk di sisi Daniza. "Apanya yang ditahan? Kamu mau BAB?"
"Bukan." Ia kembali menekan perut ketika merasakan denyutan. "Aduh, aku harus ganti baju. Kayaknya mau keluar deh, Mah."
"Apanya yang keluar, sih? Belum juga diapa-apain udah main keluar aja," sambar Alvin dengan polosnya.
Mama Elvira yang paham dengan perkodean wanita refleks mengatupkan bibir. Bisa ia bayangkan akan sekesal apa Alvin malam ini. Malam yang telah dinantikan sepertinya akan berakhir dengan palang merah yang membentang.
Mama Elvira dan dua orang WO akhirnya membantu Daniza melepas pakaian. Kini Daniza sudah menggunakan jubah mandi. Sementara Alvin masih duduk santai di sofa sambil memainkan ponsel. Ia sedang berkirim pesan dengan Eric.
Dua orang wanita karyawati WO sudah keluar, menyisakan Mama Elvira dan sepasang pengantin baru itu. Mama Elvira pun tampak sudah lelah hari ini, meskipun lelah tak dapat menutupi aura bahagia yang memancar dari wajahnya.
"Kalau begitu, mama mau ke kamar sebelah, ya. Kamu istirahat aja malam ini," ucap Mama kepada Daniza.
"Makasih, Mah. Maaf ngerepotin Mama," balas Daniza menyembunyikan semburat merah di pipi.
"Iya, Sayang."
Wanita paruh baya yang selalu tampak awet mudah itu lantas mendekati putranya sebelum keluar kamar.
__ADS_1
"Alvin, anak mama yang budiman sejagat raya, selamat menikmati malam pengantin barunya," ucapnya sambil menerbitkan evil smile.
****