
"Eric? Kamu sedang apa di sini?" tanya Alvin heran. Sebab dirinya sama sekali tidak memberitahu tentang keberadaannya di apartemen Daniza.
"Aku disuruh Tante Elvira ke sini untuk mencari anaknya yang budiman seantero galaksi Bima Sakti." Eric memandang Alvin dari ujung kaki ke ujung kepada. Berdecak dalam hati melihat sang bos yang hanya menggunakan piyama dan sandal rumahan. "Katanya kamu kabur dari rumah."
"Bukan kabur! Daniz sakit, makanya aku buru-buru datang."
Eric mengangguk mengerti. Sekarang ia juga paham mengapa Dokter Mila ada di sana. "Memang Daniz sakit apa?"
"Demam dan sakit perut."
"Oh ...." Eric menjawab singkat. Perhatiannya lantas tertuju pada sosok cantik yang berdiri tepat di sisi Alvin. Mila tampak menunduk dan enggan menatapnya.
"Vin, aku pulang sekarang, ya. Sampai jumpa," ucap Mila, lalu melewati tubuh besar Eric yang berdiri di ambang pintu.
Melihat Mila berjalan menuju lift, Eric hendak menyusul, namun langkahnya terhenti karena Alvin langsung menarik tangannya.
"Lepasin! Jijik tahu kayak film Bollywood aja!" sergah Eric.
Alvin refleks melepas genggamannya. "Memang kamu mau ke mana?"
"Mau antar Mila ke bawah."
Alvin cepat-cepat merogoh saku piyama lalu mengeluarkan resep obat yang tadi dibuatkan Mila untuk Daniza. Tadinya, ia ingin membeli sendiri. Tetapi, Alvin tidak ingin kehilangan waktu berharganya saat ini. Apalagi setelah mendengar penjelasan Mila soal sakit perut. Ia ingin membuktikan sendiri apakah benar Daniza terkena Sindrome Munchausen, alias pura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian.
"Sekalian tolong ke apotek tebus resep ini."
"Oh ... oke." Setelah memasukkan resep obat ke saku blazernya, Eric terburu-buru melangkah. Mila tampak sudah memasuki lift. "Mila, tunggu!"
Dengan gerakan sangat cepat, Eric berlari dan menekan tombol pada panel lift, hingga pintu kembali terbuka. Ia langsung melesakkan tubuhnya ke dalam dan kembali menekan tombol agar pintu lift menutup.
"Ada apa, Ric?" tanya Mila dengan nada datar.
Eric terdiam sebentar sambil berusaha mengatur napas yang memburu. "Kamu masih marah soal waktu itu?"
"Kenapa harus marah?" balasnya sangat ketus.
"Aku minta maaf, Mil. Aku ada pekerjaan penting saat itu."
"Aku tahu, Eric. Aku juga punya pekerjaan sendiri. Tapi itu bukan alasan untuk tidak datang dan membuat orang lain menunggu berjam-jam tanpa kabar."
__ADS_1
Eric bungkam saat itu juga. Semua memang salahnya. Karena terlalu asyik bekerja, ia sampai melupakan janji kencan dengan Dokter Mila. Padahal mereka baru saja ingin memulai sebuah hubungan baru malam itu.
Tak lama berselang pintu lift terbuka. Mila buru-buru keluar, membuat eric mengikuti di belakang punggungnya. Wanita itu mempercepat langkah menuju mobil yang terparkir tepat di samping mobil Alvin. Melaju pergi tanpa memerdulikan panggilan Eric.
"Sial bener! Gara-gara gorong-gorongnya Alvin nih!"
*
*
*
Sepeninggalan Eric dan dokter Mila, Alvin duduk termenung di sofa. Keadaannya sekarang sudah seperti seseorang yang kehilangan kewarasan karena sejak tadi sibuk bicara sendiri di ruang tamu.
"Ah, sial! Gara-gara Mila aku jadi kepikiran terus soal itu!" Alvin melempar bantal sofa ke sembarang arah karena kesalnya.
"Awh!"
Laki-laki itu langsung menoleh saat mendengar suara jeritan. Dikiranya Daniza yang terkena lemparan bantal, ternyata Santi yang diam-diam keluar dari kamar Daniza.
"Huh, kamu bikin kaget saja, Santi!"
"Maaf Den, saya pikir tidak ada orang di ruang tamu!" Santi menunduk santun, tetapi dalam hati menggerutu.
"Tidak usah!" jawabnya cepat. "Oh ya, Daniz belum tidur, 'kan?"
"Belum, Den!"
"Ngapain?"
"Cuma baring. Tapi sepertinya Mbak Daniz sedang gelisah, Den," jawab Santi. Sebab tadi di kamar Daniza terus membolak-balikkan tubuhnya.
"Gelisah kenapa? Perutnya masih sakit?"
"Sepertinya, Den!"
"Oh." Alvin mengangguk mengerti. Lalu mengambil remote dan menyalakan televisi. Santi sempat heran melihat Alvin yang bersikap biasa saja mendengar Daniza sakit. Padahal saat awal datang ia sangat panik.
"Kalau begitu saya ke kamar dulu, Den."
__ADS_1
"Hemm."
Alvin melirik pintu kamar Daniza. Sebenarnya ingin sekali menemani Daniza. Namun, pesan ajaib mama selalu menghantui pikirannya.
"Cuek Alvin ... cuekin dia biar kamu tahu reaksi alamiah Daniza!"
Meskipun agak blingsatan bak orang kesetanan, Alvin terpaksa mengasah kesabaran menunggu Eric membawakan obat. Setidaknya, membawakan obat bisa menjadi asalan untuk masuk ke kamar Daniza nanti.
*
*
*
Tiga puluh menit berlalu.
Eric sudah datang dengan membawakan obat. Sebelum masuk ke kamar, Alvin menarik napas panjang. Ia harus memastikan dirinya tidak hilang kendali saat bersama Daniza dan tetap menjalankan misi pura-pura cuek.
"Ehemm!" Alvin berdeham pelan. Daniza yang tengah berbaring langsung menoleh dan ingin merubah posisi.
"Tidak usah bangun. Tiduran lagi saja," kata Alvin sigap melangkah cepat menuju tempat tidur. Ia hendak membantu Daniza merebahkan tubuhnya, tetapi Alvin sadar bahwa sekarang dirinya masih dalam mode dingin. Alvin pun memilih melepas lengan Daniza lalu menggeser tubuhnya sedikit berjarak dari wanita itu.
"Tahan Alvin ... tahan!" gerutu laki-laki itu. Merasa kesal sendiri karena begitu sulit mengontrol diri. Tanpa sadar, sikap Alvin yang spontan menjaga jarak membuat Daniza berpikir bahwa Alvin sedang marah.
"Apa Kak Alvin sudah tidak mau berdekatan lagi dengan aku?" Entah mengapa memikirkan itu saja membuat Daniza merasa sesak.
Kesalahpahaman pun mulai terjadi di antara keduanya.
"Kalau masih sakit tidur saja. Aku ke sini cuma mau kasih obat ini. Setelah ini aku mau pulang," ujarnya.
Daniza mendongak demi menatap laki-laki itu. Ia bahkan tak begitu peduli dengan obat yang ada di tangan Alvin. "Kak Alvin mau pulang sekarang?"
"Iya, kalau sakit perutmu sudah mendingan, aku akan pulang." Alvin kemudian duduk di bibir tempat tidur tepat di bagian kaki Daniza. "Bagaimana, apa sudah mendingan?"
"Emm ...." Daniza tak langsung menjawab. Debaran jantungnya menggila semakin hebat.
"Bagaimana ini, apa aku harus pura-pura sakit lagi supaya Kak Alvin tetap di sini?" Batin Daniza.
"Kenapa Daniz?" Alvin sedikit mengernyit karena Daniza terlihat bingung. Bukanya menjawab, Daniza malah memasang ekspresi aneh yang Alvin sendiri tidak bisa menebaknya.
__ADS_1
"Masih agak sakit, Kak! Tapi kalau Kak Alvin mau pulang sekarang tidak apa. Lagi pula aku sudah hafal nomor rumah sakit, jadi kalau ada apa-apa, aku bisa menghubungi rumah sakit!" lirihnya menahan tangis.
...*****...