Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Capek Mimpi Terus!


__ADS_3

Daniza terlonjak saat membuka mata dan menemukan dirinya sedang berada di pelukan Alvin. Matanya yang masih dalam pengaruh kantuk seketika membulat penuh. Wanita itu terheran, sebab suaminya tiba-tiba mau berdekatan dengannya. Padahal selama ini ia selalu menolak. 


"Ka-kamu?" Daniza belum sanggup mengedipkan mata karena terkejutnya. Jantungnya berdegup sangat cepat. Rasa hangat perlahan menjalar saat Alvin membenamkan ciuman di kening. 


"Kenapa? Kaget, ya?" ucap Alvin, tanpa melepas pelukan. Sebelah tangannya merapikan helai rambut Daniza yang sedikit berantakan. 


Daniza pun dapat melihat tatapan Alvin yang kali ini sangat berbeda. Hangat dan penuh cinta. Bukan lagi sepasang mata yang menghujamkan tatapan kebencian kepadanya. 


"Kamu tidak apa-apa, Mas? Tadi kamu pingsan di hotel?" Daniza mulai khawatir mengingat kejadian di acara tadi. Tiba-tiba saja Alvin mengeluhkan sakit di kepala dan akhirnya jatuh pingsan. Hal itu pun sempat menimbulkan kepanikan luar biasa. Beruntung ada Eric, Ruben dan beberapa teman lain yang membantu menggotong Alvin ke mobil. 


Tadinya, mereka juga berniat membawa Alvin langsung ke rumah sakit, tetapi Dokter Mila memastikan bahwa Alvin baik-baik saja. Sehingga Eric dan Daniza memutuskan membawanya pulang ke rumah. 


"Tidak apa-apa," jawab Alvin. "Kamu sendiri bagaimana? Aku takut sekali tadi karena kamu berdarah." 


Mendapat pertanyaan itu, Daniza menunduk malu. Sebab semua drama tadi sebenarnya hanyalah permainan semata. "Aku tidak apa-apa. Maaf, sebenarnya yang tadi itu hanya sandiwara. Aku menggunakan pewarna makanan untuk membuatnya." 


Alvin benar-benar lega sekaligus gemas. "Pantas saja tadi mama bilang kamu tidak benar-benar mengalami pendarahan." 


"Maaf," cicit Daniza. Baru saja mulutnya akan terbuka untuk mengatakan hal lain, tetapi Alvin sudah lebih dulu membungkamnya dengan ciuman. 


Daniza kembali melotot. Tubuhnya gemetar. Ia sedang menebak apa yang terjadi kepada suaminya yang mendadak bersikap romantis dan lembut itu. 


"Kenapa minta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku banyak menyakiti kamu akhir-akhir ini," ucapnya penuh sesal. Ingin rasanya Alvin menghukum dirinya sendiri atas semua kesalahan terhadap Daniza. Padahal ia pernah berjanji kepada dirinya sendiri akan menjaga Daniza lebih dari menjaga nyawanya sendiri.


Daniza masih terdiam. Belum sanggup berkata apapun. Hatinya terlampau bahagia karena sikap Alvin yang tiba-tiba melunak. Sepasang matanya kini berkaca-kaca saat merasakan sentuhan lembut Alvin pada perutnya. Inilah yang selama ini sangat ia rindukan. Saat mengalami gejala awal wanita hamil, kadang ia berharap akan ada Alvin yang menenangkan atau sekedar mengusap perutnya. 


"Kamu sudah bisa mengingat sesuatu?"

__ADS_1


"Iya. Malam itu aku buru-buru pulang karena ada hujan badai di Paris dan kamu sedang sendirian di hotel. Aku tidak melihat ada mobil di depan. Kubanting setir ke kanan, mobilnya malah nyungsep ke sungai." 


"Terus bagaimana kamu bisa keluar dari mobil?" tanya Daniza. Sebab, saat mobil diangkat dari sungai, tubuh Alvin ditemukan di tepian dalam keadaan tak sadarkan diri.  


"Tidak tahu! Aku hanya ingat air pelan-pelan masuk ke mobil. Aku tersedak dan kesulitan bernapas. Aku tidak juga tidak tahu kenapa tiba-tiba memikirkan papa saat kecelakaan dulu. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi." Ia menghapus air mata yang terus mengalir di pipi istrinya. "Dan saat aku bangun, aku malah bertranformasi menjadi anak 18 tahun."


Daniza tertawa pelan.


"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud melupakanmu. Aku juga tidak pernah berharap kejadiannya akan seperti ini." 


Melihat wajah suaminya yang murung, Daniza membenamkan tubuhnya di pelukan laki-laki itu. Rasanya sangat lama ia merindukan kehangatan ini. "Aku tahu itu. Sekarang apa boleh aku tanya sesuatu?" 


"Tentu saja boleh," balas Alvin.


Sejenak Daniza melepas pelukan dan menatap mata suaminya. "Saat di Paris, aku tidak sengaja dengar pembicaraan antara kamu dan Kak Eric. Apa benar aku adalah penyebab kematian papa?" 


"Bukan kamu, Sayang. Maaf, dulu aku memang pernah menyalahkan kamu atas kecelakaan papa. Tapi kemudian aku sadar bahwa semua sudah menjadi bagian dari takdir." 


Alvin mengusap lelehan air mata di pipi istrinya. "Sudah, jangan pikirkan itu. Kamu bukan penyebab kematian papa." Alvin mendekap wanita itu sangat erat. Terlebih Daniza sedang menangis sesegukan.


"Apa karena itu awalnya kamu sangat membenci aku?" 


Alvin menjawab dengan anggukan kepala. Awalnya, ia memang membenci Daniza hingga melakukan apapun untuk membalasnya. Tetapi, rasa benci itu malah menjadi cinta. Daniza yang polos di masa remaja berhasil merebut hati Alvin tanpa sisa.


"Dan aku kena karma. Karena terlalu membenci, akhirnya jadi terlalu mencintai."


Daniza masih menangis. Membuat rasa bersalah itu terasa semakin nyata di hati Alvin. "Sudah, Sayang! Jangan nangis! Kematian papa bukan salah kamu. Jangan pikirkan tentang itu lagi," bujuknya lembut. "Oh ya, aku heran dengan satu hal." 

__ADS_1


"Yang mana?" tanya Daniza. Pikirannya sedikit teralihkan.


"Di reuni tadi sebenarnya ada apa? Aku melihat kamu jatuh dan berdarah. Tapi sekarang kamu baik-baik."


"Kejadian itu sandiwara. Reuni itu juga sebenarnya bohongan. Aku minta tolong Kak Eric untuk membuat reuni palsu. Siapa tahu kamu bisa ingat aku dengan cara itu." 


"Jadi sebenarnya reuni itu ide kalian?" Alvin benar-benar tidak menyangka. Padahal kejadian tadi berlangsung dengan natural. Bahkan Sherly menjalankan peran antagonisnya dengan sangat baik. Dan juga Daniza yang meraung kesakitan dengan sangat alami. "Astaga. Aku benar-benar kena shock theraphy." 


"Maaf, aku tidak punya pilihan lain."


"Tapi aku masih tidak percaya teman-teman yang lain termasuk Sherly dan Ruben sengaja melakukan semua ini. Padahal setahuku Ruben dan Eric baru saja terlibat masalah karena rebutan Mila, kan?" Tiba-tiba Alvin mengingat kejadian saat Eric mengurung Ruben di gorong-gorong belakang sekolah.


"Aku yang minta tolong Kak Ruben. Selain itu, Dokter Mila memutuskan perjodohan antara mereka. Tapi kemudian dia mendekatkan Kak Ruben dengan Kak Sherly." 


Alvin mulai paham. Ia mencoba merangkaikan jawaban yang diberikan Daniza dengan apa yang dilihatnya sendiri. "Banyak banget hal yang aku tidak tahu selama dua bulan ini." 


Daniza terkekeh. "Suamiku ini 'kan masih di bawah umur. Kamu akan pusing kalau mengurus masalah orang dewasa." 


Alvin menipiskan bibirnya gemas. Lalu kembali mengurung Daniza di balik selimut.


"Eh, adegan seperti ini tidak layak untuk anak di bawah umur seperti kamu!" pekik Daniza.


Suara cekikikan mulai terdengar dari bawah selimut.


"Biarin! Capek mimpi terus!"


...****...

__ADS_1


__ADS_2