
Ruben mengulurkan tangan ke arah Alvin. Meskipun terlihat malas, tetapi Alvin tetap menyambut uluran tangan korban kenakalannya di masa lalu itu.
"Hai, Vin! Lama tidak ketemu," Ruben membuka suara. Kemudian mengulas senyum miring yang malah terlihat menyebalkan di mata Alvin.
"Aku malah tidak pernah berharap bertemu dengan kamu lagi," ucap Alvin dalam hati.
Melirik sang mama, Alvin berusaha memasang sikap seramah mungkin. Apa lagi setelah mengetahui bahwa Ruben adalah anak teman arisan mamanya.
"Iya, lama sekali. Sampai aku hampir lupa sama kamu."
Ruben terkekeh. "Tapi aku tidak akan pernah lupa terakhir ketemu sama kamu di belakang sekolah," tambah Ruben. "Kamu masih ingat hari itu?"
"Ingat lah! Apa perlu reka ulang adegannya?"
Namun, gerutuan panjang itu hanya Alvin ucapkan dalam hati. Yang penting sekarang ia selamat dari amukan Mamanya jika sampai aibnya di masa lalu terbongkar.
Ruben lantas melirik wanita di sebelah Alvin. Meskipun sangat berubah, namun ia masih dapat mengenali wanita cantik itu. Ya, dia Daniza. Gadis yang pernah membuat Alvin marah dan mengerjai dirinya.
"Kamu Daniza, kan?" tanya Ruben.
Daniza yang juga masih terkejut dengan pertemuan mendadak itu hanya mengangguk. Dulu ia cukup dekat dengan Ruben. Tetapi setelah bertahun-tahun tak bertemu segalanya terasa sangat asing.
Ruben lantas mengulurkan tangan untuk menjabat Daniza. Baru saja Daniza akan mengulurkan tangan, sudah dihalau oleh Alvin.
Mama Elvira seketika menatap Alvin penuh tanya. Putranya itu memang sangat posesif dan berlebihan. Bahkan ia seperti tidak rela jika tangan Daniza disentuh laki-laki lain.
"Tidak usah salaman. Ini masih pandemi. Takut kamu bawa virus," seloroh Alvin, membuat Mama Elvira menyikut perutnya.
"Apaan sih kamu?" Begitu tatapan Mama Elvira berbicara. "Oh ya, Ruben. Tante itu penasaran loh sama cerita mama kamu tadi," ucap Mama Elvira.
"Soal apa, Tante?" tanya Ruben yang bersikap sangat sopan terhadap Mama Elvira.
"Kata mama kamu ... kamu dulu ngamuk mau pindah sekolah. Padahal kan waktu itu sudah kelas tiga dan tinggal menunggu ujian akhir. Memang kamu kenapa sampai maksa pindah sekolah?"
Seketika tatapan Ruben langsung mengarah kepada Alvin. Sosok pria di hadapannya itulah yang menjadi alasan dirinya memaksa untuk pindah sekolah.
Sementara Alvin mematung di tempat duduknya sambil berdoa di dalam hati agar Ruben mendadak amnesia, lidah kaku atau sakit tenggorokan.
"Iya, Tante. Waktu itu saya memang memaksa mama dan papa untuk pindahin saya ke sekolah lain."
"Tapi kenapa?" tanya Mama Elvira semakin penasaran.
__ADS_1
Ruben kembali mengarahkan pandangan kepada Alvin. Betapa bodohnya ia dulu karena percaya bahwa pistol yang dibawa Alvin adalah pistol sungguhan yang membuatnya begitu ketakutan. Bahkan, Ruben sempat ngompol di celana saking takutnya.
"Waktu itu ada kelompok anak nakal yang sukanya tawuran, Tante. Makanya saya pindah."
"Memang anak nakalnya gangguin kamu?" Mama Elvira bertanya semakin dalam. Entah mengapa cerita dari teman arisannya tadi sangat menggelitik untuk tahu lebih banyak.
"Sering!"
Mama Elvira mendecakkan lidah mendengar cerita Ruben. Alvin memang pernah menyebutkan nama Ruben sebelumnya. Kali ini Alvin beruntung karena Mama Elvira lupa dan malah terfokus dengan masalah Daniza kala itu.
"Ya ampun. Kenapa tidak melapor ke guru BK atau papa kamu? Papamu kan kepala sekolah."
Ruben menyeringai menatap Alvin. Namun, Alvin masih memasang sikap tenang, dengan bonus tatapan mengintimidasi.
"Gawat! Bisa-bisa sapu flying in the sky nih!"
"Saya sempat diancam, Tante."
Mama Elvira kembali menggeleng heran. Bisa-bisanya ada anak sekolah sebar-bar itu. "Seandainya kamu minta tolong sama Alvin, dia pasti bantu kamu!"
"Justru anak Mama ini pelakunya." Alvin membatin.
"Tante, sepertinya Tante Ambar panggil Tante, deh!" ucap Eric sambil menunjuk ke meja teman-teman Mama Elvira. Tampak beberapa wanita seusia Mama Elvira tengah mengobrol seru. Sesekali terdengar tawa di antara mereka.
Mama Elvira menoleh sekilas. Sebab setahunya, ia tak mendengar panggilan apapun. "Masa sih?"
"Iya, tadi dengar Tante Ambar panggil. Coba lihat dulu ke sana, Tante."
Meskipun merasa tidak mendengar panggilan apapun, namun Mama Elvira segera berdiri dari kursi.
"Ya sudah kalau begitu. Kalian ngobrol dulu, ya. Tante mau ke sana dulu."
"Iya, Mah." Alvin memamerkan senyum.
Setelah kepergian mama, Alvin baru bernapas lega. Aibnya di masa lalu masih tersimpan aman.
*
*
*
__ADS_1
*
Pesta sebentar lagi akan berakhir. Daniza sedang berjalan-jalan seorang diri di depan ruangan. Alvin sedang mengobrol dengan beberapa rekannya, membuat Daniza memilih diam-diam keluar sebentar demi menghirup udara segar.
"Daniza!" Panggilan itu membuat Daniza menoleh.
Wanita itu langsung membuang pandangan ketika menyadari siapa yang baru saja menyapanya.
"Ada apa?" tanya Daniza dingin.
"Aku mau bicara sebentar. Tapi tidak di sini!" Tangan Revan sudah mencengkram kuat lengan Daniza.
"Aku tidak mau bicara dengan kamu!" Daniza menarik tangannya dengan paksa.
"Please, Daniz. Malam ini saja. Kita benar-benar butuh bicara berdua!"
Daniza langsung memasang sikap waspada. Apa lagi sekarang Revan seperti sedang memaksa dirinya untuk ikut.
"Aku sama sekali tidak tertarik untuk bicara apapun dengan orang seperti kamu!"
"Tapi, Daniza ... ."
"Revan!" Panggilan itu membuat keduanya menoleh. Alina tampak begitu kesal karena Revan tiba-tiba menghilang hanya untuk mengejar Daniza. "Untuk apa kamu mengikuti perempuan ini?" pekik Alina tak terima.
"Aku hanya perlu bicara berdua dengan Daniza, Al! Aku mohon jangan ikut campur."
"Ikut campur?" Alina terkekeh sini. "Aku tidak akan ikut campur urusan kamu selama itu tidak ada hubungannya dengan Daniza!"
Daniza berdecak sambil menggelengkan kepala. Dia orang di hadapannya itu memang sama saja. Daniza akan melangkah pergi meninggalkan Alina dan Revan, tetapi Alina langsung menarik tangannya.
"Jangan mulai, Alina. Kamu tidak lihat beberapa orang sedang melihat kita?" Revan berusaha mengingatkan.
"Memang kenapa? Biarkan saja kalau semua orang melihat kita. Supaya Daniza mendengarnya. Oh ya, Daniz ... sepertinya dugaanku sebelumnya memang benar. Kamu pasti menjual diri kepada Alvin Alexander, kan?"
"Kalau iya kenapa? Kamu keberatan?" Jawaban Daniza yang penuh percaya diri membuat Alina terkejut. Setahunya Daniza adalah wanita yang sangat penakut. Tetapi sekarang Daniza bahkan sudah berani terhadap Alina. "Alvin laki-laki bebas. Dia tidak punya istri. Kalau aku dekat dengannya tidak akan ada yang marah. Sedangkan kamu ... kamu menghalalkan segala cara untuk merayu suami orang."
Rasa panas terasa merambat ke tubuh Alina. Sebelah tangannya terangkat. Baru saja akan memberi Daniza sebuah tamparan, namun Daniza sudah menahan tangan Alina dan mencengkeramnya. Membuat Alina meringis kesakitan.
"Ada apa ini?" Alvin tiba-tiba hadir di sana. Dia menatap Alina dan Revan dengan tatapan begitu tajam. Kemudian berjalan mendekati Daniza.
****
__ADS_1