
Bandar Udara Charles de Gaulle Paris.
Alvin melangkah pelan di kabin pesawat sambil mencari nomor kursi yang tertera pada tiket. Ia terlambat naik ke pesawat karena menghabiskan waktu cukup lama di toilet bandara. Sedangkan mama, Eric dan Daniza lebih dulu naik.
Saat menemukan nomor kursi, ia malah terdiam selama beberapa saat. Kesal, ada Daniza di kursi dekat jendela, yang berarti ia harus duduk berdekatan dengan wanita itu selama berjam-jam.
"Siapa juga yang mau duduk sama tante-tante kayak kamu!" gerutu Alvin dalam hati.
Pandangannya berkeliling hendak mencari. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat Mama dan Eric duduk bersama di kursi depan.
"Mah, tukaran kursi, yuk! Mama di sana dengan Daniza yang sesama wanita. Aku di sini sama Eric yang satu spesies," tawar Alvin.
"Diplomatis sekali kamu, ya?" balas sang mama, dengan evil smile seperti biasa.
"Ini tawaran yang menggiurkan, Mah. Mama nanti bisa bosan duduk di pesawat dan butuh teman bicara. Sama Eric mau ngobrol apa coba?"
Mama Elvira lantas melirik ke belakang. Daniza tampak sedang tersenyum ke arahnya. "Mama bisa ngobrol apa saja dengan Eric? Iya, kan Ric?"
"Iya, Tante."
"Tapi kalau duduknya sama wanita pasti perjalanan lebih menyenangkan." Nada Alvin sudah terdengar memaksa.
"Kamu ini aneh, Vin. Orang sudah punya jatah kursi sendiri, masih mau jajah jatah kursi orang," balas mama lagi.
"Mungkin Alvin mau dekat sama aku karena mau tanyain harga kamar khusus di pesawat seperti di hotel tadi, Tante. Anak di bawah umur satu ini memang sedikit ajaib." Eric menyela dengan cepat.
"Siapa yang minta pendapat kamu?" ketus Alvin.
"Sudah, sekarang kamu balik ke kursi kamu sendiri!"
"Tapi, Mah—"
__ADS_1
"Duduk, atau mama tinggal kamu di Paris sendirian," ancam sang mama.
Alvin mengerucutkan bibir.
"Ya udah, Eric aja yang duduk sama daniza!" Ia mengguncang bahu Eric dengan tatapan memelas.
"Yakin mau aku yang duduk sama Daniza?" Sebelah alis Eric terangkat. Dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. "Perjalanan kita panjang loh, Vin."
"Udah, cepat pindah!" pekik Alvin semakin memaksa.
Tak ingin berdebat panjang, apalagi pesawat sebentar lagi akan lepas landas, Eric menuruti keinginan Alvin. Ia bangkit dari kursi dan pindah ke sebelah Daniza. Sementara Alvin duduk tenang dan damai di sebelah mama.
*
*
*
Diam-diam Alvin melirik ke belakang dengan ujung mata untuk memastikan apa yang terjadi di sana. Tiba-tiba hawa panas terasa merambat ke hati melihat Daniza dan Eric mengobrol dengan begitu santai dan akrab. Mereka bahkan terlihat tertawa bersama.
"Ngobrolin apa ya mereka sampai seakrab itu?" gumam Alvin penasaran.
Rasa penasaran itu makin menjadi saat Alvin merasa bahwa mereka sedang membicarakan dirinya.
"Dia pasti lagi ngomongin aku, 'kan?"
Ini tidak bisa dibiarkan. Ia harus mencari cara agar mereka tidak duduk bersama. Tapi bagaimana caranya? Sebab Alvin sendiri yang memaksa tidak ingin duduk bersama Daniza.
Alvin tiba-tiba berdiri. Hal itu membuat Mama Elvira mendongak sambil menarik ujung kemejanya. "Mau ke mana lagi?" bisik Mama Elvira malu. Pasalnya beberapa orang langsung melihat ke arah mereka.
"Aku mau pisahin penumpang di belakang. Berisik banget dan mengganggu ketentraman penumpang lain," kilah Alvin bohong.
__ADS_1
Lelaki matang berjiwa mentah itu kemudian berjalan ke belakang. Ia sengaja menyikut lengan Eric hingga air mineral yang sedang diminumnya tumpah mengenai baju.
"Apaan sih monyet, kadal bintit, buaya buntung?" maki Eric kesal seraya mengusap kemeja yang basah.
"Pindah sana! Suara kamu berisik banget!" Alvin menendang kasar tulang kering Eric.
"Santai kali! Perjalanan sampai Indonesia masih panjang!"
"Bodo amat! Yang jelas aku terganggu denger suara cekikikan kalian berdua. Kalian pikir pesawat ini berada di bawah kendali nenek moyang kalian apa?"
"Nenek moyangku pelaut, bukan pilot!" balas Eric tak kalah kesal.
"Nenek moyangmu pasti juga terganggu punya cucu berisik kayak kamu!" Alvin menarik kerah baju Eric lalu mendorongnya ke kursi depan. "Nggak usah liatin aku begitu! Kamu pikir aku topeng monyet?" bentak Alvin kepada Daniza. Wanita itu langsung melipat bibir ke dalam.
"Kamu cemburu ya, Mas" bisik Daniza sengaja menggoda.
"Jangan sembarangan menuduh, ya! Aku bisa melaporkan kamu dengan dugaan pencemaran nama baik."
Daniza hanya tersenyum sambil membenarkan posisi duduknya.
"Jangan pikir aku pindah ke sini karena cemburu! Aku hanya terganggu dengar suara kalian yang berisik!"
"Iya, Mas. Aku tahu kamu terganggu dan benci suaraku yang berisik. Yuk, duduk yang tenang, perjalanan masih jauh."
Kelembutan Daniza lagi-lagi menciptakan semburat merah di pipi Alvin. Tetapi, laki-laki itu tetap menepis rasa aneh yang berpangkal di hati. Ia lantas duduk dan memilih diam selama perjalanan.
Keheningan mendominasi selama beberapa jam. Alvin baru tersadar saat sebuah kepala mendarat di bahunya. Menoleh ke samping, ia menatap dalam-dalam wajah Daniza.
Wajah cantik dan bibir se xy itu seperti memanggil. Tanpa dapat dikendalikan mimpi semalam kembali membayangi. Entah apa yang terjadi kepada Djarot di bawah sana. Apakah ia sedang lemas atau justru sedang on fire.
"Sialan, tante-tante satu ini hot juga ternyata?"
__ADS_1
...****...