Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Kejutan Bagi Keluarga


__ADS_3

Daniza menjatuhkan tubuhnya di kursi meja makan. Denyutan di kepala membuatnya hampir tumbang. Ditambah lagi dengan sensasi mual di perut, Daniza benar-benar tidak tahan rasanya. 


Melihat sang majikan dalam keadaan seperti ini, Santi segera membuatkan teh hangat. Setahunya minum teh hangat dapat membantu mengurangi sensasi mual. 


"Diminum dulu tehnya, Mbak!" ucap Santi, sambil menggeser cangkir ke hadapan Daniza. 


"Terima kasih, San." Daniza menyeruput pelan-pelan. Cairan manis itu memang seketika mengurangi mualnya. Ia kembali menyeruput beberapa kali. 


"Apa Mbak Daniz butuh sesuatu yang lain? Biar saya buatkan." 


"Tidak. Saya lagi tidak selera makan beberapa hari ini. Kalau makan sedikit langsung mual." Daniza menghela napas panjang setelahnya. 


"Mbak Daniz sering telat makan, makanya bisa sakit. Dipaksa aja, Mbak. Dari pada tambah parah." 


"Apanya yang tambah parah?" Suara Mama Elvira terdengar dari belakang. "Daniz, kamu kenapa pucat begitu, Nak? Kamu sakit?" 


Mama Elvira langsung mendekat dan meletakkan punggung tangannya di dahi sang menantu untuk memeriksa suhu tubuh. Meskipun Daniza tidak dalam keadaan demam, tetapi wajahnya yang pucat membuatnya khawatir. 


"Nggak apa-apa, Mah. Cuma pusing sedikit." 


"Kamu sakit karena terlalu banyak pikiran kayaknya. Istirahat saja dulu, Nak. Jangan terlalu memikirkan suami kamu. Lama-lama dia pasti bisa ingat kamu lagi." Wanita itu membelai puncak kepala Daniza. Belakangan ini ia memang melihat Daniza kerap bersedih, meskipun berusaha ditutupi Daniza dengan baik. 


"Iya, Mah. Aku baik-baik aja, kok," balas Daniza, berusaha meyakinkan sang mertua. 


"Jangan sering telat makan makanya. Dan ingat—" Ucapan Mama Elvira menggantung di udara. Ia terdiam selama beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kamu sudah datang bulan belum, Nak?" 


"Kayaknya, belum Mah." Daniza masih ingat betul terakhir kali adalah di malam pertama pernikahannya dengan Alvin. Dan itu sudah hampir dua bulan lalu. 


Senyum pun mengembang sempurna di wajah Mama Elvira. Ia sudah menebak bahwa sedang tumbuh calon anggota baru di keluarga mereka dalam rahim Daniza. "Jangan-jangan kamu hamil." Wajah sang mama sudah tampak berseri-seri. 

__ADS_1


Daniza sendiri tidak berani berharap terlalu banyak. Ia memang menginginkan seorang anak, tetapi trauma kehilangan calon buah hatinya dulu masih membekas kuat dalam ingatan. 


"Santi, tolong kamu ke apotek beli tespek. Minta sopir antar kamu ke apotek depan kompleks," pinta Mama Elvira. 


Santi mengangguk patuh dan langsung beranjak ke depan. Sementara Daniza dan Mama Elvira menunggu. Keduanya masih duduk di ruang makan. 


"Mama jadi nggak sabar. Semoga kamu benar-benar hamil. Mungkin ini akan membawa pengaruh yang baik untuk Avin." 


"I-iya, Mah." Lagi, Daniza menyeruput teh buatan Santi tadi. 


Kurang dari 20 menit, Santi sudah datang dengan membawa beberapa jenis alat tes kehamilan. Mama Elvira langsung menyambut tak sabar. "Ayo, Daniz, kamu coba dulu di kamar mandi." 


Tanpa banyak kata, Daniza langsung masuk ke kamar mandi. Jantungnya terasa berdebar cepat memegang beberapa benda di tangannya. Setelah mencoba, ia terduduk memikirkan akan seperti apa reaksi Alvin jika dirinya benar-benar hamil. 


Apakah Alvin akan senang atau justru menolak. Karena selepas kecelakaan, Alvin selalu menolah Daniza, hingga Daniza harus selalu menyelinap ke kamar tamu jika sedang merindukan suaminya. 


Dua garis merah yang tampak pada alat tes kehamilan membuat Daniza melelehkan air mata. Antara sedih dan bahagia. Bahagia karena akan ada ikatan antara dirinya dan Alvin, dan sedih karena ia tidak akan bisa berbagi kebahagiaan ini dengan suaminya. 


"Ini, Mah." Daniza menyerahkan alat tes miliknya. 


Mama Elvira lantas meraihnya. Matanya seketika berbinar saat melihat dua garis merah di sana. Rasa bahagia yang membuncah membuat wanita itu memeluk menantunya penuh kasih. 


"Selamat ya, Sayang. Kamu harus jaga baik-baik kandungan kamu. Jangan terlalu capek. Apa lagi kamu pernah pendarahan sebelumnya," ucap Mama Elvira panjang lebar, tanpa melepas pelukan. 


"Iya, Mama." 


Keduanya saling memeluk dalam rasa haru. Santi pun turut merasakan kebahagiaan yang sama. 


"Apa kamu akan memberitahu Alvin tentang ini?" tanya Mama Elvira kemudian. 

__ADS_1


Daniza menimbang sejenak dalam hati. Sebenarnya, ia juga ragu. Tetapi, setelah dipikir dengan baik, alangkah baiknya Alvin tahu. Mungkin saja berita ini akan membawa dampak yang baik bagi mereka. 


*


*


*


Malam harinya, Daniza berniat memberitahu Alvin tentang kehamilannya. Ia sudah berdiri di depan pintu kamar dengan menggenggam alat tes kehamilan. 


Menarik napas dalam, Daniza mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Ia mencoba menanamkan pikiran positif bahwa Alvin akan senang dengan hal ini. 


"Mas, boleh aku masuk?" ucap Daniza, setelah membuka pintu kamar dan melongokkan kepala ke dalam. 


Alvin tampak sedang duduk melamun di sofa dengan pandangan tertuju pada dua bingkai foto. Satu foto papanya dan satu lagi foto pernikahannya dengan Daniza. Selama ini ia kerap merenung sendiri dan berusaha mengingat sesuatu, namun sedikit bayangan pun tak ada dalam ingatannya. 


"Mau apa kamu ke sini?" Suara dingin laki-laki itu berhasil membuat Daniza merinding. Ia kemudian melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan suaminya. 


"Ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan kamu. Kamu punya waktu sebentar?" 


"Hal penting apa?" 


Daniza langsung menyerahkan benda di genggamannya ke hadapan Alvin, meskipun hatinya dipenuhi keraguan. 


Begitu melihat benda yang disodorkan Daniza, raut wajah Alvin pun berubah seketika. Ia hanya menatap benda kecil di tangannya dengan ekspresi datar. 


Daniza mengulas senyum penuh harap. "Mas, aku ha—" 


"Keluar sekarang juga! Aku mau sendiri!" balas Alvin. 

__ADS_1


Daniza tersentak. Seluruh tubuhnya terasa meremang. Senyum di bibirnya pun perlahan menghilang.


...**** ...


__ADS_2