Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Drama Pagi Hari


__ADS_3

Daniza memindai Alvin dan Eric secara bergantian. Keduanya tampak kikuk dan hanya saling pandang satu sama lain seolah saling mencari jawaban.


"Emm ... siapa ya? Kamu kan, Ric?" Keringat mulai bercucuran di pelipis Alvin. 


"Enak aja main tuduh!"


"Siapa?" Bentakan Daniza semakin keras. Di titik ini Alvin baru tahu bahwa ternyata wanita kalem seperti Daniza juga bisa berubah menjadi banteng kesurupan. 


Alvin berpikir sejenak. Berusaha untuk mencari cara untuk terbebas dari keadaan ini. Bisa tidur di luar jika sampai Daniza merajuk. Apa lagi emosi wanita hamil sangat mudah berubah. 


"Sayang, kita ke kamar aja, yuk! Si Eric tadi iseng kepoin instagram artis luar. Aku cuma ikut melihat sedikit, sumpah!" Ia segera merangkul bahu istrinya. "Maklum, Eric keseringan makan masakannya Mila, jadi agak linglung." 


Alvin lantas meraih ponsel milik Eric yang masih digenggam Daniza, kemudian ia kembalikan kepada Eric.


"Nih ambil! Makanya lain kali matanya jangan jelalatan. Mila kurang cantik apa di mata kamu sampai harus melirik artis luar?" 


Ucapan Alvin membuat Eric meradang. Alvin malah melemparkan semua kesalahan kepadanya. Padahal tadi jelas-jelas Alvin terus mengomentari foto-foto yang mereka lihat.


"Kok aku sih? Kan kamu yang kasih komentar dan like tadi di situ!" pekik Eric tak terima.


Kesal dan cemburu, Daniza melepas tangan Alvin yang memeluk bahunya.


"Lepas, Mas! Malam ini aku tidak mau tidur sama kamu!" 


Wanita itu segera beranjak keluar kamar meninggalkan Alvin dan Eric yang masih mematung. Tak sanggup tidur tanpa Daniza, Alvin segera menyusul sang istri. Sayangnya, pintu sudah lebih dulu ditutup rapat oleh Daniza. 


"Gara-gara lihat semangka jadi apes kan malam ini!" 


Akhirnya, Alvin memilih membujuk istrinya yang tengah merajuk dengan mengetuk pintu kamar berkali-kali. Tetapi, tak ada sahutan dari Daniza. Pintu pun terkunci rapat dari dalam. 


"Sayang, maafin aku. Aku janji lain kali nggak akan lihat begituan lagi," bujuknya lembut. "Sayang ...." 


Laki-laki itu menghembuskan napas panjang setelah tak mendapat respon. Sepertinya Daniza benar-benar sedang kesal terhadapnya. 


"Gara-gara Eric, nih!" 


Dengan langkah lemas, Alvin kembali ke kamar Eric yang berada tak begitu jauh dari kamarnya. 


"Bagaimana? Diusir, ya?" tanya Eric sambil menatap miris. 


"Semua ini gara-gara kamu, tahu! Ngapain tadi lihat begituan segala?" gerutu Alvin.


Eric malah cekikikan. "Salah sendiri kenapa ikutan melihat. Pakai like dan komen lagi. Kamu itu kan sudah menikah, Vin. Sebentar lagi punya anak," ucapnya sok bijak. 


Alvin hanya berdecak, lalu menjatuhkan tubuhnya di pembaringan.

__ADS_1


"Terpaksa malam ini tidur dengan kamu!"  


Kepalan tinjunya mendarat ke bantal, denhan ekspresi yang terlihat sangat kesal. Gara-gara melihat semangka dan melon ia harus kehilangan durian malam ini dan harus tidur dengan pisang. 


"Kapok!" 


*


*



Pagi harinya. 


Sepanjang sarapan, Mama Elvira menatap Alvin dan Daniza secara bergantian. Sepasang suami dan istri itu tampak saling diam dan belum bertegur sapa sejak tadi. Padahal sebelumnya Daniza selalu melayani Alvin di meja makan.


Bahkan saat selesai sarapan dan membuat kopi untuk Alvin, Daniza langsung kembali ke kamar. Membuat Alvin segera menyusul istrinya itu.


"Ada apa dengan kakak kamu, Ric? Kenapa dia diam-diaman sama Daniza?" tanya Mama Elvira.


"Dia lagi dihukum Daniza, Mah," jawab Eric jujur.


Dahi mulus Mama Elvira berkerut dalam. Setahunya, Daniza bukan lah tipe wanita yang mudah marah. Jika sampai marah, berarti Alvin telah melakukan kesalahan besar. "Dihukum kenapa memangnya?" 


"Lihat artis pakai baju renang? Di mana?" Mama Elvira tampak semakin penasaran.


"Di IG. Tapi dia lihatnya pake hapeku."


"Hah? Kok bisa sih, Ric?"


"Jadi semalam Alvin masuk ke kamar untuk membicarakan perusahaan Daniza yang dikembalikan oleh Revan."


"Terus?" tanya Mama Elvira sengaja memancing.


"Aku lagi lihat reels di IG, Mah. Terus nggak sengaja lihat foto. Nah, si Alvin malah ikutan. Kebetulan Daniza datang dan lihat. Perang deh mereka," jelas Eric panjang lebar.


Mama Elvira mencoba membedah ucapan Eric, lalu kemudian membentuk sebuah kesimpulan dalam benaknya. Sekarang ia benar-benar paham mengapa Daniza bisa sampai merajuk.


"Memang pantas Alvin dihukum kalau kelakuannya begitu. Sudah punya istri masih jelalatan," gerutu sang mama melanjutkan sarapannya. "Lalu kamu sendiri bagaimana?"


Eric memasang senyum bodoh. Kali ini disertai garukan di kepala. "Aku cuma intip sedikit, Mah. Cuma kebetulan lihat fotonya lewat. Yang parah itu Alvin karena nge-like dan komentar."  


Mama Elvira mengangguk paham. "Jadi artinya kamu yang duluan buka gambar gituan?" 


Eric mengangguk mantap. "Iya, Mah. Tapi aku cuma lihat doang. Alvin yang like dan komen, Beneran!"

__ADS_1


"Bagus, ya!" Suara tak asing yang tiba-tiba muncul dari arah belakang membuat Eric terpaku di tempat. Ragu-ragu laki-laki itu menoleh. Tampak Mila berdiri di belakang dengan memasang raut wajah super kesal


"Mati aku!" 


"Pantesan semalam kamu nggak balas chat dan nggak jawab telepon dari aku. Ternyata kamu lagi kepoin artis luar, ya?" ucap wanita itu.


Mama Elvira mengatupkan bibir menahan tawa. Sepertinya pagi ini akan diwarnai dengan kekesalan Daniza dan juga Mila.


"Hai, Mila! Selamat pagi. Ayo, duduk dan kita sarapan!"


Mila tak segera menyahut. Tanpa kata ia sudah meletakkan jarinya di bagian telinga kiri Eric.


"Ampun! Ampun!"


*


*



"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku janji lain kali tidak begitu lagi," ucap Alvin sesaat setelah masuk ke kamar.


Daniza menatap suaminya itu. "Kalau kamu yang ada di posisi aku bagaimana?"


Alvin berpikir sejenak. Membayangkan bagaimana jika Daniza memandangi potret laki-laki lain. Baru memikirkan itu saja hatinya jadi panas, apa lagi jika Daniza benar-benar melakukannya. Entah seberapa cemburu Alvin nantinya.


Laki-laki itu segera berjongkok di hadapan sang istri dan menggenggam jemarinya.


"Aku memang salah. Aku mengerti perasaan kamu sekarang. Maafin aku, ya! Janji lain kali nggak begitu lagi!"


Daniza menarik napas dalam. Sebenarnya ia tak benar-benar marah terhadap suaminya. Merajuk semalam sengaja ia lakukan untuk memberi efek jera.


Padahal semalam, ia begitu merindukan Alvin. Sebab, tidak terbiasa jika harus tidur tanpanya.


"Ya sudah aku maafkan! Tapi kalau lain kali kamu ulangi, aku akan benar-benar marah!"


"Iya, Sayang. Aku janji."


Alvin mengulas senyum lebar. Sebelah tangannya bergerak mengusap puncak kepala sang istri, dan turun ke dada.


"Ups, maaf, rem tangannya lagi blong!"


...****...


 

__ADS_1


__ADS_2