
Daniza terpaku memandangi bangunan super megah di hadapannya. Rumah berlantai tiga dengan taman luas yang dilengkapi dengan lampu-lampu hias itu benar-benar memanjakan mata. Daniza bahkan sempat menganga sejenak. Ternyata rumah Alvin jauh lebih mewah dari rumahnya yang direbut oleh Alina. Daniza bahkan membayangkan rumah itu seperti sebuah istana.
Berbeda dengan pesta ulang tahun perusahaan yang dihadiri banyak orang, pesta kali ini hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat saja. Ibu-ibu sosialita dengan anak gadis atau cucunya, dan beberapa laki-laki yang merupakan suami mereka menjadi pelengkap pesta tersebut.
"Ayo masuk!" Alvin menggandeng lembut jemari Daniza. Wanita itu tampak canggung melihat penampakan pesta yang konsepnya agak privasi tersebut.
Gambarannya seperti sebuah pesta keluarga, dan Daniza berperan menjadi tokoh asing di sana. Dari tempatnya berdiri, Daniza bisa melihat suasana pesta keluarga dengan konsep garden party yang mewah dan berkelas.
"Kenapa?" Alvin menaikkan sebelah alisnya ketika langkah Daniza terhenti.
"Aku malu, Kak! Apa mereka saudaramu semua?" tanya Daniza sambil berbisik. Ia benar-benar malu. Apalagi dirinya tak membawa kado apapun untuk Ibu Elvira. Sebab sebelumnya Alvin berkata tidak perlu membawa apapun.
Alvin mengulas senyum. Ia tahu Daniza sedang dalam kondisi tidak baik sekarang. Wajah pucatnya mungkin akan terlihat jelas jika tidak tertutupi make up.
"Santai saja. Sebagian besar yang datang adalah saudara. Sebagian lagi teman-teman mama." Alvin memindahkan tangan Daniza agar wanita itu bergelayut di lengannya. Dengan sedikit ragu, Daniza pun melangkah beriringan dengan Alvin.
Perhatian semua orang pun langsung tertuju pada mereka berdua begitu memasuki area taman, yang sudah tertata dengan meja tamu.
Para ibu-ibu yang merupakan tante Alvin tercengang. Sementara gadis-gadis yang sengaja ingin tebar pesona pada Alvin langsung dibuat patah hati massal begitu melihat kecantikan wanita yang digandeng Alvin dengan mesra.
__ADS_1
Pasalnya selama ini Alvin tidak pernah terlihat bersama seorang wanita. Bahkan saat Mama Elvira dan tante-tantenya ingin menjodohkan, ia selalu menolak dengan berbagai alasan. Namun, kini pemandangan yang terjadi jauh berbeda. Alvin tampak senang dan bangga memamerkan wanita di sisinya.
"Dia sapa, Elvira?"
"Siapa wanita itu. Tumben sekali Alvin membawa perempuan?"
Bisik-bisik dari mulut para tante Alvin mulai terdengar saling bersautan, lengkap dengan tatapan mata nyaris tak berkedip.
Alvin menggandeng Daniza menuju meja mamanya. Daniza yang merasa malu, sesekali bersembunyi di balik punggung tegap laki-laki itu.
"Kamu sudah datang, Alvin?" Mama menyambut putranya penuh rasa bangga. Apa lagi, pesona putranya itu mampu menyihir perhatian para tamu.
"Selamat malam, Bu. Selamat ulang tahun." Daniza tampak ragu-ragu dan malu mengucapkan kalimat itu. Mama Elvira yang sadar dengan sikap Daniza pun tersenyum ramah.
"Terima kasih, Daniza!" Wanita paruh baya itu memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri. Daniza kembali tercengang dan semakin gugup. Mama Elvira yang biasanya galak itu berubah 180 derajat. Tentunya, sejak Alvin memberitahu bahwa Daniza sudah resmi bercerai dari Revan.
"Ini siapa, Vin? Tumben kamu bawa wanita ke acara keluarga?" Salah satu Tante Alvin bertanya.
Sudut bibir Alvin melengkung membentuk senyuman. Ia melingkarkan tangan ke pinggang Daniza. "Teman spesial, Tante. Kenalkan, namanya Daniza."
__ADS_1
Tiga wanita yang merupakan adik dari mendiang papa Alvin itu menatap intens dari ujung kaki ke ujung kepala. Sangat cantik dan masih muda, itulah kesan pertama yang mereka dapatkan dari Daniza.
Ketika Daniza terdiam, Alvin memilih memberi isyarat dengan mencubit pinggangnya. Membuat Daniza tersadar dan mengerti isyarat yang diberikan Alvin.
"Selamat malam, Tante," sapa Daniza sedikit malu-malu.
"Malam, Daniza!" balasnya, lalu menatap Alvin. "Oh ya, Vin. Kamu tidak bawa kado untuk mama kamu?" Ia sedikit heran, karena biasanya Alvin akan memberikan kado yang mewah dan berkesan kepada sang mama yang juga dapat dinikmati oleh para tantenya. Misalnya saja tahun lalu, Alvin memberikan hadiah berupa paket tour keliling Eropa sekeluarga.
Namun, kini Alvin datang dengan tangan kosong dan membuat tante-tantenya bertanya.
"Kadonya ini, Tante. Aku bawakan calon mantu buat mama."
Seketika pipi Daniza memanas mendengar ucapan Alvin. Sementara beberapa tantenya tampak sangat terkejut.
"Calon mantu?" Ketiganya menatap ke arah Mama Elvira. Namun, sang mama hanya membalas dengan senyuman.
Mendengar Alvin membawa calon menantu membuat ketiganya kecewa. Karena sebelumnya, mereka sempat saling berlomba untuk menjodohkan keponakan dari suami masing-masing dengan Alvin. Dan beberapa gadis pilihan itu juga turut hadir meramaikan pesta ulang tahun Mama Elvira malam ini.
***
__ADS_1