
Alvin benar-benar bernapas lega setelah Mama Elvira keluar dari kamar. Sekarang ia menatap istrinya yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Entah mengapa Daniza menunduk dengan pipi merona saat Alvin menatapnya seperti hendak melahap.
"Gangguan sudah pergi," ucap Alvin tampak sangat bahagia.
"Jangan begitu, Mas! Masa mama dibilang gangguan," protes Daniza.
"Habis mama suka tiba-tiba datang nggak diundang. Kamu belum pernah merasakan jurus sapu flying in the sky punya mama, makanya terus membela."
"Salah kamu sendiri, jangan salahkan mama," Balas Daniza, masih membela sang mertua. "Mama manapun pasti kesal kalau kelakuan anaknya begini."
"Iya ampun!" Alvin menjatuhkan tubuhnya di sisi Daniza. "Ngomong-ngomong kemarin mama ngumpetin kamu di mana?"
Sampai saat ini, Alvin masih mempertanyakan di mana mama menyembunyikan Daniza kemarin. Sebab sama sekali tidak ada tanda keberadaan Daniza di mana-mana.
"Di vila. Mama bilang vila itu papa yang beli beberapa tahun lalu," jawabnya santai.
"Pantas aku susah cari."
Daniza mengulas senyum. Ia sandarkan kepala di dada suaminya. "Memang kamu pernah cari aku?"
"Sering. Tapi mama nggak mau kasih tahu!" Tak ingin menunda waktu, Alvin mendorong Daniza pelan hingga tubuh mereka terbaring. Sambil meraba area mana pun yang diinginkannya.
Daniza menghela napas panjang. "Tangannya tolong kondisikan!" ucapnya saat merasakan tangan Alvin mulai menjelajah.
"Jangan banyak protes! Aku akan balas dendam karena kamu dan Eric sudah berani ngerjain aku dengan reuni palsu." Laki-laki itu menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua.
"Anak dibawah umur memang harus dikerjain dengan cara seperti itu, kan?" Daniza terkekeh setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Tapi anak di bawah umur satu ini paling hot, kan? Kamu selalu diam-diam menyelinap masuk ke kamar untuk bisa tidur sama anak di bawah umur!" ucap Alvin. Sengaja mengungkit kelakuan Daniza yang selalu menyelinap ke kamarnya tengah malam.
"Dan kamu anak di bawah umur yang otaknya paling m3sum, sampai harus pura-pura mimpi untuk bisa peluk tante-tante." Daniza balas menyindir.
Alvin tertawa gemas, lalu menggigit bibir Daniza yang baginya sangat menggemaskan. Dalam hitungan menit pakaian tidur Daniza sudah terlempar entah ke mana. Petualangan baru saja akan dimulai.
*
*
*
__ADS_1
Pagi ini suasana di rumah tampak berbeda dari hari-hari biasanya. Alvin terbangun dengan penuh semangat setelah semalam mengisi ulang imun tubuhnya yang sempat menurun. Sekarang laki-laki itu sudah berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut, dengan bunyi siulan yang terdengar ceria memenuhi kamar.
Perlahan Daniza terbangun dan menatap suaminya yang sudah rapi dengan setelan pakaian formal.
"Mau ke mana, Mas?" tanya Daniza. Suaranya terdengar masih serak. Ia merentangkan tangan ke samping untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah aktivitas semalam. Kemudian membenarkan posisi duduk dan menggulung selimut hingga batas dada.
"Mau ajak kamu keluar. Kita sudah lama tidak jalan berdua." Alvin mendekat dan membungkukkan kepala untuk mencium kening istrinya. "Cepat bangun dan mandi! Pagi ini ini kita akan ke dokter dulu."
"Dokter? Kamu sakit, Mas?" Raut wajah Daniza sudah mulai terlihat khawatir. Takut jika kecelakaan yang terjadi beberapa waktu lalu masih berefek pada kesehatan suaminya.
"Bukan aku, tapi kamu."
"Aku? Tapi aku merasa baik-baik saja!"
"Jangan membantah. Aku sudah buat janji dengan Dokter Allan pagi ini untuk memeriksa kandungan kamu."
Dahi Daniza berkerut tipis. Berusaha mengingat nama yang baru saja disebut suaminya. "Dokter Allan yang saat aku pendarahan dulu itu, kan?"
"Iya, Sayang. Aku mau memastikan kandungamu baik-baik saja. Kemarin kamu jatuh di hotel, kan?"
"Itu kan bukan jatuh beneran, Mas," jelas Daniza. "Bukannya sudah kujelaskan semalam?"
Daniza terkekeh. Kemudian mengulurkan tangan untuk meraih jubah mandi dan membalut tubuhnya. Sebelum masuk ke kamar mandi, ia terlebih dahulu memeluk suaminya. Rasanya kerinduan masih belum hilang dari hatinya.
"Terima kasih, Mas. Akhirnya suamiku yang budiman segalaksi Bima Sakti sudah kembali."
Alvin tertawa pelan. Lantas membalas pelukan dan membelai rambutnya dengan lembut.
"Kamu memang istri solehot!"
*
*
*
Selepas sarapan, Alvin dan Daniza bergegas menuju halaman rumah. Alvin melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Hari ini ia sengaja meluangkan waktu beberapa jam untuk Daniza sebelum menghadiri rapat di kantor.
Pria bertubuh jangkung itu lantas naik ke mobil. Daniza sudah duduk manis di samping. Baru saja Alvin akan menyalakan mesin mobil, bayangan kecelakaan yang terjadi di Paris kembali muncul dalam ingatan. Membuat kepalanya kembali berdenyut.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Daniza ketika mendapati suaminya tengah memijat kepala. Ia dapat melihat wajah Alvin yang tiba-tiba sedikit pucat. Tangannya pun terlihat gemetar.
"Kepalaku agak sakit." Sejak mengalami kecelakaan itu, Alvin memang belum pernah menyetir sendiri. Selama dua bulan ini ia diantar Eric atau sopir saat keluar rumah.
Daniza paham, kecelakaan itu mungkin masih menyisakan trauma bagi suaminya. Terlebih, saat kecelakaan itu Alvin mengalami luka yang cukup serius.
"Jangan menyetir sendiri dulu, ya. Biar aku panggil sopir aja," tawar Daniza.
Alvin mengangguk, membuat Daniza turun dari mobil untuk memanggil sopir.
*
*
*
Setelah menghabiskan 20 menit di jalan, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Alvin menggandeng tangan istri nya menuju tempat pendaftaran pasien.
Sebenarnya ia bisa saja mengunjungi klinik Dokter Allan di malam hari setelah kembali dari kantor, tetapi rasanya sudah tidak sabar untuk mengetahui perkembangan janin dalam kandungan Daniza.
Setelah mendaftar, keduanya duduk di kursi tunggu bersama pasien lain. Alvin duduk santai sambil memainkan ponsel, sementara Daniza memilih membaca buku seputar kehamilan yang tersedia di ruang tunggu.
"Mas ...." panggil Daniza.
"Hemm ...."
"Coba lihat foto bayi perempuan ini. Lucu ya? Aku suka anak perempuan deh, Mas," ucap Daniza sambil memperlihatkan foto bayi perempuan dalam majalah.
"Tapi aku suka anak laki-laki," balas Alvin.
"Kenapa?"
"Biar ganteng kayak papanya." Alvin menjawab singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Ia sedang berkirim pesan dengan Eric.
Tak lama berselang, terdengar panggilan atas nama Daniza. Keduanya langsung berdiri menuju ruangan sang dokter. Baru saja pintu terbuka, mereka sudah disambut dengan senyum ramah sang dokter.
Dokter Allan tampak terdiam menatap sepasang suami istri itu seperti sedang berusaha mengingat.
"Eh, ini pebinor yang waktu itu, kan? Jadi dia yang tadi membuat janji? Wow, misi merebut istri orang sukses ternyata!"
__ADS_1
...****...