Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Kukira Mimpi, Ternyata ....


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan panjang yang cukup melelahkan, akhirnya mereka tiba di rumah dengan selamat. Eric pun memilih langsung pulang ke apartemen.


Sebelumnya mereka sempat makan malam di sebuah restoran. Beruntung, kondisi tubuh Alvin berada di fase stabil meskipun kecelakaan yang ia alami kemarin terbilang cukup serius.


"Vin, mau ke mana?" Mama Elvira mengernyit heran saat Alvin berjalan ke kamar tamu.


"Mau tidur, Mah!" jawabnya singkat, padat dan jelas.


"Kamu tidak lupa lokasi sama kamar kamu sendiri, 'kan?"


Alvin menggeleng mantap. "Tidak. Tapi aku yakin kamar itu akan dihuni oleh mahluk lain." Sambil melirik Daniza dengan ujung matanya.


"Awas kesasar malam-malam," ledek sang mama.


"Kan kalau kesasar bisa pakai google maps, Mah! Jangankan di dunia nyata, di alam mimpi pun anak mama ini nggak akan kesasar!"


Sementara Daniza memilih diam. Istri yang kata Alvin tante-tante itu malah membiarkan suaminya masuk ke kamar tamu. Alvin bahkan menutup pintu keras-keras.


"Daniz! Kamu yang sabar, ya." Mama Elvira mengelus lembut pundak Daniza.


"Iya, Mah! Mas Alvin tidak salah. Dia hanya kehilangan sebagian ingatannya tentang aku. Lama-lama dia pasti ingat lagi. Aku hanya butuh sedikit sabar."


"Terima kasih sudah mau bersabar menghadapi Alvin. Mama tahu berada di posisi kamu yang sekarang pasti tidak mudah." Wanita paruh baya itu memeluk Daniza. Ingin rasanya ia menangis saat ini juga, tetapi ia tahan sebisa mungkin demi memberi kekuatan untuk sang mantu. "Kalau begitu kamu istirahat, ya."


"Iya, Mah! Mama juga."


Setelah obrolan singkat penuh makna itu, Daniza pun kembali ke kamar. Ia terduduk di tepi pembaringan. Masih begitu segar dalam ingatan tentang kebersamaannya dengan Alvin di kamar itu. Bahkan, Alvin merenovasi kamar pribadinya dan mengganti cat dinding dengan warna kesukaan Daniza.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan kamu."


Daniza bangkit dan membuka lemari. Seulas senyum terbit di bibirnya melihat sebuah paper bag yang ada di dalam sana. Pakaian kurang bahan berwarna hitam berenda akan ia gunakan sebagai senjata malam ini.


*


*


*


Alvin sudah lelap dalam pelukan mimpi saat Daniza diam-diam masuk ke kamar dengan membawa selimut dan guling. Senyum mengembang sempurna di wajah cantiknya setelah melihat suaminya tidur begitu nyenyak.


Bergerak sangat pelan, wanita itu merangkak ke atas tempat tidur dan menyelinap ke dalam selimut.


Cup!


Cup!


Cup!


Sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Alvin yang dipikirnya sedang tidur itu malah memeluknya seperti guling.


"Sialan juga ini mimpi," celetuk Alvin tanpa sadar.


Daniza mendongak demi menatap wajah suaminya. Alvin masih terpejam, hanya mulutnya yang beberapa kali bergumam pelan. Meski begitu, Daniza dapat mendengar dengan jelas.


Perlahan kelopak matanya mulai terbuka. Ia masih tampak dalam pengaruh kantuk. Bahkan tak menunjukkan reaksi penolakan, padahal jelas-jelas Daniza sedang berbaring di sisinya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, deh. Namanya juga cuma mimpi. Daniza nggak akan tahu kalau aku habis mimpiin dia," gumam Alvin lagi.


Daniza mengatupkan bibirnya rapat mendengar gumaman sang suami. Sepertinya Alvin mengira sedang bermimpi. Dan Daniza bisa memanfaatkan keadaan ini.


"Kamu ngapain pakai baju kurang bahan begini di alam mimpi?"


Tawa Daniza pasti sudah meledak jika tidak sedang mengikuti alur yang diciptakan Alvin dalam mimpinya.


"Lagian kenapa harus jadi cantik, sih? Aku kan jadi sering mimpi jorok tentang kamu. Padahal sebenarnya aku benci."


Daniza masih diam. Ia membiarkan Alvin menciumi wajahnya berulang-ulang. Pipi, kening, dan bibir. Bahkan ia sempat menyelam di lekukan leher Daniza.


"Ini mimpi jenis apa, ya? Kok berasa nyata?"


Selama beberapa saat, laki-laki itu terdiam seperti sedang menimbang apakah ini mimpi atau nyata. Ia lantas kembali menatap wanita se xy di sisinya.


"Jangan pikir aku suka sama kamu, ya. Salah sendiri kenapa datang sembarangan ke mimpi orang. Pakai kostum ginian lagi."


Daniza hampir gila karena kelakuan suaminya itu. Ia mulai mengira bahwa Alvin sebenarnya kerap memimpikan dirinya.


"Bisa diledekin Eric sama Mama kalau sampai ketahuan mimpiin tante-tante."


Daniza sudah tidak tahan lagi rasanya. Tawa kecil lolos begitu saja dari bibirnya.


"Tenang aja, Mas. Aku tidak akan bilang ke siapapun kalau malam ini kamu kesasar dan memimpikan aku."


"Ba ...." Alvin tersadar saat itu juga. Pandangannya menyapu tubuh mereka berdua.

__ADS_1


"Oh my God!"


...*****...


__ADS_2