
Daniza dapat bernapas lega setelah pengadilan mengabulkan gugatannya. Ketiadaan Revan hari ini di sidang putusan mempermudah segalanya. Bahkan Daniza tidak menemui kendala apapun selama berada di dalam ruang sidang. Mbak Iyem dan Mina, Dua bekas asisten rumah tangga yang turut hadir, memberikan kesaksian atas perbuatan jahat Revan beberapa bulan lalu.
Daniza baru saja keluar dari ruang sidang dan memilih duduk di kursi ruang tunggu. Pikirannya beterbangan ke masa lalu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kehidupannya akan semenyedihkan sekarang. Ia kehilangan segalanya di saat bersamaan, dan yang paling menyakitkan adalah kehilangan anak.
"Daniz!" Panggilan itu membuyarkan lamunan Daniza. Alvin tiba-tiba datang dan duduk di sebelahnya.
"Kak Alvin?"
"Bagaimana sidangnya?" Alvin memasang wajah prihatin, menyembunyikan perasaan menggebu yang sebenarnya.
"Sudah selesai, Kak. Gugatannya dikabulkan."
Alvin bernapas lega. Jika saja tidak melihat wajah Daniza yang suram, ia pasti sudah bersorak bahagia. Ini adalah berita paling membahagiakan yang pernah ia dengar seumur hidup.
"Terus kamu tunggu apa di sini? Apa mau aku antar pulang?"
"Aku kan di antar sopir tadi."
"Aku suruh dia antar Mbak Iyem sama Mina pulang." Laki-laki itu mengulas senyum tipis. "Yuk, aku antar kamu pulang!"
Daniza mengangguk saja, membuat Alvin menggandeng tangannya. Daniza sempat menunjukkan reaksi penolakan dengan menarik tangannya, tetapi Alvin menggenggamnya dengan begitu erat. Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan gedung itu. Kini tidak ada penghalang lagi untuk Alvin menunjukkan cinta dan mengejar pujaan hatinya itu.
"Revan tidak datang, ya?" tanya Alvin.
__ADS_1
Padahal dirinya tahu betul ke mana mantan suami Daniza itu hingga tidak menghadiri persidangan. Hey penduduk Galaksi Bimasakti, berilah penghargaan tertinggi untuk Alvin Alexander atas aktingnya yang memukau.
"Tidak," jawab Daniza diiringi gelengan lemah. Sebenarnya ia juga lebih senang jika Revan tidak datang ke persidangan, karena benar-benar mempermudah. Tetapi rupanya hal itu malah membuat Alvin mengira Daniza bersedih karena perpisahan dengan Revan. Bahkan sepanjang perjalanan pulang, Daniza tak banyak bicara. Wajahnya tampak sangat suram.
"Kenapa sih kamu harus sedih hanya karena pisah dari laki-laki seperti Revan? Padahal ada aku yang selalu menunggu kamu sejak lama."
*
*
*
Di sisi lain, Revan sedang dalam perjalanan pulang setelah Eric melepasnya dari gorong-gorong terkutuk tempat Alvin menyekapnya. Tidak ada yang dapat dilakukan Revan, sebab sebelum melepas, Eric sempat memberi ancaman mematikan kepada Revan, jika berani melaporkan perbuatan Alvin kepada polisi. Dan Revan tahu betul seberbahaya apa Alvin. Dia mampu melakukan apapun demi memuluskan rencananya.
"Aku harus mengembalikan perusahaan Daniz dan meminta Alina meninggalkan rumah itu. mungkin dengan itu Daniza mau memaafkanku."
Revan masih memiliki keyakinan bahwa Daniza masih menyimpan sedikit rasa cinta untuknya, hanya saja Alvin telah berhasil mencuci otaknya.
*
*
*
__ADS_1
Jika Revan sedang tenggelam dalam rasa bersalah, maka berbeda dengan Alina yang sedang ketakutan. Ancaman Alvin kemarin yang akan menjebloskannya ke penjara terus terngiang dalam ingatan. Perbuatannya kepada Daniza beberapa waktu lalu memang terbilang kejahatan besar, sampai mengorbankan janin tak berdosa.
"Tidak! Aku tidak mau masuk penjara!" Alina berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Sambil memikirkan cara untuk terbebas dari jeratan hukum. Ia benar-benar frustrasi sekarang.
"Arg!" Suara teriakan Alina mengejutkan penghuni rumah, disusul dengan suara pecahan kaca. Alina baru saja menghempas gelas hingga pecahannya berhamburan. Wanita itu menjerit, menangis dan menjambak rambut panjangnya yang tampak acak-acakan.
"Bagaimana kalau polisi benar-benar menemukan sidik jariku di gelas minuman Daniza? Aku pasti akan dipenjara!"
Alina terus berteriak dan menangis, tanpa menyadari kehadiran Revan yang sejak tadi ada di ambang pintu. Kedua tangan laki-laki itu terkepal sempurna setelah mampu mengambil kesimpulan.
"Jadi kamu dalang di balik pendarahan yang dialami Daniza?"
Suara Revan yang tiba-tiba hadir membuat Alina gemetar seketika. Ia menoleh ke sumber suara, tampak Revan tengah berdiri di ambang pintu dengan bonus tatapan tajam menghujam.
"Re-Revan?" Alina tergugu.
Secepat kilat, lelaki itu melangkah masuk, mencengkram kuat-kuat kedua lengan Alina dan melesakkannya ke tubuhnya yang tinggi. Alina harus meringis kesakitan, karena Revan seperti mampu meremukkan tulangnya.
"Sakit, Rev!" keluh Alina, namun Revan seakan tak peduli.
"Jawab aku! Apa yang sudah kamu lakukan kepada Daniza sampai mengalami pendarahan!" Revan mendorong Alina kasar, hingga wanita itu terhempas ke ranjang.
****
__ADS_1