Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
MASIH BUTUH WAKTU


__ADS_3

Isak tangis Mama Elvira masih mewarnai ruangan itu. Sementara Eric tampak sudah lebih tenang. Setelah Mama Elvira merasa lebih baik, Eric membungkukkan badan dan berjongkok di hadapan Mama Elvira.


"Tante, terima kasih sudah mau memaafkan kesalahan mama dan papa. Terima kasih juga sudah menerimaku sebagai anak. Aku sangat beruntung bisa mengenal Tante. Jujur saja aku sering iri sama Alvin karena punya mama sebaik Tante." Sebelah tangan Eric terulur mengusap lelehan air mata di pipi sang mama.


"Kamu bicara apa sih, Eric? Kamu juga anak mama, kan? Ibu mana pun pasti akan bahagia kalau anaknya sebaik kamu."


Eric mencium punggung tangan Mama Elvira. Sepasang bola matanya berkaca-kaca. Wanita berhati lembut inilah yang telah mengangkatnya dari gelapnya kehidupan.


"Tante sayang sama aku?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Mama Elvira murka. Capitan keras sudah mendarat ke telinga Eric. Mama Elvira baru melepas setelah Eric mengaduh dan memohon ampun.


"Kamu masih meragukan mama?" kesalnya.


"Bukan begitu, Tante. Kan cuma tanya." Eric mengusap telinga yang terasa kebas.


"Eric, bagi Mama kamu dan Alvin sama. Sama-sama anak mama."


"Kalau Tante sayang sama aku, sekarang Tante pulang dulu, ya? Tante pasti capek hari ini dan butuh istirahat. Lagi pula, Alvin pasti butuh penjelasan atas semua ini."


Mama Elvira menggeleng dengan cepat. Ia tidak akan meninggalkan Eric dalam keadaan seperti ini. "Lalu kamu sendiri bagaimana? Mama tidak mau meninggalkan kamu sendirian dalam keadaan seperti ini."


"Aku tidak apa-apa, Tante. Lagi pula, aku juga butuh waktu untuk menenangkan diri." Ia kembali menyeka air mata Mama Elvira. "Sekarang Tante berhenti menangis, ya. Kita harus sama-sama kuat."


"Kamu sayang mama, Ric?"


Eric mengangguk cepat. "Lebih dari ibu kandungku sendiri."


"Kalau kamu sayang mama, kamu mau berjanji sesuatu?"


Eric menatap Mama Elvira dengan serius. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan sang mama.


"Kalau kamu menganggap mama sebagai mama kamu sendiri, kamu harus berjanji untuk tidak pergi meninggalkan mama. Kamu harus tetap di sini bersama mama dan Alvin," pinta Mama Elvira.


Masih segar dalam ingatan Mama Elvira ketika Eric membuatnya berjanji untuk merahasiakan statusnya. Bahkan kala itu Eric memberi ancaman akan pergi jika suatu hari Mama Elvira sampai membocorkan kepada Alvin tentang statusnya.


"Jawab, Ric!" pekik Mama Elvira.

__ADS_1


Eric mengulas senyum diiringi anggukan kepala. "Aku janji, Tante."


Setelah berhasil menenangkan Mama Elvira, Eric mengantar menuju lobi. Seorang sopir sigap membukakan pintu ketika sang majikan mendekat.


Setelah kepergian Mama Elvira, Eric menghabiskan waktunya merenung seorang diri. Menatap pemandangan kota dari jendela kamar. Bahkan deringan ponsel sudah puluhan kali terdengar yang berasal dari Mila, tetapi sama sekali tak dihiraukan olehnya.


"Maafkan aku, Mil. Semua ini berat untukku."


Kepingan rasa bersalah merasuk semakin dalam ke hati Eric. Rasa bersalah itulah yang membatasi dirinya. Dosa mama dan papa seolah menjadi noda hitam dalam kehidupannya.


Masih begitu jelas dalam ingatan Eric pertemuan pertamanya dengan Mama Elvira. Wanita yang begitu terluka dengan pengkhianatan suaminya tetapi memilih untuk tidak membenci. Mama Elvira menerima dan menganggap Eric layaknya anak kandung sendiri. Bahkan Mama Elvira memberikan fasilitas yang sama dengan Alvin.


"Maafkan aku, Tante. Kali ini aku tidak bisa memenuhi janjiku."


*


*


*


Bukan hal mudah bagi Alvin untuk bisa menerima kenyataan mengejutkan yang ia dapati beberapa jam lalu. Dibohongi oleh orang-orang terdekatnya begitu menyakitkan baginya.


"Mas, kamu sabar, ya. Jangan terbawa emosi. Pasti ada alasan kenapa mama menyembunyikan dari kamu." Daniza mengusap bahu suaminya. Sesekali ia benamkan kecupan di pipi.


"Alasan apa? Seharusnya hal sepenting ini tidak disembunyikan. Selama bertahun-tahun mereka sudah membohongi aku," ucap Alvin penuh kecewa.


"Aku tahu kamu sedih dan kecewa. Tapi mama pasti lebih sedih. Kita tidak tahu apa yang terjadi sampai papa punya anak dari wanita lain, kan?"


Alvin menghembuskan napas panjang. Separuh hatinya berharap apa yang didengarnya hari ini hanyalah sebuah mimpi.


"Jangan membela mereka, Daniz! Atau aku akan ikut marah sama kamu!"


Mendengar ancaman itu, Daniza membungkam. Kemudian memilih bersandar di bahu suaminya. Ia paham betapa terlukanya Alvin sekarang.


*


*

__ADS_1


*


Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, Mama Elvira tiba di rumah. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari putranya. Namun, Alvin tidak terlihat. Mama yakin Alvin sudah berada di kamar sekarang.


Wanita itu lantas memilih masuk ke ruang baca. Menghabiskan waktu yang cukup lama di sana.


Tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu. Lalu kemudian disusul dengan kedatangan Alvin. Mama Elvira dapat melihat kemarahan dalam tatapan putranya itu.


Alvin memilih duduk di hadapan Mama Elvira. Seumur hidupnya, ini adalah pertama kali ia merasa kecewa terhadap mama. Selama ini, mama adalah sosok ibu sempurna baginya.


"Vin, mama tahu kamu sangat kecewa terhadap Mama." Mama Elvira membuka suara.


"Kalau tahu akan kecewa, kenapa Mama menyembunyikan hal sepertinya ini? Dan kenapa papa bisa punya anak dari wanita lain?" Pertanyaan bertubi-tubi itu berhasil meruntuhkan pertahanan yang dibangun Mama Elvira. Wanita paruh baya itu terisak-isak.


Tak tega melihat sang mama, Alvin mendekat dan memeluknya. Butuh waktu cukup lama bagi Mama Elvira untuk menghentikan tangisnya.


"Maukah mama ceritakan semua padaku? Supaya aku tidak membenci mama dan Eric," pinta Alvin.


Mama Elvira mengangguk, lalu menyeka ujung mata yang basah. "Bukan salah papa dan mamanya Eric sepenuhnya, Vin. Mereka juga korban dalam keadaan ini. Sebenarnya Mama lah yang sudah menjadi orang ke tiga di antara mereka."


Alvin tersentak, lantas menatap mama penuh tanya. "Maksudnya?"


Ingatan Mama Elvira berputar ke masa lalu. Satu persatu kenangan terlintas dalam benaknya. Meskipun bukan hal yang mudah baginya menerima kenyataan, bahwa suaminya tidak pernah mencintainya dan malah mencintai wanita lain. Hingga akhirnya menghadirkan seorang anak, yaitu Eric.


"Kami menikah karena perjodohan. Sebelumnya mama tidak tahu kalau papa kamu sudah punya wanita pilihannya sendiri."


"Terus kenapa mama menyembunyikan semua dari aku?"


"Eric yang minta mama menyembunyikan dari semua orang. Dia tidak mau kamu semakin terluka setelah kepergian papa."


Alvin tertegun selama beberapa saat. Semua ini masih sulit untuk ia terima.


"Kenapa mama bisa menerima Eric, padahal dia anak hasil perselingkuhan papa?"


"Apa salah Eric, Vin? Dia hanya korban di sini." Mama Elvira kembali meneteskan air mata. "Eric sudah kehilangan segalanya sejak kecil. Dia hidup dalam bayang-bayang kesalahan orang tuanya. Dengan semua itu, apa kita masih bisa membenci Eric?"


Mama Elvira membelai puncak kepala putranya itu.

__ADS_1


"Kalau mama bisa menerima Eric sebagai anak, kenapa kamu tidak bisa menerima dia sebagai saudara?" 


...****...


__ADS_2