Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Pakai Wing!


__ADS_3

Alvin melukis senyum di bibirnya saat menyadari keberadaan mamanya di ambang pintu. Melihat gagang sapu di belakang punggung, Alvin sudah menduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia harus bisa sepandai mungkin memanipulasi keadaan agar selamat dari amukan sang ibu negara. 


"Eh, Mama ...." Alvin memasang senyum terbaiknya, yang sayangnya masih terlihat bodoh di hadapan sang mama. "Masuk, Mah. Kenapa  repot-repot bawa sapu? Apartemen ini selalu bersih, kok, Mah. Jadi tidak perlu dibersihkan lagi." 


Alvin menggeser tubuhnya dari pintu. Lalu mempersilahkan sang mama untuk masuk. Namun, wanita itu hanya merespon dengan tatapan tak bersahabat. 


"Mama ke sini bukan untuk membersihkan apartemen kamu, tapi untuk membersihkan kelakuan kamu yang kotornya luar biasa."


Intuisi Alvin menuntunnya untuk memasang sikap waspada. Terlebih, kini mama sudah siap dengan senjata andalannya itu. 


"Sabar, Mah! Ingat, hanya nenek sihir dalam negeri dongeng yang mainannya sapu." 


"Kamu ngatain mama nenek sihir." Perlahan mama melangkah maju seiring dengan langkah kaki Alvin yang terus mundur. 


"Bukan ngatain, tapi ngingetin, Mah!" 


"Itu apa bedanya?" 


Baru saja mama akan mengangkat gagang sapu tinggi-tinggi, pintu salah satu kamar sudah terbuka. Mama terpaku memandangi wanita itu dari ujung kaki ke ujung rambut. Paras cantik dengan bentuk tubuh aduhai itu membuatnya bertanya-tanya. Bahkan ia tak mengenali bahwa sosok di hadapannya itu adalah Daniza. 


"Buaya memang kamu, Vin!" Mama menarik kerah kemeja Alvin hingga tubuh pria itu sedikit mendekat. "Siapa dia?" tanya sang Mama semakin geram. 


Alvin memamerkan senyum tipis, lalu berbisik pelan, "Calon mantu Mama." 


Jawaban yang diberikan Alvin sontak membuat mamanya memejamkan mata. Ia tampak frustrasi. Beginikah hasil didikan kerasnya selama ini? Detik itu juga, tangan mama sudah bergerak ke atas dan menjambak rambut putranya. 


"Sakit, Mah! Anak Mama yang Budiman seantero galaksi Bimasakti ini bisa botak!"


"Biarin!" pekik wanita itu sangat geram. "Alvin! Ternyata selain pebinor kamu juga buaya, ya!" 


Sudut mata Alvin berkerut mendengar tuduhan keji mamanya. Jika disebut pebinor, mungkin ia akan terima karena memang begitu lah adanya. Tetapi jika disebut playboy atau buaya tentu saja ia keberatan. Karena sejak dulu, hanya Daniza seorang yang mengisi hatinya. 


"Kok buaya si, Mah?" 


"Kalau bukan buaya, lalu sebutan apa yang tepat untuk kamu? Penjahat kelamin atau casanova? Kemarin kamu tergila-gila sama Daniza! Dan hari ini kamu bawa perempuan lain ke apartemen ini! Maksud kamu apa, Vin? Kamu mau bikin jantung mama senam zumba?" 


Sepintas Mama melirik wanita yang mematung di ambang pintu. Meskipun saat ini ia sangat marah, tetapi masih berbicara dengan suara pelan wanita asing di sana tidak mendengar. Lagi pula, wanita itu tampak menunduk seperti seseorang yang sedang ketakutan. 


Rahang Alvin terbuka mendengar tuduhan mamanya yang muai naik level. Pria itu menggeleng cepat sebagai bentuk penolakan. "Itu Daniza, Mah!" 

__ADS_1


"Hah?" Mama kembali melirik ke arah wanita itu sambil memperhatikan dengan teliti. Daniza yang sebelumnya berpenampilan biasa dan jauh dari kata modern kini terlihat begitu cantik. Satu-satunya yang membuat mama mampu mengenali Daniza adalah tatapannya yang memancarkan duka mendalam. 


Mama melirik Alvin dengan dada kembang kempis karena kesulitan meraup oksigen. "Mama mau bicara empat mata sama kamu!" 


"Iya, Mah." 


"Tapi tidak di sini. Mama mau bicara di rumah." 


"Iya, Mah!" Alvin mengangguk setuju. Lagi pula, ia tidak perlu takut lagi meninggalkan Daniza sendirian. Karena Daniza tidak mungkin lagi melakukan hal bodoh seperti ingin bunuh diri.


*


*


*


Alvin melajukan mobil meninggalkan rumah setelah berbicara serius dengan mamanya. Tadinya, ia sempat takut mamanya akan marah karena beberapa hari Alvin tinggal satu atap dengan Daniza.


Tetapi, setelah menjelaskan kondisi kejiwaan Daniza dan juga Daniza yang sempat ingin bunuh diri, mama akhirnya mengerti tindakan Alvin.


"Sekarang tinggal membalas orang yang sudah membuat Daniza kehilangan anaknya," gumam Alvin dengan pandangan terfokus pada jalan di depan.


Ponsel milik Alvin berdering tanda pesan masuk. Laki-laki itu mengurangi kecepatan berkendara, lalu menatap layar ponselnya. Nama "kesayangan" yang tertera membuat laki-laki itu memilih menepikan mobil untuk membalas pesan.


"Kak Alvin di mana?" Isi pesan Daniza.


Alvin mengulas senyum penuh bahagia. Apakah Daniza merindukannya sampai mengirim pesan untuk menanyakan keberadaannya?


"Di jalan. Kamu kenapa?" Disertai emoticon peluk.


"Boleh minta tolong?"


Lagi, Alvin membalas dengan cepat. "Tentu saja boleh. Apa sih yang tidak untuk kamu?" Sekarang laki-laki itu malah mengeluarkan kalimat gombalan. Alvin tak lagi segan menunjukkan cintanya kepada Daniza setelah kejadian hampir bunuh diri itu.


"Aku mau titip pembalut wing." 


"Pembalut?" Alvin langsung panik. Dipikirnya Daniza sedang terluka. Dengan cepat ia melakukan panggilan.


"Halo, Daniza, kamu berdarah?" tanya Alvin panik.

__ADS_1


"Iya."


Laki-laki itu merasa jantungnya akan terhenti saat itu juga. "Kok bisa sih? Apa yang kamu lakukan sampai bisa berdarah?"


Pertanyaan mendesak itu tak dijawab oleh Daniza. Sepertinya bingung dengan pertanyaan Alvin. Tentu saja dirinya masih mengeluarkan darah setelah mengalami keguguran.


Karena Daniza hanya diam, Alvin kembali bersuara. "Ya sudah, tunggu sebentar aku segera ke sana. Pembalut apa tadi?"


"Pembalut wing." Dahi Alvin berkerut. Ia sempat bertanya dalam hati pembalut jenis apa yang diminta Daniza sampai pakai sayap segala? Tetapi panik membuatnya tak dapat berpikir jernih.


Tanpa pikir panjang ia tancap gas dan mencari apotek terdekat. Karena tak menemukan, akhirnya ia mampir ke sebuah minimarket. Perhatian seorang karyawan minimarket langsung tertuju kepadanya, karena Alvin terlihat bingung.


"Ada yang bisa dibantu, Mas?"


"Iya, Mbak, saya mau beli pembalut wing." 


"Oh, ada. Mas cari yang seperti apa?" tanya gadis itu ramah.


Bingung, Alvin menggaruk kepala. Ia sendiri tidak tahu seperti apa bentuk pembalut wing yang dimaksud Daniza. Ia baru mendengar jenis pembalut seperti itu. Setahunya hanya kain kasa yang biasa digunakan untuk membalut luka.


"Pembalut yang bagus untuk orang berdarah apa?"


Pertanyaan ajaib Alvin membuat sang karyawati toko termangu. Lalu kemudian tersadar dalam beberapa detik. "Ada beberapa jenis, seperti medium flow, heavy flow sama overnight pads." 


Semakin bingung, Alvin memasang tampang bodoh. "Yang seperti apa itu?"


"Mari ikut saya, Mas!"


Alvin berjalan mengikuti sang karyawati minimarket menuju sebuah rak. Gadis itu menunjukkan beberapa jenis pembalut yang tadi disebutnya.


Alvin merasa wajahnya memanas saat itu juga. Ia yakin sekarang sudah semerah udang rebus saat menyadari benda apa yang ditunjuk gadis itu. Membeli pembalut wanita seperti menciderai image lelaki sejuta pesona yang melekat dalam dirinya. 


Oh my God. Ternyata pembalut beginian? Ck kalau bukan buat calon istri ogah beli beginian! 


"Jadi mau yang mana, Mas?" Karyawati minimarket kembali bertanya.


"Bungkus semua aja deh, Mbak!" ucapnya, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipi.


Tahu disuruh beli beginian, tadi aku minta Eric yang beli. 

__ADS_1


****


__ADS_2