
Kata sebagian orang, Kehamilan simpatik dapat terjadi sebagai bukti bahwa suami begitu mencintai istrinya. Alvin percaya itu. Sebab ia memang merasa terlalu mencintai Daniza.
Sekarang pria itu sedang mengaduk makanan dengan menggunakan sendok. Dua hari ini ia benar-benar kehilangan selera makan.
"Dimakan, Vin! Kasihan makanannya kamu mainkan begitu!" ucap Mama Elvira yang tengah menikmati makan malamnya.
"Lagi tidak selera, Mah. Perasaanku tidak enak dari tadi."
"Tidak enak kenapa?"
"Lagi mikirin Eric yang lagi ke rumahnya Mila."
"Ke rumah Mila? Ngapain?" tanya sang mama tampak sangat penasaran.
"Katanya Eric mau dikenalkan sama orang tuanya Mila sebagai calon suami. Tadi Eric bilang lagi insecure mau ke sana. Tapi demi Mila dipaksain!"
Mendadak wajah Mama Elvira berubah serius mendengar ucapan Alvin. "Eric sendirian ke sana?"
"Iya, Mah. Memang mau sama siapa lagi?" Dahi Alvin berkerut. Heran melihat reaksi mamanya yang begitu terkejut.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi, Alvin? Dan kenapa kamu biarkan Eric pergi sendirian ke rumah orang tuanya Mila?"
Mama Elvira langsung bangkit dari duduknya. Ia tahu betul seperti apa Linda, teman arisannya yang terkenal sangat sombong dan arogan itu. Pikiran mama Elvira sudah dipenuhi prasangka buruk, bagaimana jika sampai nanti Eric direndahkan oleh keluarga besar Mila. Sebagai seorang ibu, ia tak akan rela.
"Mama mau ke mana?" tanya Alvin kemudian.
"Mau nyusul Eric! Mama tidak mau Eric dihina nanti sama Jeng Linda."
"Tapi, Mah—"
"Tidak ada tapi-tapian!"
Mama Elvira mempercepat langkah menuju kamar. Dalam hitungan menit ia sudah kembali dengan penampilan sangat elegan. Persis seperti ibu-ibu sosialita seperti pada umumnya.
"Alvin, Daniz, Mama pergi dulu, ya!"
Alvin dan Daniza masih mematung di tempat. Mama memang sangat menyayangi Eric, bahkan terkesan memanjakan. Siapapun yang melihat pasti akan mengira Eric juga merupakan anak Mama Elvira.
Baru saja Alvin dan Daniza akan menyusul, mobil yang ditumpangi Mama Elvira sudah melesat meninggalkan halaman rumah.
*
*
*
Eric menarik napas dalam-dalam demi mengumpulkan keberanian. Malam ini, ia sudah berada di depan sebuah rumah mewah. Rencananya Mila akan mengenalkan Eric kepada kelurga besarnya sebagai lelaki pilihannya.
__ADS_1
Pelan tapi pasti, Eric melangkah. Ia sudah mempersiapkan hatinya jika ternyata keluarga besar Mila tidak menerima dirinya dengan baik.
"Setidaknya aku sudah berusaha untuk Mila!" ucap Eric dalam hati.
Sebenarnya, ia agak ragu untuk mendatangi rumah itu malam ini. Tetapi, semua dilakukannya demi membuktikan cintanya kepada Mila.
Kedatangan Eric pun disambut seorang asisten rumah tangga. Ia menuntun Eric menuju taman di samping rumah, tempat seluruh keluarga sedang berkumpul.
Semua perhatian langsung tertuju kepada sosok yang baru saja tiba. Di sana ada Mila yang malam ini tampak sempurna dalam balutan gaun berwarna nude. Di sebelahnya ada seorang wanita dan pria paruh baya yang juga menatap ke arahnya. Juga beberapa keluarga lain yang tampak antusias.
"Maaf, saya agak terlambat," ucap Eric bermaksud basa-basi.
Sambil menerbitkan senyum terindah, Mila bangkit menyambut raja dalam hatinya itu. Sebuah buket bunga mawar merah diserahkan Eric kepada Mila. Membuat wanita itu tersenyum penuh rasa bahagia. Ini adalah pertama kali Eric memberinya sebuah hadiah romantis.
Mila melingkarkan tangan di lengan Eric dan berjalan bersama mendekat ke meja di mana orang tuanya berada.
"Papi, Mami, semuanya, kenalkan ini Eric." Mila menatap ke dua orang tuanya. "Inilah calon suami pilihanku."
Sontak saja sepasang suami istri itu bangkit meninggalkan tempat duduknya. Tatapan tak senang sudah mengarah kepada putrinya. Terlebih, mereka kebetulan tahu siapa Eric, yang merupakan asisten pribadi Alvin Alexander. Ayah Mila sendiri adalah salah satu rekan bisnis Alamjaya Grup. Perusahaan mereka adalah pemasok bahan baku untuk beberapa produk untuk perusahaan Alvin.
"Mila? Kamu serius, Sayang? Dia ini kan asisten pribadinya—" Wanita itu seolah tak dapat melanjutkan ucapannya.
"Memangnya kenapa, Mi?" potong Mila. Dalam hitungan detik ketegangan sudah melanda. "Aku memilih Eric karena aku mencintai dia."
Bola mata mami membulat penuh. Wanita dengan rambut sebagian memutih itu tak dapat membendung rasa terkejut. Lututnya lemas, tubuhnya langsung terduduk di kursi. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa lelaki yang membuat Mila berani memutuskan perjodohan dengan Ruben—yang notabene adalah pewaris sebuah perusahaan—ternyata adalah Eric.
"Maaf, kalau kedatangan saya menganggu," ucap Eric.
"Tidak apa-apa, Nak Eric. Maafkan maminya Mila. Dia itu memang sedikit keras. Ayo, silahkan duduk dulu!" ucap papi.
"Tidak usah, Om. Saya di sini saja!"
Semakin bersalah saja papi oleh kelakuan istrinya barusan. Apa lagi Mami Linda terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Eric.
"Mila, Sayang. Kamu lihat dong siapa dia! Dia tidak punya masa depan yang cerah. Kamu bisa hidup susah nanti kalau salah memilih jodoh!" bujuk Mami.
"Mami ini kenapa, sih? Kenapa Mami hanya memandang orang dari segi materi dan status sosial. Eric itu baik dan aku hanya mau sama dia!"
"Mami hanya hanya memikirkan masa depan kamu, Mila! Daniza saja janda bisa dapat Alvin yang pewaris Alamjaya. Masa kamu dokter, cantik, berkelas dapatnya laki-laki seperti dia?"
Eric menarik napas dalam. Setiap kalimat yang terucap dari Mami Linda benar-benar melukai harga dirinya. Jika tidak memandang Mila, ia pasti sudah meninggalkan tempat itu sejak tadi.
"Jadi maksudnya Mami mau jual aku?"
"Mila!" Sebuah tamparan keras mendarat mulus ke pipi Mila. Mami tampak sangat murka. "Kamu ini maunya apa sih? Mami sudah pilihkan kamu laki-laki yang layak tapi kamu lepas begitu saja! Sekarang kamu mengenalkan seorang laki-laki yang tidak layak ke keluarga kita! Mau ditaruh di mana muka mami kalau sampai kamu menikah dengan pemuda yang tidak jelas asal-usulnya!"
"Kata siapa Eric anak tidak jelas asal usulnya?" Suara Mama Elvira tiba-tiba memekik di udara. Membuat Eric mematung di tempat.
__ADS_1
Semua orang pun menoleh ke sumber suara. Selama beberapa saat keheningan tercipta. Tak ada yang berani mengeluarkan suara, terlebih sekarang Mama Elvira tengah dalam keadaan sangat marah.
"Jeng Elvira ...." ucap Mami Linda.
Mama Elvira melangkah perlahan hingga berdiri tepat di sisi Eric.
"Tante—" Eric menunduk. Tak berani lagi menatap Mama Elvira.
"Kenapa kamu tidak minta izin mama kalau mau ke sini?" tanya wanita itu.
"Maaf, Tante," jawab merasa bersalah. "Aku sudah janji ke Mila akan ke sini. Tapi ya sudahlah, kita pulang aja, yuk!"
"Pulang? Baik, tapi sebelumnya biar mama kasih tahu mereka siapa kamu yang sebenarnya!" pekik sang mama.
Eric merasakan tubuhnya meremang saat itu juga. Melalui senyum, ia mencoba meyakinkan Mama Elvira bahwa dirinya baik-baik saja.
"Jangan, Tante. Udah, kita pulang aja, yuk! Aku bena-benar tidak apa-apa."
Eric melingkarkan tangan ke bahu Mama Elvira dan membujuknya agar mau pulang. Tetapi, wanita yang sudah terlanjur naik pitam itu tak bergeser sedikit pun. Malah kini menghujamkan tatapan tajam kepada semua orang yang ada di hadapannya.
"Tidak! Sebelum mereka tahu sudah menghina orang yang salah!"
"Maksudnya apa, Jeng? Memang si Eric ini siapa? Bukannya dia cuma asisten pribadinya Alvin, ya?" ucap wanita itu. "Maaf, Jeng. Mila ini anak saya satu-satunya. Saya tidak mungkin sembarangan mencarikan calon suami untuk Mila."
Mendengar ucapan maminya, Mila refleks menyela. Semakin besar rasa bersalahnya terhadap Eric. "Mami apa-apaan, sih? Aku cuma mau sama Eric, Mi!"
"Diam kamu, Mila! Kamu hanya dibutakan cinta!" bentak Mami Linda.
Apa yang tersaji di depan mata membuat kesabaran Mama Elvira benar-benar terkikis. Apalagi setelah mendengar semua hinaan kejam yang dilontarkan kepada Eric.
"Baik! Silahkan carikan anak kamu itu laki-laki yang sepadan. Ingat, yang sepadan! Karena Mila dan Eric memang tidak sepadan."
"Tante—"
"Jangan halangi mama, Ric! Selama ini mama sudah menuruti keinginan kamu untuk diam. Sekarang kamu yang harus menurut!" pekik Mama Elvira.
Eric membungkam saat itu juga.
Mama Elvira lantas kembali mengarahkan pandangan kepada Mami Linda. Kemarahan dalam tatapannya terlihat sangat jelas.
Semua orang terpaku. Ada yang hanya saling berbisik, ada pula yang hanya sekedar melirik. Tak ada yang berani menyela Mama Elvira. Terlebih Mila yang kini sudah melelehkan air mata.
"Jeng Linda, dengar baik-baik! Eric bukan anak yang tidak jelas asal-usulnya. Sebagai ibu saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti ini! Dan asal kalian semua tahu saja, Eric adalah bungsu di keluarga Alamjaya."
Sepasang mata Eric terpejam. Hela napasnya berat. Apa yang selama ini ingin ia tutupi dari seluruh dunia akhirnya terbongkar juga.
...****...
__ADS_1