
Mobil yang dikemudikan Revan melesat cepat di tengah padatnya jalan ibu kota pagi itu. Beberapa kali Revan melirik jam tangan, demi memastikan dirinya tidak terlambat ke pengadilan.
"Sial!" Lelaki itu memukul setir ketika menemui jalan yang cukup padat. Meneliti kondisi jalan, ia tampak getir. Menyalip pun cukup sulit karena mobilnya diapit oleh beberapa kendaraan besar.
Sambil menahan kesal, Revan memikirkan cara untuk terhindar dari jalan padat merayap itu. Sebuah jalan kecil dan cukup lengang di depan menjadi pilihannya. Revan pun membelokkan mobil ke sana. Ia harus tiba secepat mungkin ke pengadilan. Jika tidak, maka akan kehilangan Daniza untuk selama-lamanya.
Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal terdengar memekik ketika Revan menginjak pedal gas dalam secara mendadak. Beberapa kendaraan beroda dua tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya.
"Sialan! Siapa mereka?" Sorot mata tajam Revan mengarah kepada beberapa pria berbadan besar yang kemudian turun dari motor. Kedua tangannya terkepal saat menyadari bahwa beberapa pria tersebut adalah anak buah Alvin. Masih segar dalam ingatan Revan pernah melihat salah satunya di kantor Alvin beberapa waktu lalu. "Kurang ajar! Mau cari gara-gara rupanya."
Tak ingin membuang waktu, Revan membuka pintu mobil. Berdiri dengan menantang menghadapi ke empat pria yang sudah mengepung dirinya.
"Mau apa kalian?" teriaknya marah.
Bukannya menjawab, salah satu pria berjaket kulit hitam itu malah terkekeh. Seolah kemarahan Revan tak dianggap serius.
"Masih berani tanya dia." Pria berparas garang itu terkekeh.
Sadar dengan situasi berbahaya, Revan memasang sikap waspada dengan mundur beberapa langkah. Ingin kembali ke mobil untuk kabur pun terlambat, karena salah satu pria sudah mengunci tubuhnya dari belakang.
"Jangan macam-macam dengan saya!" Revan memberontak sembari memaki. Namun, ia tak dapat berbuat apa-apa, sebab tenaga pria itu cukup besar.
__ADS_1
"Lebih baik kamu ikut saja kalau mau selamat." Salah satu pria itu kembali berbicara dengan santai, namun terdengar menyeramkan di telinga Revan.
"Lepaskan saya! Saya bisa laporkan kalian ke polisi sebagai tindak penganiayaan dan—" Ucapan Revan terpotong, karena salah satu dari mereka membekap mulutnya dengan sapu tangan.
Tiba-tiba, sekeliling terasa berputar dalam pandangannya. Detik selanjutnya, segalanya terasa mengambang. Dan, ia tak sadarkan diri lagi.
*
*
*
Hey, di mana ini? Begitu tatapan Revan berbicara. Kedua tangan dan kakinya terikat kuat. Ingin berteriak meminta tolong kepada siapapun yang ada di sana, namun mulutnya tertutup oleh lakban.
"Sudah bangun, ya? Bagaimana rasanya tidur di sini?" Suara tak asing itu membuat perhatian Revan teralihkan. Spontan kedua matanya melotot saat melihat sosok pria yang sedang berdiri di ujung sana.
Sikap sok akrab Alvin membuat Revan jengah. Ditambah lagi karena laki-laki itu dengan kurang ajarnya berusaha mencegah untuk ke pengadilan.
"Sepertinya aku harus mengucapkan selamat, karena sebentar lagi kamu akan menyandang status duda." Alvin menyeringai setelahnya.
Sementara Eric yang bersisian dengan Alvin hanya menatap keduanya bergantian. Satu hal yang sangat disesali Revan, mengapa tidak antisipasi sebelumnya demi menghadapi segala kemungkinan. Akibatnya sekarang dengan bodohnya terjebak di dalam gorong-gorong.
__ADS_1
"Ric, jaga cecunguk ini. Nanti kalau sidang selesai baru kamu lepas!" perintah Alvin kemudian.
"Kamu sendiri mau ke mana?"
"Jemput calon istri lah!" Pengucapan Alvin yang menekan kata calon istri membuat amarah Revan kembali naik ke ubun-ubun.
Sementara Eric menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. "Yang benar saja, Vin? Masa aku harus di sini temani dia?"
"Kasihan dia di sini sendirian kalau kamu tinggal," jawab Alvin santai.
"Kalau kasihan kenapa kamu tidak lepas saja, Vin?" Kali ini Eric meninggikan suara. Sepertinya sudah tidak tahan dengan tingkah Alvin yang dinilainya di luar akal sehat manusia normal. Dan bodohnya Eric selalu saja patuh.
"Jadi sebenarnya kamu ini ada di pihak mana?" balas Alvin. "Sudah ah, aku mau pergi dulu. Ingat, jangan sampai dia lolos sebelum ada putusan pengadilan." Setelahnya, Alvin berlalu begitu saja.
Eric hanya menatap kesal mobil milik Alvin yang sudah melaju. Kemudian menatap benda berbentuk terowongan yang menjadi saksi bisu betapa liarnya seorang alvin Alexander. Dan Eric adalah korban yang harus membereskan tindakan impulsif bosnya itu.
"Gorong-gorong sialan!"
Eric mendengkus kesal. Gorong-gorong yang tak berdosa pun harus menjadi sasaran tendangan sepatu mahalnya.
****
__ADS_1