Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Cemburu Menguras Imun!


__ADS_3

Setelah pembicaraan dengan keluarga Mila, Daniza masuk ke kamar bersama Alvin. Alvin langsung memeluk Daniza dan menciumi pipinya yang mulai gempil.


"Mas, aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Daniza sambil mendorong dada suaminya.


"Nanti aja ke kamar mandinya, Sayang. Kamar mandinya nggak ke mana-mana, kok." Alvin malah semakin merapatkan tubuh mereka berdua.


"Aku juga tahu kalau kamar mandinya tidak akan ke mana-mana. Memang mau apa sih?" Wanita itu sengaja bertanya, padahal ia tahu betul ke mana arah pikiran suaminya yang selalu mengarah ke 21+ jika sedang berduaan di kamar.


"Aku akan menghukum mu dengan kekuatan bulan karena sudah bekerja sama dengan mama ngerjain aku!"


"Menghukum dengan kekuatan bulan? Aku merasa tidak asing dengan kalimat itu." Daniza mendadak teringat dengan kartun favoritnya semasa kecil.


Baru saja Daniza akan menghindar, Alvin sudah menggiringnya menuju pembaringan.


*


*


*


Keesokan harinya, di kantor.


Alvin sedang menjalani aktivitasnya seperti biasa. Sejak Eric datang, beban pekerjaan Alvin sedikit lebih kurang. Ia tidak lagi keteter seperti kemarin-kemarin.


Eric sendiri juga sudah lega karena sepertinya kondisi Alvin sudah pulih seratus persen. Meskipun Alvin kembali menyebalkan, setidaknya saudaranya itu telah menjadi Alvin yang dulu lagi.


"Vin, istirahat mau makan di mana?" Eric memberikan laporan pekerjaan yang baru saja selesai diperiksanya. Jam menunjukkan pukul 12 kurang 5 menit.


"Aku di sini saja! Kalau kamu mau turun bawakan saja aku makanan. Aku lagi malas keluar," ucap Alvin. Ia menarik berkas laporan yang diberikan Eric lalu menumpuknya bersama berkas yang lain.


"Ya sudah kalau begitu! Nanti bilang saja apa yang mau kamu makan."


"Hmmm." Alvin hanya berdeham. Eric lantas keluar dari ruangan Alvin.


Beberapa menit setelah pintu tertutup, Eric tiba-tiba kembali lagi.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Alvin heran. Pria itu langsung membuka matanya lebar-lebar saat sosok Revan keluar dari belakang punggung Eric. Lalu menatap mantan suami istrinya itu dengan teliti. Sepertinya bekas patah tulang Revan sudah membaik.


"Mau apa kamu ke sini?" Nada suara Alvin meninggi dalam sepersekian detik.


"Tenang, Vin! Revan ke sini dengan niat baik." Eric yang sudah diberitahu maksud kedatangan Revan berusaha menengahi.


"Ayo duduk dulu," kata lelaki itu mempersiapkan untuk duduk di sofa. Eric mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia memilih duduk di sofa sambil mengawasi keduanya. Jika ditinggal, bisa saja Revan nanti patah tulang lagi di tangan Alvin.


"Awas saja kalau kedatanganmu mau membahas hal yang tak bermutu." Alvin beranjak dari singgasananya. Ia kemudian duduk di depan Revan dengan meja besar sebagai penghalangnya.


"Kamu tenang saja, kedatanganku ke sini bukan untuk membuat rusuh. Aku hanya ingin mengembalikan ini." Revan menyodorkan sebuah berkas.


Alvin pun langsung membuka berkas tersebut. Lagi-lagi ia dikejutkan saat mengetahui isi dokumen itu adalah surat pengalihan perusahaan dan beberapa dokumen penting lainnya.


"Apa maksudnya ini?" Alvin tak mau langsung percaya begitu saja. Karena ia tahu Revan cukup licik, sehingga akan memasang kewaspadaan setinggi langit.


"Itu dokumen pengalihan perusahaan. Setelah kupikir-pikir, aku tidak ada hak lagi memegang perusahaan Daniza."


Alvin lantas membaca isi dokumen dengan teliti. "Kenapa kamu tiba-tiba kamu mau mengembalikan setelah bersusah payah merebutnya?"


Mendengar itu Alvin menarik napasnya dalam. "Kalau begitu terima kasih. Sebagai suaminya aku mewakili Daniza untuk berterima kasih!" Alvin sengaja menekan pengucapan kata suami sebagai bukti kepemilikan terhadap Daniza.


Revan hanya tersenyum dengan sikap kekanakan Alvin. Ada sedikit rasa sesak, tetapi tidak ada kata cemburu lagi di hatinya. Revan sudah benar-benar mengikhlaskan Daniza bersama Alvin. Mereka sangat cocok. Sedangkan lelaki pengecut sepertinya jelas tidak pantas bersanding dengan wanita sebaik Daniza.


"Oh ya, kalau boleh, apa aku boleh bertemu dengan Daniza sebentar saja?"


"Mau apalagi?" Alvin menaikkan suara.


"Aku hanya mau minta maaf atas semua kesalahanku di masa lalu terhadap Daniza. Aku pikir, aku perlu bertemu dengannya walau hanya untuk sekedar meminta maaf."


Tentu saja permintaan itu akan ditolak mentah-mentah oleh Alvin. Level cemburu laki-laki itu sudah berada di level setan.


"Baguslah kalau kamu sudah move on. Tapi maaf!" Alvin menatap Revan tegas. "Aku tidak bisa memberimu izin untuk bertemu dengan istriku. Apalagi Daniza sedang hamil."


Sesak semakin menjalar, membuat Revan merasa kekurangan oksigen. Dulu, saat Daniza mengandung anaknya, ia mengabaikan wanita itu. Kini Alvin pasti memperlakukannya seperti seorang ratu.

__ADS_1


"Ah, begitu!" Revan mengangguk paham. Sepertinya Alvin sengaja ingin pamer berbagai hal tentang perkembangan hubungannya Daniza agar Revan paham jika Daniza memang miliknya seorang.


"Nanti aku sampaikan permintaan maafmu pada Daniza."


"Ya sudah kalau begitu." Revan terpaksa setuju. Ia pun paham tidak mungkin bisa memaksa untuk bertemu Daniza. Apalagi Alvin terlihat sangat posesif dan cemburuan. "Baiklah, aku permisi. Titip salam untuk Daniza."


Alvin hanya menjawab dengan anggukan. Ia hanya menatap punggung laki-laki itu hingga menghilang di balik pintu.


Eric yang sejak tadi bersemedi di pojokan tiba-tiba tertawa saat pintu tertutup.Sejak tadi ingin meledakkan tawa, namun ditahannya.


"Apa sih? Tidak jelas," gerutu Alvin, lalu memasukkan berkas yang tadi diserahkan Revan kepadanya.


"Dasar posesif! Padahal tidak ada salahnya Revan menemui Daniza untuk minta maaf, apalagi mereka pernah menyandang status suami istri."


"Sebut suami istri lagi ku kirim kamu ke gorong-gorong!" Alvin memalingkan wajahnya. Malas melihat wajah Eric yang sok bijak.


"Yang aku katakan benar, kan? Revan dan Daniza memang mantan suami istri."


"Pakai diulang lagi! Pokoknya aku tidak rela Daniza bertemu orang seperti dia. Kalau ada apa-apa memang kamu mau tanggung jawab?"


Eric berdecak. "Yang namanya posesif, tetap saja posesif. Tidak usah banyak alasan!"


"Bodo amat!"


"Dasar egois. Kamu tidak bisa memahami kalau mereka pernah menjadi suami istri di masa lalu!" ulang Eric sekali lagi. Sengaja agar Alvin makin kebakaran jenggot. Terbukti, sekarang lelaki itu semakin kesal mendengar kata "suami istri" yang disebutkan Eric.


"Sudahlah! Capek ngomong sama bujang lapuk ketinggalan jaman sepertimu. Memangnya kamu tidak tahu kalau laki-laki berinisial R itu sangat meresahkan?"


"Siapa yang bilang?"


"Seluruh warga konoha! Kalau tidak percaya tanya saja mereka!" pekik Alvin.


"Konoha itu kelurahan mana, Vin? Namanya saja aku baru dengar!"


"Tuh, kan! Susah memang kalau sudah ketinggalan jaman! Konoha itu sebutan lain dari warga Indonesia! Banyak-banyak mengikuti perkembangan jaman makanya." Kini giliran Alvin yang mencibir Eric.

__ADS_1


...****...


__ADS_2