Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Suami Ngidam!


__ADS_3

Alvin keluar dari toilet dengan tubuh sedikit lemas setelah menuntaskan mual di perut. Daniza yang masih menikmati makanan tampak terheran menatap suaminya. 


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Daniza, sambil menyuapkan sepotong daging ke mulut. Bahkan jatah bagian Alvin dilahap juga olehnya. 


"Kayaknya aku habis salah makan, deh. Mual terus." Tubuhnya bergidik melihat Daniza begitu lahap memasukkan potongan demi potongan daging ke mulutnya. 


"Memangnya di rumah habis makan apa?" 


"Tadi pagi kan cuma makan roti bakar buatan kamu. Memang kamu kasih apa ke dalam roti?" 


"Tidak kasih apa-apa selain mentega sama selai nanas favorit kamu," jawabnya. "Kalau kamu mual lihat daging, pesan yang lain aja, Mas." 


"Nggak, deh. Mau makan di rumah aja." 


Alvin menuang air mineral ke dalam gelas dan meneguk perlahan. Meskipun merasa mual, tetapi ia dengan setia menunggu hingga Daniza menyelesaikan makan. Sekarang wanita itu tampak kesulitan bernapas akibat kekenyangan. 


"Makannya sudah, kan? Pulang yuk. Aku juga tidak jadi ke kantor hari ini." 


Daniza masih duduk bersandar sambil mengibaskan buku menu di depan wajahnya. "Sebentar, lima menit, Mas. Aku atur napas dulu." 


"Makanya kalau makan jangan kebanyakan. Kekenyangan kan jadinya." 


"Habis enak." Sekarang wanita itu malah menyeruput jus dengan nikmat. Alvin sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Tetapi kemudian senyum mengembang sempurna di bibirnya mengingat makhluk kecil yang sedang tumbuh di perut istrinya. 


Tentu saja Daniza harus banyak makan, karena ada dua nyawa yang membutuhkan asupan. Ah, rasanya Alvin tidak sabar lagi untuk bisa menggendong kedua anaknya. Pasti akan sangat menyenangkan mendengar tangisan mereka di pagi hari. Ataukah saling berlomba lari menuju pintu untuk menyambut papanya sepulang kerja. 


*


*


*


Mama Elvira tak dapat membendung luapan rasa bahagia mendengar akan memiliki cucu kembar. Berulang-ulang ia memeluk Daniza dan mengucapkan banyak rasa syukur.


Akhirnya rumah itu akan diramaikan dengan kehadiran dua cucunya nanti.


"Selamat ya, Nak! Jaga kandungan kamu baik-baik. Kalau perlu kamu jangan melakukan apa-apa biar tidak capek," ucap sang mama.


"Iya, Mah."


Mama Elvira melepas pelukan sambil mengusap ujung matanya yang basah. Wanita itu lantas melirik Alvin yang begitu tiba di rumah langsung terduduk lemas di sofa ruang televisi.


"Kamu kenapa, Vin? Kayaknya lemas begitu?"

__ADS_1


Alvin menghela napas panjang sambil mengusap leher bagian belakang. Daniza dan mama pun memilih duduk di samping Alvin.


"Lemas, Mah. Mual terus dari tadi siang."


"Memangnya kamu habis makan apa?" 


Alvin hanya menjawab dengan bahu terangkat. Sebab setahunya, ia tidak makan sesuatu hari ini selain roti bakar buatan Daniza. "Nggak tahu, Mah. Rasanya pusing sama mual gitu." 


"Macam orang hamil aja deh kamu."


Alvin meraih remote control TV dan mengganti-ganti chanel, membuat mama menatap sebal. Padahal ia juga baru saja duduk santai untuk menonton sinetron favoritnya. 


Alvin baru berhenti menekan remote saat menemukan chanel yang sedang menayangkan berita seputar kuliner. Mendadak ia menelan saliva saat melihat host di TV begitu lahap menyantap rujak buah. 


"Beli itu di mana ya, Mah?" tanya Alvin menatap tayangan televisi dengan serius. 


"Mana mama tahu. Memang kenapa?" balas sang mama. 


"Makan itu siang-siang begini enak kayaknya." Pandangan Alvin bahkan tak beralih sedikit pun dari TV. Ia seperti ikut menikmati setiap potongan buah yang dimakan host dalam acara tersebut. 


"Kamu mau makan rujak?" Mama Elvira menatap heran. Setahunya Alvin tidak pernah suka dengan buah yang kecut. Apa lagi dengan rujak. 


"Iya, Mah. Mau minta tolong Pak Muis beli ah." 


Mama Elvira dan Daniza saling tatap penuh tanya. Bahkan saat Alvin sudah beranjak menuju pintu dan terdengar memanggil Pak Muis. 


Daniza hanya terkekeh mendengar ucapan mertuanya. 


*


*



Setelah menunggu selama 15 menit, pesanan pun tiba. Alvin layaknya anak kecil yang baru saja mendapat hadiah permen. Terlihat penuh semangat.


Sekarang laki-laki itu kembali duduk di sofa dengan dua porsi rujak di hadapannya. Sengaja ia membeli dua porsi untuk dimakan malam ini.


"Enak, Vin?" tanya mama saat melihat putranya makan dengan lahap.


"Enak, Mah. Jangan minta, ya!" 


Mama Elvira mengatupkan bibir demi tak meledakkan tawa. Ia mulai menduga bahwa Alvin sedang mengalami sindrom couvade atau kehamilan simpatik, di mana suami mengalami ngidam layaknya istri di masa kehamilan.

__ADS_1


"Jangan banyak-banyak makannya. Perut kamu nanti bisa sakit, Mas!" Daniza mencoba mengingatkan, melihat suaminya hendak membuka bungkusan kedua. 


"Tadi kamu juga makan dua porsi steak aku nggak larang!" protes Alvin. 


"Ya sudah, makan aja semua. Jangan mengeluh kalau nanti sakit perut!"


Namun, ucapan Daniza tak diindahkan oleh Alvin. Baru akan menyuapkan potongan buah selanjutnya, ia sudah kembali merasakan sensasi mual di perut.


"Aduh, kenapa lagi ini leher sama perut!" Laki-laki itu segera bangkit menuju kamar mandi untuk menuntaskan rasa mual. 


Daniza yang khawatir melihat keadaan suaminya segera menyusul ke kamar mandi.


Ia tahu betul bagaimana rasanya mual yang sangat menyiksa, sebab ia kerap mengalaminya selama kehamilan ini.


Alvin membasuh wajahnya dengan air setelah rasa tak nyaman pada leher dan perut sedikit berkurang.


 


"Kita ke kamar saja ya, Mas. Aku pijat, kamu kayaknya masuk angin," ajak Daniza, sambil mengusap wajah suaminya dengan handuk.


"Boleh deh. Perutku tidak enak sekali rasanya. Mau rebahan juga." Alvin segera keluar dari kamar mandi.


"Sepertinya kamu kena sindom couvade, Vin," ucap Mama Elvira yang kini berdiri di dekat kamar mandi.  


Seketika bola mata Alvin membulat saking terkejutnya. "Apa, sindrom covid?"


"Bukan covid, tapi couvade," jelas sang mama.


"Penyakit apaan itu, Mah? Virus baru, ya?" tanyanya penasaran. Ia memang belum pernah mendengar jenis penyakit itu sebelumnya. 


"Bukan virus. Tapi ngidamnya Daniz dirasakan juga sama kamu." 


"Ngidam?" Alvin melirik Daniza dan mama dengan bingung. "Memang bisa? Yang hamil siapa yang ngidam siapa?"


"Bisalah!" jawab mama, lalu tertawa puas. Sepertinya ia dapat menggunakan ini sebagai senjata untuk meledek Alvin. "Makanya kamu jangan tahu enaknya saja. Biar kamu juga merasakan nggak enaknya ngidam."


Alvin masih memasang tampang bodoh. "Terus kalau begitu, aku harus minum susu hamil juga, gitu?" 


Mendengar ucapan polos suaminya, Daniza hampir meledakkan tawa. Tetapi, tentunya ia tak akan berani mengingat betapa sensitif suaminya sekarang.


"Ya tidak sampai begitu juga, Vin!" ucap mama gemas. Lalu kembali tertawa.


"Terus aku harus bagaimana biar sindromnya hilang? Mama bukannya kasih solusi malah ngetawain," protesnya lagi.

__ADS_1


"Biarin! Mungkin anak-anak kamu lagi balas dendam karena kamu pernah menyakiti mamanya." 


...*****...


__ADS_2