Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Izinkan Aku Membantumu


__ADS_3

Halo, selamat pagi teman-teman. Sebelum lanjut aku mau menginfokan dulu buat teman-teman yang baru bergabung di dunia baca Noveltoon.


Jadi kisah Daniza dan Alvin ini masih "on going" ya teman-teman. Artinya masih berlanjut dan belum tamat. Aku akan usahakan sebisa mungkin untuk update setiap hari.


Mari saling memberi semangat. Aku akan duduk manis dengan mata melotot di depan laptop. Sementara teman-teman duduk manis sambil nunggu update. Hehehe


Untuk kisah ini Gak usah di kasih vote/hadiah. Yang penting teman-teman sudah setia menemaniku menulis kisah ini, sudah merupakan apresiasi tertinggi. 🥰


Sambil tunggu Alvin dan Daniza Up, teman-teman bisa baca karya teman aku dulu. di bawah ini.


Dijamin, kisahnya bikin baper.


Sebagian pasti sudah kenal author satu ini, kan? Dia adalah salah satu author top di Noveltoon.



Judul : Istri Pelampiasan Hasrat Tuan


Karya : Anak Kost.


Ditunggu kedatangannya di lapak Aluna, ya. 🤗


Oke sekarang lanjut ke Kisah Babang Mpin 🤗


Alvin merasakan suhu tubuhnya memanas. Kini ia baru menyadari bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Daniza, si tante se xy itu memang sedang berada satu pembaringan dengannya. 


"Bagaimana ini?" gerutu Alvin dalam  hati. Bisa kehilangan muka di hadapan keluarganya jika sampai ketahuan. Tak ingin mendapat malu yang lebih besar lagi, laki-laki itu memilih melanjutkan mimpi. Berpura-pura tidak menyadari segalanya. 


Perlahan  melepas pelukan, Alvin berbaring membelakangi Daniza. Jantungnya berdegup semakin cepat tatkala merasakan sosok tangan halus itu melingkari tubuhnya. 


"Gawat ini." 


Alvin langsung memejamkan mata. Sekarang Daniza malah berpindah ke hadapannya. Alvin bahkan diam saja saat Daniza membenamkan ciuman sayang di pipi. 

__ADS_1


"Selamat tidur, Suamiku Sayang," bisik Daniza lembut. 


Jangan tanyakan bagaimana kondisi Alvin sekarang. Pipinya terasa semakin memanas. Ia yakin sudah semerah udang rebus. Beruntung pencahayaan kamar redup karena hanya satu lampu tidur yang menyala. 


"Seharusnya aku benci sama dia. Tapi kenapa dipanggil begitu rasanya senang, ya." Alvin membatin. 


Tubuhnya ikut menghangat saat Daniza memeluknya begitu erat. Entah dorongan dari mana, ia pun membalas pelukan itu seperti tidak rela jika Daniza meninggalkannya. 


Malam pun terlewati. 


Pagi-pagi buta Daniza sudah terbangun. Ia mengulas senyum setelah mendapati Alvin masih memeluknya. 


"Selamat pagi," bisiknya lembut. Tetapi lelaki itu masih begitu lelap dalam tidur. 


Daniza pun memilih melepas pelukan dan segera beranjak sebelum Alvin terbangun. Mungkin suaminya akan malu atau marah karena insiden mimpi semalam. 


Tanpa diketahui Daniza, Alvin membuka mata setelah memastikan istrinya itu benar-benar keluar kamar. Ia baru bernapas lega setelahnya. 


"Ya ampun, sampai tidak bisa tidur semalaman," gumamnya seraya mengusap dada. 


Sarapan berlangsung dengan diamnya Alvin. Sesekali ia mencuri pandang kepada Daniza, tetapi wanita itu tampak sangat santai, seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Sepertinya Alvin sedang takut jika Daniza membocorkan kelakuan memalukan semalam. Tetapi, wanita itu bahkan bersikap sangat santai. 


"Vin, hari ini kamu harus kontrol ke rumah sakit. Nanti biar Daniz temani kamu, ya?" ucap Mama Elvira. 


Alvin melirik Daniza sekilas. "Kenapa bukan sama Eric atau Mama saja yang temani?" 


"Mama harus ke butik. Sedangkan Eric harus kerja. Jadi kamu akan ditemani Daniza saja," balas sang mama. "Kamu bisa kan, 'Daniz?" 


"Bisa, Mah." 


"Kenapa harus berdua sih? Mau dibuang di mana ini muka kalau dia sampai bahas kejadian semalam?" Alvin bergumam dalam hati. 


Pasrah, hari ini ia terpaksa melakukan check up ke rumah sakit dengan ditemani Daniza. Alvin sempat dibuat terkejut, karena Daniza memaksa menyetir sendiri. Ia ingin memiliki waktu berdua dengan suaminya. 

__ADS_1


Meskipun Alvin terus menolak dan bersikap dingin, tetapi Daniza tidak menyerah begitu saja. Ia akan berusaha mendapatkan hati Alvin dengan cara apapun, seperti yang pernah dilakukan Alvin untuk mendapatkan dirinya. 


Hari ini Daniza menemani Alvin melakukan pemeriksaan menyeluruh di sebuah rumah sakit. Secara fisik Alvin sudah hampir pulih sepenuhnya. Hanya saja belum mampu mengingat apapun yang terjadi sebelum kecelakaan itu. 


"Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Alvin di tengah perjalanan pulang. 


Daniza yang sedang menyetir melirik sekilas, lalu kembali terfokus dengan jalan di depan. "Mau tanya apa, Mas?" 


"Kenapa kamu mau menikah dengan aku? Padahal kamu tahu aku benci sama kamu, kan?" 


Daniza hanya mengulas senyum. Ia menepikan mobil di tepi danau yang mereka lewati. Suasana tidak begitu ramai, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu. 


"Aku tahu kamu membenciku karena aku adalah penyebab kecelakaan papa." Daniza menatap nanar. "Tapi, izinkan aku menebus semuanya. Biarkan aku membantu kamu mengingat semua yang terlupa. Aku janji tidak akan menuntut apapun. Tapi, tolong jangan minta aku pergi." 


Alvin terdiam. Kalimat Daniza barusan menciptakan sesak di dada. Akal sehatnya menolak, tetapi entah mengapa hatinya berkata lain. 


Satu bulan berlalu dengan cepat. 


Kehidupan berjalan seperti biasa. Alvin belum dapat mengingat apapun tentang Daniza, meskipun ia rutin menjalani terapi. Daniza, Mama Elvira dan Eric juga sudah melakukan banyak hal untuk merangsang ingatannya, tetapi Alvin tak kunjung menunjukkan kemajuan yang berarti. 


Hal ini kadang membuat Daniza lelah dan ingin menyerah, terlebih Alvin kadang menolaknya dengan kalimat menyakitkan. Bahkan beberapa hari ini Daniza merasa kurang enak badan. Pagi ini entah sudah berapa kali ia keluar dan masuk ke kamar mandi.


"Mbak Daniz sakit?" tanya Santi, terlihat khawatir. Apalagi setelah melihat wajah Daniza yang cukup pucat. 


"Tidak apa-apa, San. Cuma pusing sedikit sama mual." 


"Mau saya buatkan teh hangat, Mbak?"


"Boleh. Tapi jangan terlalu manis, ya," pinta Daniza.


Ia pikir ini pasti karena beberapa hari ini dirinya kehilangan selera makan. Keadaan Alvin yang tak kunjung membaik membuatnya sempat stress.


...****...

__ADS_1


 


__ADS_2