
Alvin tiba di sebuah toko perhiasan ternama yang terletak di pusat kota itu. Dengan gagah ia melangkah. Seorang wanita berpenampilan rapi sigap menyambut dengan senyum ramah.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya wanita itu dengan menggunakan bahasa mereka.
"Beberapa hari lalu saya memesan satu set perhiasan. Apa sudah jadi?" balas Alvin, juga dengan senyum ramah.
"Maaf, pemesanan atas nama siapa?"
"Alvin Alexander."
Wanita itu kembali mengulas senyum ramah. Kemudian memeriksa data pelanggan dari komputer. "Baik, kalau begitu silahkan menuju ruang VIP."
Alvin akan melangkah menuju ruangan yang ditunjukkan wanita itu, namun ia teringat dengan Daniza yang sedang menunggu di hotel. "Tidak usah, saya sedang terburu-buru. Saya akan langsung melakukan pelunasan saja."
"Oh, baiklah. Mohon tunggu sebentar." Wanita itu lantas menuju sebuah ruangan khusus tempat penyimpanan perhiasan, sementara Alvin menunggu sambil melihat-lihat beberapa perhiasan lain yang terpajang di etalase.
Beberapa menit kemudian, wanita tadi kembali dengan membawa kotak perhiasan. "Ini pesanan Anda, Tuan!"
Alvin melirik kotak yang digeser ke hadapannya. Kalau kotaknya saja sudah seindah ini, apalagi isinya.
Membuka kotak perhiasan tersebut, Alvin mengulas senyum kepuasan. Tidak salah ia mengeluarkan dana dalam jumlah fantastis. Sebab sebanding dengan keinginannya. Alvin sengaja tidak memberi tahu Daniza tentang perhiasan yang ia pesan, karena ingin memberi kejutan. Hadiah indah nan mewah ini akan ia persembahkan untuk sang istri tercinta di hari ulang tahunnya yang tinggal menghitung hari.
"Daniza pasti suka ini," ucap Alvin dalam hati.
Wanita mana yang tidak suka perhiasan?
Setelah melakukan pelunasan, Alvin meninggalkan ruangan itu. Ia baru sadar cuaca di luar cukup buruk. Padahal tadi saat berangkat, langit malam Kota Paris terlihat indah dengan taburan bintang.
__ADS_1
"Kenapa harus hujan deras, sih?"
Setengah berlari Alvin menerjang hujan yang cukup lebat. Paper bag ia dekap di dadanya dan tergesa-gesa masuk ke mobil.
"Daniza pasti ketakutan di hotel sendirian di cuaca buruk seperti ini."
Sadar istrinya cukup penakut, Alvin tak ingin mengulur waktu dan segera melajukan mobil. Intensitas hujan yang cukup tinggi malam itu membuat jarak pandang berkurang. Alvin harus berhati-hati melaju, sebab sudah beberapa kali ban mobil hampir tergelincir. Selain itu, dari siaran radio di mobil sudah terdengar himbauan agar berhati-hati dalam berkendara karena cuaca sedang tidak kondusif.
"Makin deras lagi hujannya," gumamnya sambil berusaha menajamkan penglihatan.
Alvin terpaksa mengurangi kecepatan. Namun, belum sempat laju mobilnya berada di ritme stabil, tampak sebuah mobil melesat dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.
Terkejut, Alvin berniat menghindar dengan membanting setir ke arah kiri. Tak disangka, sedan mewah yang ia sewa dari jasa rental mobil itu menabrak trotoar jalan hingga kehilangan keseimbangan.
Kejadian mendadak itu membuat Alvin tak memiliki waktu untuk sekedar berpikir. Mobil dikemudikan olehnya harus oleng dan menghantam pembatas jalan hingga terjun bebas ke sungai.
*
*
"Mas Alvin!"
Daniza baru saja menjatuhkan gelas hingga pecahannya berhamburan di lantai. Entah untuk alasan apa, ia merasakan sesak tiba-tiba menghimpit dadanya. Bahkan udara dalam ruangan luas itu seakan tak cukup baginya untuk bernapas.
Beberapa kali ia menarik napas dalam demi menetralkan perasaan aneh yang berkecamuk. Setelah membersihkan pecahan kaca, Daniza beranjak menuju jendela kamar. Ia menatap nanar hujan deras disertai badai di luar sana.
"Mas Alvin ke mana, sih? Katanya cuma sebentar." Ia melirik arah jarum jam pada dinding. Hampir satu jam Alvin pergi dan tak kunjung kembali. Daniza mulai merasa khawatir, apa lagi setelah melihat cuaca buruk di luar sana.
__ADS_1
Mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, Daniza meraih ponsel. Ia akan mencoba menghubungi Alvin untuk menanyakan keberadaannya. Tetapi, ternyata ponsel suaminya itu malah ada di dalam laci meja.
"Kenapa tidak bawa hape, sih?" gumam Daniza gemas. Padahal saat terpisah di festival lampu beberapa hari lalu, Daniza sempat berpesan kepada suaminya agar membawa ponsel jika sedang keluar rumah.
Sekarang wanita itu hanya duduk terdiam memandangi foto dirinya bersama sang suami yang ia jadikan wallpaper ponsel. Kemudian menghitung detik demi detik yang berlalu dengan perasaan gelisah.
Satu jam ....
Dua jam ....
Tiga jam ....
Daniza merebahkan tubuh lelahnya di sofa dengan pandangan tertuju pada pintu. Berharap pintu akan terbuka dan memunculkan Alvin di sana. Tetapi, rupanya ia tak kunjung kembali hingga Daniza terpejam tanpa sadar.
*
*
*
Suara bel yang berbunyi di pagi-pagi buta itu memaksa Daniza untuk membuka mata. Dengan tubuh yang masih lemas, ia bangkit dan melirik arah jam.
"Ya ampun aku ketiduran. Itu pasti Mas Alvin."
Daniza langsung bergegas menuju pintu. Besar harapannya bahwa sosok yang ada di depan adalah suaminya. Daniza berusaha menanamkan pikiran positif bahwa semalam suaminya tidak pulang karena hujan badai atau mungkin mobil yang digunakannya mogok di jalan.
"Mas kamu ke mana saja?" tanya Daniza sesaat setelah membuka pintu.
__ADS_1
Namun, senyum yang menghiasi wajahnya seketika menghilang saat melihat siapa yang ada di ambang pintu.
...***...