Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Kebanyakan Virus


__ADS_3

"Alvin, tenang dulu!" Tanpa sadar Mama Elvira ikut berteriak juga. Ia yang tadinya sedang duduk mengobrol lantas berdiri. Tatapan Alvin terlihat berapi-api, dan wajahnya menggambarkan aura frustrasi luar biasa.


"Apanya yang harus ditenangkan, Mah? Kalau orang-orang ini tidak memulai duluan aku tidak mungkin semarah ini," maki Alvin murka seraya mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok biang keladi yang telah mengacaukan malam ini, tetapi sayang Tante Keisha sudah tak terlihat di sana.


Mama Elvira yang tahu betul kondisi putranya segera melangkah. Dengan sigap menarik Alvin menuju ruangan yang lebih sepi.


"Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan amarah. Mama tahu kamu sedang marah, tapi itu tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Kita bisa bicarakan ini secara baik-baik tanpa harus mempermalukan diri sendiri. Paham?"


Mama Elvira menekan bahu Alvin agar duduk di kursi. Alangkah baiknya saat dalam keadaan tersulut emosi untuk bicara dalam keadaan duduk.


Alvin menarik napas dalam demi mengurai amarah yang membuncah. Ingin sekali memberikan pelajaran berharga kepada orang-orang tadi. Tak peduli jika Mama Elvira akan menentang.


"Bagaimana dengan Daniza?" tanya mama setelah melihat Alvin sedikit lebih tenang.


"Kalau Mama yang ada di posisi Daniz bagaimana perasaan Mama?"


Mama Elvira sempat bungkam beberapa saat. Ia mengerti bahwa ulah saudara mendiang suaminya tadi cukup melewati batas. Tetapi, sekarang yang terpenting adalah meredam amarah Alvin, karena lelaki itu dapat berbuat nekat. "Mama mengerti, Daniza pasti sangat sedih."


"Bukan cuma itu, Mah! Karena mulut saudara-saudara papa itu Daniza jadi minta aku menjauhi dia!" Nada Alvin kembali meninggi. "Mama tahu kan, seberapa berharganya Daniza bagiku?"

__ADS_1


"Mama tahu, Vin! Tapi kamu harus tenang dulu!"


Mendengar kata tenang yang selalu diagung-agungkan, Alvin justru semakin meradang. Tidak ada kata tenang untuk saat ini, terlebih ia sedang terancam akan kehilangan Daniza. "Kalau Mama tahu sebesar apa perjuanganku, Mama pasti tidak akan meminta aku supaya tenang!"


"Oke fine ... Lalu mau kamu sekarang apa?" Mamah Elvira melayangkan nada penentangan. Hal itu justru berhasil membuat Alvin terdiam beberapa saat.


"Silahkan kalau kamu mau mengamuk. Mama kasih kamu ruang untuk keluar dan memberi mereka pelajaran. Tapi dengan satu syarat, setelah kamu balas perbuatan mereka, kamu harus bisa memastikan hati Daniza kembali seperti biasa! Bisa?"


Nada tinggi Mamah Elvira menggema di udara. Alvin sedikit tercengang, tetapi kini ia sadar bahwa marah tidak akan menyelesaikan sebuah masalah, malah akan menambah.


"Kamu bukan anak kecil lagi, Vin! Sekalipun kamu mampu membalas perbuatan mereka, apa yang akan kamu dapat? Memangnya sakit hati Daniza bisa langsung sembuh setelah kamu membalas mereka?"


Mama Elvira paham bagaimana perasaan putranya. Ia peluk dan belai punggung putranya itu dengan penuh kasih sayang.


"Kamu harus sabar, Vin. Kamu dan Daniza butuh waktu untuk menenangkan diri. Mungkin setelah ini semuanya jadi lebih baik," bisik mamah Elvira. Suara yang lirih terdengar nyaman di telinga Alvin.


"Aku harus bagaimana, Mah? Aku tidak mau kehilangan Daniz lagi. Sudah susah-susah dibikin cerai dari suaminya."


Mama Elvira menghela napas panjang. Celotehan Alvin barusan telah merusak suasana serius yang terbangun dengan susah payah. Sapu pasti sudah flying in the sky jika tidak melihat wajah Alvin yang sedih.

__ADS_1


"Beri Daniza waktu dan ruang untuk menyadari perasaannya terhadap kamu."


Mama Elvira kembali mengelus puncak kepala putranya. Awas saja jika Alvin mengeluarkan kalimat aneh lagi. Jika itu terjadi, elusan lembut ini mungkin akan berubah menjadi jambakan.


"Kalau dia tidak sadar juga bagaimana?"


"Memang hubungan kamu dengan Daniza sudah sejauh mana?" tanya sang mama sangat penasaran.


Raut wajah Alvin kembali murung. "Belum ada hubungan apa-apa selain hubungan saling menguntungkan, Mah. Baru mau di-upgrade sudah hang duluan karena perbuatan saudara papa."


Hela napas panjang Mama Elvira kembali terdengar. Bagaimana mungkin Alvin menyamakan hubungan mereka dengan perangkat lunak. Dan, Daniza layaknya sebuah ponsel hidup yang tak dapat diapa-apakan, alias tak merespon berbagai sentuhan yang dilakukan pada layarnya.


"Tenang aja kalau gitu, nanti kamu mama software atau hardware sekalian. Otak kamu ini kayaknya kebanyakan virus."


Alvin menatap mamanya penuh tanya. Suasana tegang yang tadi tercipta lenyap begitu saja.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2