
Mama Elvira merasakan getaran pada seluruh bagian tubuhnya. Setiap kata yang tertuang pada sepucuk surat yang ditinggalkan Eric membuat napasnya terasa sesak. Tak terasa kristal bening sudah meleleh di pipi. Kertas putih di tangannya pun terjatuh begitu saja.
"Eric!" teriakan histeris Mama Elvira menggema. Alvin yang tengah memeriksa di kamar sontak berlari keluar.
"Mama!" Alvin memekik ketika menemukan mama sudah tergeletak di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri. Laki-laki itu langsung berjongkok memeluk tubuh mama. Panik membuatnya tak dapat berpikir jernih. Satu-satunya yang dapat ia lakukan hanyalah memindahkan mama ke sofa.
"Bangun, Mah!" Ketakutan itu semakin terasa nyata tatkala melihat wajah mama yang pucat. Berusaha untuk tetap tenang, ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Mila.
Tak perlu menunggu lama, kekasih Eric itu sudah tiba di apartemen. Ia langsung mengeluarkan beberapa benda dari dalam tas dan memeriksa Mama Elvira. Walaupun tanpa bertanya, Mila sudah tahu apa yang membuat mama Elvira sampai tumbang seperti ini. Tentu saja tak lain karena kepergian Eric yang mendadak.
"Apa kamu tahu kalau Eric pergi?" tanya Alvin sesaat setelah Mila selesai dengan tugasnya. Wanita itu sedang merapikan peralatan kesehatan yang baru saja digunakannya dan memasukkan ke dalam tas.
"Aku tahu." Ia menarik napas dalam. "Semalam dia sudah bilang sama aku." Mila lantas mengeluarkan minyak kayu putih dari tas dan mengoles ke pangkal hidung Mama Elvira.
"Kalau kamu tahu kenapa diam saja?" Alvin berkata dengan penuh tekanan.
"Aku harus bagaimana, Vin? Kamu sendiri tahu seperti apa kerasnya Eric. Kamu mengenal dia jauh lebih baik dari aku!"
"Tapi setidaknya kamu bisa mencegah dia, kan?"
"Kalau aku bisa sudah kulakukan." Jawaban itu berhasil membuat Alvin bungkam. Ucapan Mila memang benar adanya. Membuat Alvin memilih duduk tepi sofa dan mulai memijat kaki mama.
"Menurut kamu dia pergi ke mana?" tanyanya kemudian.
"Aku juga tidak tahu. Dia cuma bilang, akan benar-benar menghilang kalau aku berusaha mencarinya."
"Dia memang sudah gila!" Alvin menggerutu sambil menerbitkan mimik kesal, tetapi tak dapat menutupi kesedihan yang sebenarnya. "Memang apa gunanya dia pergi? Keadaan tidak akan berubah dengan menghilang."
"Kita hanya bisa menunggu."
Obrolan itu harus terhenti oleh gerakan tubuh mama yang menunjukkan akan terbangun. Kelopak mata Mama Elvira mengerjap beberapa kali, hingga akhirnya tersadar sepenuhnya.
"Eric?" panggilnya dengan suara lemah. "Eric di mana?"
Mila meraih tangan Mama Elvira. "Tante tenang, ya. Eric pasti akan kembali. Dia cuma pergi untuk menenangkan hatinya."
__ADS_1
"Tapi Eric ke mana? Cepat cari dia, Vin!" lirih Mama Elvira mulai gelisah.
"Jangan khawatir, Tante. Aku yakin tidak lama lagi dia pasti pulang. Semalam aku ada di sini sama dia, kok!"
"Mila benar, Mah," tambah Alvin. "Lagi pula mana bisa Eric tidur tenang kalau belum makan masakannya Mila."
Laki-laki itu refleks meringis saat senggolan sepatu pantofel Mila menghantam tulang keringnya. Diakui Mila ia memang tak pandai memasak. Bahkan rasa masakannya terbilang sangat buruk. Tetapi, semua dilakukan demi membuktikan cinta dan perhatiannya terhadap sang kekasih.
*
*
*
Dua bulan berlalu sejak kepergian Eric. Sejak saat itu, tidak ada kabar sedikit pun darinya. Tidak ada yang tahu ia pergi ke mana untuk menenangkan diri. Alvin juga sudah meminta orang-orang kepercayaannya untuk melacak. Tetapi, semua usaha yang mereka lakukan tak membuahkan hasil. Eric menghilang bak ditelan Bumi.
Sejak kepergian Eric pula, kesehatan Mama Elvira menurun sedikit demi sedikit. Ia seperti kehilangan semangat dalam hidupnya. Sejak seminggu belakangan mama tidak pernah lagi ke butik, sehingga semua urusan diserahkan kepada orang kepercayaannya, Karina. Selain itu, Mama Elvira lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar sambil menunggu kabar. Berharap putra kesayangannya segera kembali.
"Mama makan, ya. Aku suapin," bujuk Daniza lembut. Sejak pagi mama belum makan apapun dan membuat Daniza mengkhawatirkan kesehatannya.
Mama hanya melirik menu yang dibawakan Daniza tanpa berniat menyentuhnya. "Nanti saja, Daniz, Mama belum lapar," jawabnya lemas.
Wanita itu mengulas senyum tipis dan menatap sang menantu. "Kalau Alvin berani marah sama kamu ... nanti mama kasih sandal flying in the sky."
Mau tak mau Daniza terkekeh. Dalam keadaan seperti ini mama masih bisa bergurau seperti biasa, meskipun tetap tak dapat menutupi segala kesedihannya. "Mama makan, ya. Sedikit aja, Mah!" Sekali lagi Daniza berusaha membujuk.
"Terima kasih, Sayang. Nanti saja mama makan. Kamu juga harus banyak istirahat, jangan sampai sakit." Mama Elvira menyibak selimut dan hendak turun dari tempat tidur. Kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Baru saja akan membuka pintu, tiba-tiba sekeliling terasa berputar dalam pandangannya. Disusul dengan denyutan di kepala yang semakin menjadi-jadi. Detik itu juga Mama Elvira ambruk. Beruntung Daniza yang menyadari segera menangkap tubuhnya sehingga tak membentur lantai.
"Mama, bangun, Mah!" teriak Daniza panik.
*
*
__ADS_1
*
Sementara itu di kantor.
Seharian ini Alvin disibukkan dengan pekerjaan kantor yang menumpuk. Sejak Eric pergi, terpaksa semua pekerjaan diambil alih olehnya. Bahkan jam makan siang terlewatkan begitu saja karena kedatangan seseorang.
"Kamu yakin informasi ini akurat?" tanya Alvin kepada sosok pria di hadapannya.
"Yakin, Bos! Di sana juga ada data transaksi sewa unit apartemen dengan menggunakan nama Pak Eric," jawab laki-laki itu.
Alvin membuka lembar demi lembar data yang diterimanya. Setidaknya sekarang informasi keberadaan Eric mulai tercium. Tinggal memikirkan cara bagaimana membujuknya untuk pulang. Karena baik Alvin maupun Mama Elvira tahu, Eric bukan tipe orang yang mudah diluluhkan.
"Baik, terima kasih. Tolong kamu pantau dia terus. Jangan sampai kehilangan jejak!" perintah Alvin, seraya memasukkan data tersebut ke dalam laci meja kerja. "Kamu boleh pergi. Nanti saya hubungi lagi."
"Baik, Bos!"
Pria bertubuh tinggi besar itu akan beranjak keluar ruangan. Sementara Alvin menyandarkan punggung di kursi dan memikirkan rencana selanjutnya.
"Mama pasti senang kalau tahu keberadaan Eric sudah terlacak."
Alvin lantas meraih ponsel untuk memberitahu kabar ini kepada mama. Tetapi saat itu, ponsel miliknya berdering. Di layar tertera nama Daniza.
"Iya, Sayang ...."
"Mas, aku di jalan mau bawa mama ke rumah sakit. Mama pingsan!" Suara Daniza yang terdengar sangat panik membuat Alvin ikut panik.
Laki-laki itu bergegas keluar ruangan dan pergi dengan tergesa-gesa. Bahkan tak lagi memerdulikan sekretaris yang beberapa kali memanggil.
...*** ...
Sementara itu di tempat lain, Eric sedang menikmati kesendirian di sebuah kamar hotel. Beberapa hari ini ia merasa hidupnya sangat hampa.
Rasa bersalah kepada Mama Elvira dan Alvin membuatnya tak dapat tenang
Dan seperti mendapat sebuah firasat buruk, sejak semalam dadanya terasa penuh sesak.
__ADS_1
"Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini?"
...****...