
Beberapa hari ini Alvin memang menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan bekerja. Seperti malam ini ia sedang lembur di kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum hari pernikahan tiba. Sebab tidak ingin masa pengantin barunya yang manis nanti terganggu oleh urusan pekerjaan.
Rencana menghabiskan waktu hanya untuk Daniza dan mengunjungi beberapa negara dengan cuaca dingin sudah tersusun rapi di otak. Swiss adalah negara pertama yang akan menjadi tujuan. Alvin bahkan sudah membayangkan terkurung di kamar seharian bersama Daniza, karena ia tahu benar Daniza tidak tahan dengan cuaca dingin.
Ah, pasti sangat menyenangkan mendominasi tubuh Daniza di tengah cuaca dingin.
Alvin masih berkutat dengan laptop saat ponsel miliknya berdering. Melirik jam sejenak yang sudah menunjuk pukul sembilan malam.
"Santi? Mau apa dia, tidak biasanya telepon di jam segini," gumamnya ketika melihat nama Santi tertera pada layar ponsel. Tanpa menunggu lama, laki-laki itu menggeser simbol hijau pada layar.
"Halo, Den Alvin!" Sapaan Santi terdengar di ujung telepon.
"Iya Santi, ada apa?" tanya Alvin, yang masih terfokus dengan layar laptop.
"Maaf ganggu, Den. Saya cuma mau memastikan Mbak Daniz masih sama Den Alvin, kan?"
Kedua alis tebal Alvin saling bertaut, disusul dengan perasaan khawatir yang tiba-tiba menyergap. Karena beberapa jam lalu, Alvin masih sempat saling berkirim pesan dengan Daniza untuk menanyakan keberadaannya. "Bukannya Daniz sudah sampai ke apartemen, ya?"
"Belum, Den. Sejak ke kantor tadi Mbak Daniz belum pulang juga."
Seketika tubuh Alvin terasa meremang. Untuk beberapa saat ia seperti kehilangan kemampuan untuk berpikir saking terkejutnya. "Kamu sudah coba hubungi Daniz, kan?"
"Sudah, Den! Tapi tidak dijawab. Makanya saya langsung hubungi Den Alvin."
__ADS_1
Separuh jiwa Alvin seperti melayang. Tangannya gemetar. Tidak mungkin Daniza pergi ke tempat lain. Alvin benar-benar tahu Daniza tidak punya teman dekat. Selain itu, Daniza pasti menuruti permintaan Mama Elvira untuk tidak kemana-mana sampai hari pernikahan tiba.
Tanpa banyak bertanya lagi, Alvin memutus panggilan. Lalu segera menghubungi sopir pribadi Daniza. Dalam keadaan panik bercampur takut, ia menunggu hingga panggilan terhubung.
"Man, di mana Daniz?" Alvin hampir berteriak saat panggilan terhubung. Kebisuan mendominasi selama beberapa saat. Sepertinya sang sopir terkejut mendengar suara sang bos yang terdengar panik.
"Bu Daniza?" tanyanya terdengar agak bingung.
"Iya. Di mana Daniz?" bentak Alvin lagi.
"Bukannya di apartemen, Pak? Tadi saya antar Bu Daniza sampai ke apartemen."
Semakin frustrasi saja Alvin saat ini. Sebelah tangannya menjambak rambut sendiri. Ingin marah pun entah harus marah pada siapa. "Kalau kamu antar Daniza sampai apartemen tidak mungkin dia tidak ada di sana sekarang!"
"Wah, kalau itu saya tidak tahu, Pak! Soalnya tadi saya sudah antar Bu Daniz sampai apartemen seperti perintah Pak Alvin."
"Ric, Daniz hilang. Dia tidak ada di apartemen!" pekik Alvin, diikuti dengan ekspresi terkejut oleh Eric. Apa lagi setelah mampu membaca ekspresi terkejut Alvin.
"Hilang bagaimana maksud kamu?"
"Aku tidak tahu! Aiman bilang tadi sore antar Daniza ke apartemen. Tapi Santi barusan bilang Daniza belum pulang!"
Keduanya tampak bingung dan panik. Terutama Alvin yang seperti hendak meledakkan amarahnya. Berbagai pikiran buruk sudah bermunculan di benaknya.
__ADS_1
"Kita cek CCTV apartemen!" usul Eric. Ia harus menggunakan akal sehatnya untuk berpikir, sebab Alvin terlihat sangat kalut saat ini.
*
*
*
Tidak butuh waktu lama, Alvin dan Eric tiba di apartemen. Aiman, sopir pribadi Daniza juga sudah tampak tiba. Laki-laki itu membenarkan bahwa sudah mengantar Daniza hingga ke apartemen, namun entah mengapa Daniza menghilang secara tiba-tiba.
Sekarang mereka sudah di ruang kendali di apartemen demi memeriksa rekaman CCTV. Alvin seolah kehilangan kesabaran untuk mengetahui apa yang terjadi pada calon istrinya.
"Tadi kalau tidak salah kami tiba di apartemen pukul 6.30, Pak," ucap sang sopir.
Seorang pria yang bertugas di ruang kendali tampak memutar rekaman CCTV dari berbagai sudut pada pukul yang disebutkan sang sopir. Setelah mempercepat rekaman hingga beberapa menit kemudian, terlihat Daniza memasuki mini market dan keluar setelah beberapa menit kemudian dengan membawa kantongan belanjaan.
"Itu Daniza keluar!" Eric menunjuk layar monitor. "Coba di-zoom!"
Tampak Daniza berjalan santai sambil menatap ponsel di tangan. Kemudian secara tiba-tiba sebuah mobil terhenti di sisi jalan dan menghampiri Daniza. Menangkapnya dari arah belakang dengan menyumpal mulut menggunakan kain putih. Lalu, membawanya ke mobil.
Kejadian berlangsung cepat dan tak terduga. Bahkan suasana terlihat tak begitu ramai dan tak ada yang menyadari kejadian itu. Pelaku pun tak dapat dikenali sebab menggunakan topi dan masker.
Kedua tangan Alvin terkepal sempurna dengan rahang mengetat. Sorot matanya tajam membunuh.
__ADS_1
"Bangs@t! Itu pasti Revan!"
****