
Alvin mencengkram kerah kemeja penjaga pos itu. Tubuh besarnya yang baru saja tumbang seolah dipaksa untuk bangkit lagi. Ia bahkan terbatuk-batuk akibat lehernya nyaris tercekik oleh Alvin.
"Ke mana bos sialan kamu itu membawa Daniza!"
"Saya tidak tahu," jawab laki-laki itu dengan napas tersengal-sengal.
Bugh!
Kepalan tinju Alvin kembali mendarat di wajah dan perut. Cairan merah segar mengalir di sudut bibirnya. Alvin yang dikuasai amarah tak memberi ampun dan terus menghantam membabi buta.
"Cepat tunjukkan di mana bos kamu atau saya tidak akan berhenti menghajar kamu sampai mati!"
Baru saja Alvin akan melayangkan tinjunya, sebuah mobil tampak berhenti tepat di depan gerbang. Alvin menyeringai melihat dua orang pria berbadan kekar yang berjalan mendekat.
"Apa ini orangnya, Bos?" tanya laki-laki menyeramkan itu.
"Bukan, orangnya masih di dalam! Kalian bereskan dulu cecunguk ini. Dia sepertinya mau main-main."
Melihat pria berbadan besar itu, penjaga pos bergidik ngeri. Tentu saja ia tidak akan berani ambil resiko.
"Ampun! Tolong jangan pukul, saya akan tunjukkan," lirihnya.
Dua pria itu lantas menyeret penjaga pos dengan kasar hingga harus terseok-seok menuju pintu.
"Cepat buka! Kamu pasti punya kunci pintu cadangan, kan?" bentak Alvin dengan tidak sabarnya.
Laki-laki itu mengangguk. Tangan gemuknya merogoh saku celana dan mengeluarkan kunci cadangan. Tidak peduli lagi dengan ancaman Revan tadi agar tidak membuka pintu untuk siapapun, sebab Alvin dan anak buahnya terasa jauh lebih mengerikan dibanding Revan.
Dalam hitungan detik, pintu kokoh yang terbuat dari kayu jati itu pun terbuka lebar. Begitu memasuki rumah, suasana tampak sunyi. Tidak ada seorang pun di sana.
Alvin kembali mencengkram kerah kemeja penjaga pos dengan bonus tatapan menghujam. "Di mana mereka?"
"Saya tidak tahu di kamar yang mana?"
__ADS_1
Kehilangan kesabaran, Alvin mengangkat kepalan tinjunya hendak menyerang lagi, namun seketika sang penjaga pos itu segera membuka mulut.
"Sepertinya di atas, di kamar Non Daniza!"
Alvin melepas cengkraman. "Tunjukkan yang mana!"
"Ba-baik." Dengan sangat terpaksa, laki-laki itu menuntun Alvin menuju lantai atas.
Setibanya di depan pintu kamar, amarah Alvin seperti tersulut kembali ketika menemukan pintu kamar itu terkunci rapat. Pikiran buruk sudah memenuhi benaknya. Jika sampai Revan melakukan sesuatu terhadap Daniza, mungkin hidupnya akan berakhir malam ini juga.
Alvin memberi isyarat kepada dua anak buahnya untuk mendobrak pintu. Tak butuh usaha keras, pintu kokoh itu sudah tumbang.
Pemandangan di dalam membuat amarah Alvin tak terkendali. Revan tengah duduk di ranjang bertelanjang dada sambil berusaha membuka pakaian Daniza.
"Bangs@t! Apa yang mau kamu lakukan terhadap Daniza?!"
Dengan gerakan cepat, Alvin menarik lengan Revan dan menghempasnya ke belakang. Terkejut membuat Revan memiliki waktu untuk menghindar saat kepalan tinju Alvin menghujam wajahnya.
Namun, ancaman itu malah membuat Alvin semakin membara. Tatapannya yang tajam mengarah kepada dua anak buahnya.
"Dia bagian kalian! Terserah mau kalian apakan!"
Dua laki-laki berbadan besar itu menyeringai. Lalu tanpa kata menyeret Revan keluar dari kamar itu. Hanya dalam hitungan detik, suara erangan memilukan pun menggema.
Sementara penjaga pos tadi hanya menjadi penonton saat bosnya dihajar habis-habisan. Ia pun tak berani untuk sekedar melerai.
Selama beberapa saat Alvin mengatur napas yang memburu. Lalu menatap Daniza yang terbaring tak sadarkan diri dengan kancing kemeja terbuka sebagian. Sepertinya Revan baru saja akan melakukan sesuatu, tetapi lebih dulu Alvin memergokinya.
"Daniz!"
Alvin meraih tubuh lemah itu dan memeluknya. Beberapa kali ia menepuk pipi dan berusaha membangunkan, tetapi tak ada respon sedikit pun dari Daniza.
"Bangun, Daniz!" panggilnya lagi, sambil mengancingkan kembali kemeja Daniza.
__ADS_1
Tak ingin mengulur waktu, Alvin membopong tubuh Daniza meninggalkan kamar itu. Ia harus segera membawanya pergi. Urusan Revan ia serahkan sepenuhnya kepada dua anak buahnya.
Saat telah berada di teras, bersamaan dengan Eric yang baru saja tiba. Eric langsung menuju lokasi, setelah tadi Alvin menghubunginya untuk membatalkan laporan ke polisi dan memilih menghukum Revan dengan caranya sendiri.
Begitu melihat Alvin menggendong Daniza yang tak sadarkan diri, Eric berlari mendekat. Ia juga sempat dikejutkan dengan kondisi gerbang yang hancur berantakan.
"Daniz kenapa, Vin?"
"Pingsan," jawab Alvin dengan tersengal. Ia cukup kelelahan menggendong Daniza dari lantai atas.
"Terus si cecunguk Revan mana?"
"Tepar!"
Jawaban santai Alvin itu pun membuat Eric bergidik. Tentunya, Eric lah yang paling tahu seperti apa Alvin. Apalagi jika sudah berkata akan menggunakan caranya sendiri untuk menghukum Revan.
"Jangan main-main dengan nyawa orang, Vin! Kamu mau batal nikah?" ucapnya mengingatkan.
"Kamu ini sudah telat banyak omong, Ric! Cepat, mana kunci mobil kamu? Aku mau bawa pulang Daniz!"
Kedua alis Eric saling bertaut. "Memangnya ada apa dengan mobilmu sendiri?"
"Rusak!" Alvin menunjuk mobilnya yang terparkir di depan pintu, lalu meraih kunci mobil Eric. "Kamu saja yang urus sekalian!"
Tanpa mengulur waktu, Alvin membawa Daniza ke mobil milik Eric yang terparkir di depan gerbang. Sementara Eric masih mematung di tempat.
"Kamu apakan mobilnya sampai penyok begini, Vin?" Eric menggelengkan kepala heran.
Ia baru berhasil menyimpulkan apa yang terjadi dengan gerbang rumah yang ambruk setelah melihat kondisi mobil Alvin.
Kayak habis disuwir-suwir ini mobil.
****
__ADS_1