
Setelah memastikan keadaan Mama Elvira benar-benar stabil, Alvin dan Eric membawa sang mama pulang ke rumah.
Alvin mengemudi dengan kecepatan sedang. Baru dua Minggu belakangan ini ia memberanikan diri menyetir lagi, setelah mengalami trauma akibat kecelakaan yang menimpanya di Paris.
Di sebelahnya Daniza sedang membaca buku panduan kehamilan yang didapatnya dari Dokter Allan, tadi di rumah sakit. Sementara Eric duduk di belakang bersama mama. Ia sedang menyuapi mama dengan potongan-potongan buah segar. Mama layaknya seorang ratu yang diperlakukan istimewa oleh kedua putranya.
"Ini langsung pulang, kan? Tidak mampir ke mana-mana?" tanya Alvin, sesekali melirik Daniza dan mama.
"Tidak, Mas. Lebih baik kita langsung pulang saja. Biar mama bisa istirahat di rumah," jawab Daniza.
"Oke."
Tak lama berselang, mereka tiba di rumah. Eric menatap rumah itu seperti saat pertama kali Mama Elvira mengangkatnya sebagai anak.
Dulu, ia sempat menolak untuk tinggal di rumah itu dan memilih tinggal sendiri di kamar kost yang sempit. Segala fasilitas mewah yang pernah diberikan papa ditolak mentah-mentah. Bahkan blackcard pemberian Mama Elvira tidak pernah digunakan sama sekali sampai saat ini.
Setelah bekerja dan menghasilkan uang sendiri, ia akhirnya membeli apartemen yang selama ini ditempatinya.
"Eric, kamu benar-benar akan pindah ke rumah, kan?" tanya Mama Elvira.
"Iya, Mah."
Mama Elvira bernapas lega. Tidak percuma kemarin melakukan drama pura-pura sakit parah dan menjebak kedua putranya.
"Bagus, deh. Lagi pula kamu tinggal di apartemen sendirian. Kalau sakit tidak ada yang urus."
"Masalahnya bahaya Eric dibiarin tinggal sendiri, Mah. Apa lagi dia sering di-apelin sama Mila," celetuk Alvin. "Katanya, kalau ada orang berdua, yang ke tiga pasti setan."
Eric menatap kesal. "Benar, Mah. Aku harus hati-hati, jangan sampai nanti kedapatan berduaan di apartemen dan baru bangun karena ada sandal melayang."
Sontak Alvin dan Daniza saling melirik. Teringat kejadian sebelum menikah, ketika Mama Elvira menemukan mereka tidur di satu tempat di pagi hari.
__ADS_1
*
*
*
"Bu, di depan ada tamu. Katanya mau ketemu Ibu," ucap Santi, yang baru saja datang dari arah ruang tamu.
Mama Elvira yang sedang berkumpul bersama anak dan menantunya di ruang televisi refleks mendongak. "Siapa, San?"
"Dokter Mila, Bu. Tapi saya tidak tahu siapa yang datang bersamanya."
Mama Elvira tampak mengerutkan kedua alisnya, seolah sedang berpikir sejenak. "Ya sudah, minta tunggu sebentar. Oh ya, tolong sekalian buatkan minum untuk mereka."
"Baik, Bu."
Santi lantas menuju dapur untuk membuatkan minuman. Sementara Mama Elvira dan lainnya segera menuju ruang tamu.
Mendadak raut wajah wanita itu menjadi datar saat melihat siapa yang sedang duduk di ruang tamu bersama Mila. Sepertinya, ia masih kesal dengan perkataan Mami Linda tentang Eric di malam itu.
"Sama sekali tidak mengganggu kok, Jeng. Kebetulan saya sama anak-anak sedang kumpul di ruang keluarga. Eric baru kembali ke rumah." Walaupun nada Mama Elvira sangat santai, namun terdengar cukup sinis di telinga Mami Linda. Membuat hati wanita itu mencelos.
"Kedatangan saya ke sini, sebenarnya mau minta maaf, Jeng. Saya tahu kalau saya sudah keterlaluan terhadap Eric malam itu. Saya benar-benar minta maaf."
"Maaf, Jeng. Saya bukan nya tidak mau memaafkan. Kalau Jeng Linda ada di posisi saya, pasti tahu rasanya bagaimana saat anaknya diperlakukan seperti itu oleh orang lain," ucap Mama Elvira.
Mami Linda tampak menundukkan kepala dengan raut penuh sesal. Diakui olehnya bahwa kejadian hari itu memang salahnya dan ia menyesal. Terlebih, karena sejak kejadian itu, Mama Elvira meminta Alvin untuk mengakhiri kerjasama dengan perusahaan mereka. Sehingga perusahaan mereka mengalami masalah keuangan.
"Maafkan saya, Jeng. Saya salah. Eric, tolong maafkan Tante, ya," pinta wanita itu.
Eric yang duduk di sisi Mama Elvira hanya terdiam. Semua keputusan sudah ia serahkan kepada mama. Jika pun mama menentang hubungannya dengan Mila, ia akan terima.
__ADS_1
"Seandainya pun Eric bukan anak saya, seharusnya Jeng Linda tidak memperlakukan orang lain seperti itu, kan? Kalau seandainya Eric bukan salah satu pewaris Alamjaya, apa Jeng Linda akan tetap minta maaf?"
Bola mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Bahkan suami dan putrinya diam saja dan tak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Tapi sudah lah. Tidak baik berlama-lama menyimpan amarah. Terus terang, saya sangat menyukai Mila dan setuju dengan hubungan mereka. Tapi kalau memang Jeng Linda mau memilihkan laki-laki lain, saya tidak akan memaksa. Saya akan mencarikan calon lain untuk Eric."
Mendengar ucapan Mama Elvira, Mila seketika mendongak dan menatap Eric seolah memelas. Demi apapun, Dokter cantik itu tidak akan rela jika Eric sampai menikah dengan wanita lain.
Eric adalah cinta pertama dalam hidupnya. Cinta yang sudah ia pendam sejak masa SMA. Sayangnya, Eric yang kaku bahkan tidak pernah peka dengan perasaannya.
"Tidak, Jeng. Kalau Eric dan Mila sudah serius, saya mendukung saja," ucap wanita itu.
Mama Elvira lantas menatap Eric. "Bagaimana, Eric? Kamu mau melanjutkan hubungan dengan Mila?"
Eric membungkam. Mendadak kedua sisi pipinya terasa memanas, dan ia yakin semua orang dapat melihat betapa merah wajahnya. "Em ... kalau itu ... terserah Mama saja. Aku ikut keputusan Mama."
"Kalau Mila sendiri bagaimana?" tanya Mama Elvira.
Mila kembali mengarahkan pandangan pada sosok calon ibu mertua. "Aku mencintai Eric, Tante. Kalau dia berani memilih wanita lain, akan aku suntik pakai formalin, biar jomblonya awet sampai kakek-kakek!"
Mendengar ancaman itu, Alvin dan Eric melongo. Memang, Mila adalah wanita paling frontal dan anti basa-basi yang pernah mereka kenal. Bahkan Mila lah yang lebih dulu menyatakan cinta terhadap Eric.
Mama Elvira menarik napas dalam. Terlihat cukup puas dengan jawaban frontal Mila. "Karena saya takut anak saya disuntik formalin, jadi saya akan menyetujui hubungan Eric dan Mila. Secepatnya, saya akan datang untuk melamar Mila."
Mila tersenyum bahagia, sementara Eric mengusap leher bagian belakang dengan sambil menunduk.
"Terima kasih, Tante," ucap Mila.
Alvin yang duduk di sebelah Eric lantas mendekatkan kepala. Lalu berbisik pelan, "Hati-hati aja, kamu! Jangan sampai nanti disuntik mati sama Mila kalau macam-macam!"
"Memang dia bisa setega itu?" Eric balas berbisik.
__ADS_1
"Masih pacaran aja kamu sudah mau diracuni pakai nasi goreng asin! Apalagi nanti setelah menikah. Dia bisa saja pura-pura salah masukin boraks ke makanan kamu!"
...****...