
Duduk seorang diri di sebuah restoran mewah, Mila melirik arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir setengah jam ia menunggu, tetapi sosok yang membuat janji itu justru belum datang juga.
Mila hanya menatap nanar hidangan lezat yang tersedia di hadapannya tanpa menyentuh sedikit pun.
"Semua laki-laki memang sama saja. Sukanya ingkar janji!" gumam wanita itu kesal.
Baru saja Mila akan bangkit untuk pergi, sosok laki-laki sudah memasuki ruangan privat itu. Membuat Mila menatapnya penuh tanya. Bukankah tadi ia janjian dengan Ruben? Lalu mengapa malah malah Eric yang datang?
"Kamu?" Mila terpaku di tempat. Menatap laki-laki yang malam ini berpenampilan memesona dengan seikat bunga mawar merah di tangan.
"Hai, maaf membuat kamu menunggu lama."
Bibir merah Mila reflek terbuka. Hampir tidak percaya mendengar kalimat yang terlontar tanpa filter. "Aku tidak sedang menunggu kamu. Aku janjian dengan Ruben malam ini."
Sikap galak Mila terasa sangat menggemaskan di mata Eric. Laki-laki itu melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan Mila. Eric bahkan dapat melihat betapa gugupnya Mila saat ini.
"Tapi Ruben tidak akan datang."
Mila menarik napas dalam. Pikirannya sedang menebak bahwa Eric baru saja menyabotase janjian makan malamnya dengan Ruben. "Apa yang kamu dan Alvin lakukan ke Ruben?"
"Tidak ada. Alvin ajak Ruben ke belakang sekolah kita dulu. Katanya mau reunian."
"Kalau begitu aku mau pulang saja!" Meraih hand bag miliknya dari atas meja, Mila hendak melangkah. Namun, Eric mencengkram lengannya dengan kuat. Sehingga wanita itu mematung di tempat. Tatapan Eric benar-benar melumpuhkan kepercayaan dirinya, yang akhirnya ia balut dengan sikap judes. "Lepaskan, aku mau pergi dari sini!"
__ADS_1
Eric menggeleng pelan. Sepenuh hati tampak tidak rela melepaskan Mila. "Aku ke sini untuk membicarakan tentang kita."
"Jangan memaksa! Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan," tolak Mila.
Wanita itu berusaha melepas cengkraman Eric, tetapi tak sedikit pun Eric memberi celah. Malah mengeratkan genggaman hingga Mila meringis.
"Sakit, Eric!"
Tersadar, Eric melepas tangan Mila. Dengan cepat wanita itu melangkah menuju pintu. Sementara Eric hanya menatap penuh rasa bersalah. Tidak pernah ada dalam rencana untuk menyakiti Mila.
"Aku minta maaf, Mil. Aku insecure!"
Langkah Mila mendadak terhenti. Selama beberapa saat ia terpaku di tempat. Ucapan Eric barusan menciptakan genangan air di bola matanya.
"Apa maksud kamu, Ric? Kenapa harus insecure?"
Meleleh sudah kristal bening di pipi Mila. Perbedaan status sosial rupanya masih menjadi tembok penghalang terbesar di antara mereka.
Meskipun Mila tidak pernah mempersoalkan perbedaan itu, tetapi sebagai lelaki, Eric merasa rendah diri. Terlebih, Dokter Mila bukan orang yang berasal yang berasal dari keluarga biasa.
Karenanya, selama ini Eric berusaha bekerja sekeras mungkin untuk menjadi seseorang yang layak untuk sang pujaan hati. Bahkan ia terkesan sengaja menjaga jarak dan membatasi diri.
"Aku cuma anak jalanan yang kebetulan beruntung diangkat Tante Elvira. Dianggap seperti anak sendiri dan menjadi saudara Alvin. Selain itu tidak ada yang istimewa dariku."
__ADS_1
Air mata Mila kembali berurai. Ia membalikkan tubuhnya, kemudian menatap Eric yang berdiri tak jauh darinya. Didorong oleh perasaan cinta yang kuat, wanita itu berlari dan membenamkan tubuhnya di pelukan Eric.
"Aku mencintai kamu. Aku nggak peduli siapapun kamu," lirih wanita itu.
"Aku minta maaf, Mil. Aku tahu kamu tidak pernah mempermasalahkan itu. Hanya saja aku ...."
Ucapan Eric menggantung di udara karena Mila sudah lebih dulu membungkamnya dengan ciuman. Persetan dengan harga diri sebagai wanita, Mila tidak ingin munafik dengan menahan perasaan sendiri.
Selama beberapa saat keduanya larut dalam hangatnya penyatuan kecil itu. Meruntuhkan tembok yang selama ini menjadi penghalang di antara keduanya. Dan tentu saja melupakan Alvin yang sedang menikmati masa nostalgianya bersama Ruben. Mungkin mereka sedang ngopi bersama sambil membicarakan banyak hal.
"Janji nggak gitu lagi?" lirih Mila.
"Iya, janji, Sayang."
Mila mengulas senyum bahagia. Kemudian kembali membenamkan tubuhnya di pelukan Eric.
*
*
*
Yang mau lihat visual Babang Eric, sudah di post di IG, yaa.
__ADS_1
follow @Kolom_langit
🤗🤗🤗