Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Menikahi Aku secepatnya!


__ADS_3

Daniza membeku di tempat setelah kepergian Mama Elvira. Perlahan ia menyeka air mata yang membanjiri pipi. Pikirannya masih semrawut akibat kejadian barusan. Bahkan ucapan Mama Elvira masih terasa ambigu baginya.


Sedangkan Alvin, tak lagi dapat membendung rasa bahagia. Apalagi setelah mendapat sinyal lampu hijau dari mamanya. Sekarang ia paham bahwa Mama Elvira sengaja menekan Daniza agar mengakui perasaan sebenarnya. Dan sepertinya, Alvin harus melengkapi drama yang dibuat sang mama pagi ini.


"Bagaimana ini? Ibu Elvira pasti sangat marah. Aku jadi tidak enak." Daniza kembali menyeka air mata.


Namun, Alvin tak begitu menanggapi ucapan Daniza. Mama Elvira mau marah atau tidak, Alvin merasa bodo amat. Ada hal yang jauh lebih penting dan harus segera ia konfirmasi. Pikirannya hanya tertuju pada pengakuan cinta Daniza.


"Sejak kapan?"


Sontak Daniza terbengong menatap Alvin. Ia tak paham apa maksud lelaki itu barusan. "Sejak kapan, apanya?"


"Sejak kapan?" ulang Alvin lagi dengan nada lebih menggebu.


Daniza yang belum mampu mengurai maksud Alvin hanya menatap bingung. Air matanya pun berhenti mengalir seketika. "Sejak kapan apanya?" pekik Daniza menaikkan suara satu oktaf.


"Sejak kapan kamu cinta aku?" Kali ini pertanyaan Alvin lebih jelas.


Detik itu juga Daniza merasa tubuhnya meremang. Baru tersadar kejadian beberapa menit lalu, yang tanpa sengaja melakukan pengakuan cinta terhadap Alvin di hadapan Mama Elvira.

__ADS_1


"Soal itu, aku ...." Daniza menundukkan kepala demi menyembunyikan semburat merah di pipi.


"Yang tadi itu bukan sandiwara, 'kan? Apa kamu benar-benar mencintai aku?" Nada Alvin terdengar mendesak dan menuntut jawaban.


Sementara Daniza mulai tampak gugup. Lidahnya terasa kaku untuk digerakkan. Diamnya Daniza pun seolah mengikis kesabaran Alvin. Membuat lelaki itu gemas setengah mati.


"Jawab, Daniz! Yang kamu katakan tadi bukan sandiwara, 'kan?" Tidak lagi mendesak, kini Alvin justru membentak hingga tubuh lemah Daniza terlonjak.


Wanita itu menunduk sambil menganggukkan kepala pelan.


Jangan tanya bagaimana ekspresi Alvin saat ini. Meskipun hanya sekadar anggukkan, tetapi sudah merupakan sebuah jawaban valid. Senyum lebar terlukis di wajah menawan laki-laki itu.


"Tidak tahu," lirihnya.


"Tidak tahu? Jawaban macam apa itu?" gerutu Alvin dalam hati. Ingin rasanya mengigit bibir Daniza saking gemasnya. "Masa tidak tahu?"


"Mungkin sejak semalam!" jawab Daniza seadanya. Tetapi jangan harap jawaban itu dapat memuaskan Alvin.


"Memangnya cinta bisa terjadi dalam durasi satu malam?"

__ADS_1


"Memangnya cinta itu bayi yang bisa jadi dalam durasi semalam?" tambah Alvin dalam hati.


"Pokonya aku tidak tahu!" Jika ditanya sejak kapan, Daniza memang tidak tahu pasti. Yang jelas ia baru menyadari semalam setelah api cemburu melahap dirinya melihat kedekatan Alvin dengan Dokter Mila.


Alvin menyerah setelah melihat mata Daniza yang kembali berkaca-kaca. Ia paham Daniza bukanlah seorang wanita yang mudah mengaku cinta kepada seseorang.


Akhirnya lega. Tidak sia-sia perjuangan hampir mati karena tidak bertemu Daniza selama berminggu-minggu.


Sepertinya sebentar lagi Alvin benar-benar akan memasuki gorong-gorong impian. Gorong-gorong yang kerap menjadi pembahasan ngeres laki-laki normal.


"Ya sudah, tidak apa-apa kalau tidak tahu." Alvin membelai puncak kepala Daniza. Kemudian memasang wajah paling menyedihkan.


"Sekarang aku harus bagaimana? Ibu Elvira pasti marah setelah kejadian tadi." Wajah Daniza yang tadinya merah kembali murung. Entah mengapa pikirannya masih saja terfokus kepada wanita itu.


"Aku minta maaf, gara-gara aku ketiduran, mama jadi menuntut kamu untuk menikahi aku secepatnya," ucap Alvin penuh sesal.


Spontan sepasang mata Daniza melotot tajam. Cubitan keras ia hadiahkan di lengan Alvin. Anak dan ibu itu memang sefrekuesi dan sangat pandai memutar balikkan fakta. Seolah Daniza lah yang telah melakukan perbuatan tak senonoh terhadap Alvin dan harus bertanggung jawab.


"Kenapa jadi aku? Kak Alvin yang ketiduran di sini!"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2