
Alvin beranjak menuju kamar setelah mendapat hadiah sambutan dari sang mama. Pria tampan bak aktor Thailand itu masuk ke kamar sambil mengusap telinga.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Daniza saat melihat suaminya tampak lemas.
"Barusan disambit sama mama."
"Disambit?" Daniza menatap heran. "Maksudnya disambit bagaimana?"
"Disambit pakai jeweran gara-gara sushi!" Alvin menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Daniza lantas memilih duduk di sisi sang suami.
"Maksudnya bagaimana?" Ia menatap sang suami dan paper bag yang dibawanya secara bergantian.
Alvin lantas menceritakan kejadian salah sambung barusan. Bukannya prihatin dengan suaminya, Daniza malah terkekeh-kekeh. Ia sedang membayangkan bagaimana galaknya Mama Elvira tadi.
"Malah ketawa," protes Alvin dengan bibir mengerucut.
"Habis kamu sama mama lucu, Mas. Gara-gara sushi sampai salah paham panjang." Tetapi kemudian Daniza bergelayut manja di lengan suaminya. "Makasih ya, Mas. Kamu memang suami terbaik dalam hidupku."
"Oh ya? Lebih baik mana aku atau mantan kamu?"
Spontan raut wajah Daniza berubah setelah mendengar kata mantan. Membuat Alvin dihinggapi rasa bersalah.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud menggali luka lamamu. Aku cuma refleks menyebutnya karena tadi dia datang menemui aku di kantor."
"Dia ke kantor? Mau apa?" Daniza menatap suaminya penuh tanya.
"Dia datang bawa dokumen-dokumen perusahaan ayah kamu yang dia rebut. Dia mau mengembalikan perusahaan itu ke kamu. Tadi dia juga minta izinku untuk bertemu kamu." Alvin menjelaskan panjang lebar.
"Terus?"
"Terus apa? Kamu pikir aku akan mengizinkan dia? Tidak akan!"
Daniza menahan senyum. Suaminya itu memang sangat posesif dan cemburuan. Tentu saja ia tidak akan rela jika sampai Revan menemuinya walaupun hanya sekedar untuk minta maaf. Dan inilah yang sangat disukai Daniza dari Alvin. Ia merasa dicintai dengan begitu besar oleh suaminya.
"Apa senyum-senyum?" tanya Alvin.
Daniza kembali memeluk suaminya itu, lalu membenamkan kecupan sayang di pipi. "Terima kasih, Mas. Aku sangat mencintai kamu."
"Aku juga, Sayang." Alvin membalas dengan memberi kecupan di kening. "Jadi bagaimana perusahaan kamu?"
"Terserah kamu, Mas. Soal perusahaan ayah, aku sudah tidak memikirkannya lagi. Bukankah sekarang aku tidak butuh perusahaan itu lagi karena aku sudah dinikahi oleh bos besar?"
Alvin tertawa pelan. "Ya sudah, Sayang. Nanti aku bicarakan dengan Eric bagaimana perusahaan itu selanjutnya."
Daniza mengangguk setuju.
"Oh ya, kamu mau sushi, tidak? Tadi aku susah-susah antri belinya, loh." Alvin mengeluarkan sekotak sushi dari paper bag.
__ADS_1
"Tapi bukan Sushi sekretaris kamu, kan?"
Keduanya tertawa mengingat drama salah paham dengan mama tadi.
Alvin lantas menyuapi Daniza. Wanita itu makan dengan lahap. Entah mengapa makan dari tangan suami terasa sangat nikmat turun ke leher.
*
*
*
Setelah ngobrol dengan Daniza, Alvin masuk ke kamar Eric untuk membicarakan tentang nasib perusahaan Daniza ke depannya. Kebetulan Eric belum tidur. Ia tampak sedang asyik tengkurap di tempat tidur dan terfokus pada layar ponsel.
Alvin duduk di sofa dan meminta pendapat Eric mengenai perusahaan tersebut.
"Lebih baik perusahaan Daniza suruh Revan yang urus saja, Vin. Kamu tidak perlu repot cari orang yang kompeten. Lagi pula, Revan sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya. Dia juga sudah bekerja keras mengembalikan keadaan perusahaan yang hampir bangkrut itu. Lagi pula dia jahat karena dihasut Alina."
Alvin menimbang ucapan Eric dalam hati. Setelah dipikir-pikir, ucapan Eric memang ada benarnya.
"Kamu benar juga sih. Kalau begitu nanti aku akan bicarakan ini dengan Revan."
"Begitu kan bagus," gumam Eric dengan tatapan tak pernah lepas dari layar ponsel.
Ada kerutan dalam di kening Alvin melihat Eric yang sejak tadi begitu terfokus dengan ponselnya. Dan hal itu membuatnya penasaran. Jangan-jangan Eric selingkuh. Alvin pasti akan melaporkannya ke Mila.
"Wow!"
"Ssssttt!" Eric meletakkan jari telunjuk di depan hidung. "Jangan banyak bicara, lihat dan diam aja!"
Alvin menggelengkan kepala tatkala Eric membuka beberapa gambar artis lainnya yang hanya menggunakan pakaian renang yang cukup terbuka.
"Kalau ketahuan Mila bisa dimutilasi kamu untuk bahan praktek mahasiswa kedokteran!" ucap Alvin.
"Nggak usah mikirin Mila yang jauh. Pikirkan saja dirimu kalau sampai ketahuan Daniza ikut melihat. Bisa tidur di luar kamu!"
"Tenang saja, Daniza sudah enak di bawah selimut." Alvin merebut ponsel Eric dan membuka beberapa foto.
"Lihat deh, Ric. Yang ini b0k0ngnya kayak semangka, ya?"
"Hooh."
"Kalau yang satu ini kayak melon."
Beberapa kali keduanya cekikikan jika menemukan gambar yang terasa menurunkan iman tetapi justru menaikkan imun. Ah, mereka memang sedarah. Memiliki karakter yang sama persis.
"Udah ah, mending balik ke kamar," ucap Alvin setelah puas dengan dengan petualangan mereka.
__ADS_1
Ia mengunci layar ponsel milik Eric hingga layar dalam keadaan gelap. Mendadak bola mata Alvin membulat penuh saat melihat bayangan Daniza ada dalam pantulan layar ponsel.
Waduh sejak kapan Daniza di sini?
Alvin langsung bangun meninggalkan tempat tidur setelah menyadari dinginnya tatapan Daniza. Ia memasang senyum paling indah di dunia demi mengamankan posisinya yang sudah di ujung tanduk.
"Sayang, sejak kapan kamu di sini?" tanya Alvin.
Daniza menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil menatap suaminya penuh selidik. "Sejak kamu bilang, b0k0ng artis itu seperti semangka!"
Alvin langsung gelagapan. Ia meraba tengkuk yang mendadak terasa merinding.
"Bagaimana ini?" ucapnya dalam hati. Otaknya berusaha mencari alasan paling masuk akal agar ibu negara tidak merajuk.
"Aku cuma komentar sedikit. Tapi sumpah, bukan aku yang stalking duluan, tapi Eric. Iya kan, Ric?" Ia menatap Eric dengan memelas, seperti memohon bantuan.
Eric hanya mengatupkan bibirnya demi menahan tawa. Malam ini habislah Alvin di tangan Daniza.
"Aku cuma stalking, tapi tidak kasih like. Yang kasih like itu Alvin!"
Plak!
Alvin menabok lengan Eric saking kesalnya.
"Oh, jadi sudah sampai berani like segala ya?" Daniza manggut-manggut. Entah kenapa Alvin merasa atmosfer di ruangan ini berubah mencekam dalam sepersekian detik.
"Jangan percaya ucapan sesat Eric! Lagian aku mana tertarik sama bokong plastik! Bagiku yang alami seperti kamu lebih menarik," kilah Alvin.
"Tapi like artinya suka, lho!" Daniza terlihat mengepalkan tangannya, dan itu sukses membuat Alvin merinding takut.
"Yang tadi cuma salah pencet!"
"Oh ya?" Nada bicara Daniza mengayun galak.
"Iyalah! Sudah kubilang aku tidak tertarik dengan bokong silikon."
Daniza tersenyum kecut. Ia merebut ponsel di tangan Alvin lalu membuka kolom komentar. Terdapat komentar dengan menggunakan akun Eric di foto tersebut.
@Bukanorang : Oh, betapa indahnya makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.
Daniza menunjukkan layar ponsel ke hadapan Eric dan Alvin.
"Siapa yang ngetik komentar ini?" tanya Daniza.
Alvin menggaruk kepala sambil menatap Eric seperti sedang meminta pertolongan.
"Tamat riwayatku!"
__ADS_1
...**** ...