
Pagi-pagi sekali Mama Elvira dan Mila sudah datang ke rumah sakit. Mama Elvira memilih pergi ke ruang bayi terlebih dahulu untuk melihat kedua cucunya. Meskipun ia hanya dapat melihat dari luar ruangan, karena selain petugas rumah sakit atau orang tua bayi dilarang masuk. Namun, Mama Elvira merasa lega. Setidaknya kedua cucunya sehat dan tidak kekurangan apapun.
Kini kedua bayi itu sedang terbaring di dalam box berbeda. bergerak-gerak kecil dengan memakai gelang tanda pengenal bertuliskan nama mama dan papanya.
Mama Elvira menyeka ujung matanya yang basah ketika mendapati Alvin sudah berdiri di belakang punggungnya. Tak ingin jika Alvin sampai melihatnya bersedih. Setidaknya mereka harus saling menguatkan dalam keadaan seperti sekarang.
“Kapan mereka bisa pulang, Vin?”
“Dokter bilang kalau kondisi mereka stabil, besok boleh pulang.”
“Syukurlah.” Mama membalikkan tubuh dan mengusap bahu putranya. “Nanti anak-anak kamu biar mama yang urus. Kamu bisa fokus dengan Daniza.”
“Iya, Mah.”
“Daniza beluma ada perkembangan?”
“Belum, Mah. Kata dokter kondisinya masih lemah dan harus selalu dipantau.”
“Kamu yang sabar, ya, Vin. Kita pasti bisa melewati semua ini.”
Alvin hanya mengangguk, kemudian memeluk Mama Elvira.
...****...
Sementara itu di ruangan lain,
“Mil, maaf ya, sepertinya kita harus menunda semuanya. Aku tidak bisa meninggalkan Alvin dalam keadaan seperti ini,” ucap Eric yang kini sedang duduk di ruang tunggu bersama Mila.
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Aku ngerti, kok. Kesehatan Daniza dan anak-anak jauh lebih penting sekarang. Kita masih punya banyak waktu.”
“Makasih, Sayang.”
Mila menatap wajah suaminya yang tampak letih dan mengantuk. Sejak semalam Eric memang kurang tidur dan hanya bermain game online untuk mengusir rasa kantuk.
“Lebih baik sekarang kamu dan Alvin pulang dulu istirahat. Biar aku sama mama yang di sini jaga Daniza. Kita bisa gantian jaga.”
“Tapi sepertinya Alvin tidak akan mau meninggalkan Daniza. Semalam saja dia tidur di samping Daniza dan tidak mau pindah.”
“Kasihan Alvin. Dia pasti sangat terpukul.”
“Makanya aku tidak bisa meninggalkan dia, Mil. Aku yang paling tahu Alvin. Kelihatannya memang dia biasa aja. Tapi dia benar-benar sensitif kalau sudah berhubungan dengan Daniza.”
“Ya, aku tahu itu.”
**
Satu minggu kemudian ....
Apa yang dikatakan Eric sebelumnya ternyata benar. Hari ini tepat satu minggu Daniza dirawat di rumah sakit, dan selama itu pula Alvin tidak pernah meninggalkannya lebih dari tiga jam.
Sedangkan urusan anak-anak, Alvin menyerahkan sepenuhnya kepada mama dan Mila. Mama Elvira juga menyewa dua babysitter untuk membantunya mengurus si kembar.
Terkadang Alvin hanya pergi jika harus mengurus sesuatu yang penting di kantor, atau pulang untuk mandi dan berganti pakaian dan melihat si kembar sebentar, lalu kembali ke rumah sakit setelahnya.
Seperti saat ini, Alvin baru tiba di rumah setelah sebelumnya pergi ke kantor untuk mengurus hal penting yang sama sekali tidak bisa diwakili.
__ADS_1
“Anak-anak mana, Mah?” tanya Alvin, sesaat setelah memasuki rumah. Mama Elvira tampak baru saja melewati tangga.
“Anak-anak ada di kamarnya, lagi tidur. Kamu sudah makan?”
"Nanti saja, Mah. Aku mau lihat anak-anak dulu."
Alvin segera melangkah menuju kamar kedua anaknya yang berada tepat di samping kamarnya. Dua bayi mungil itu tampak sedang terlelap di dalam box yang sama. Sebelum mendekat, Alvin memasuki kamar mandi untuk mencuci tangan. Sekedar informasi, Mama Elvira atau pun Mila akan mengomel panjang jika seseorang menggendong bayi kecil itu tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
“Hai, anak papa. Kalian sehat, kan?”
Alvin meraih salah satu anak dan menimang dalam pangkuannya. Ia baru bisa menggendong bayi kecilnya setelah beberapa kali berlatih dengan bantuan Mama Elvira.
Setelah menemukan posisi yang nyaman, ia duduk bersandar di kursi sambil membaringkan bayi perempuan itu di dadanya.
“Doakan mama supaya cepat sembuh. Supaya bisa kumpul bersama kita.”
Beberapa menit ia habiskan di ruangan itu untuk menemani anak-anaknya. Ia gendong secara bergantian. Kedua bayi mungil itu tampak sangat tenang dalam buaian sang papa.
Alvin terpejam sebentar. Ia baru terbangun saat mendengar suara deringan ponsel. Ada kerutan tipis di antara kedua alis tebal Alvin saat melihat nomor yang tertera pada layar.
“Selamat sore, dengan Pak Alvin?” Suara seorang wanita terdengar menyapa. Alvin yakin ini adalah salah satu perawat yang bertugas menjaga Daniza.
“Iya.”
“Maaf, Pak. Kami mau menginformasikan, bahwa Bu Daniza baru saja siuman.”
Sontak ucapan sang perawat membuat bola mata Alvin membulat seketika.
__ADS_1
...****...