
Alvin masuk ke ruangan di mana Daniza terbaring lemah dengan banyak peralatan medis yang melekat pada tubuhnya. Melihat Daniza dalam keadaan lemah, jantung Alvin serasa diremas kuat. Laki-laki itu terduduk di kursi. Memandangi wajah pucat istrinya dalam kebisuan. Lantas menggenggam tangannya.
Seandainya saja segalanya bisa ditukar, Alvin berharap dirinya saja yang terbaring di sana. Bukan Daniza.
“Sayang, kamu harus kuat. Anak-anak sedang menunggu kamu, mereka juga butuh mamanya. Aku tidak akan bisa membesarkan mereka sendiri.”
Ia mencium punggung tangan Daniza yang terasa dingin dan lemah.
“Kita juga belum menyiapkan nama untuk mereka, kan?” lirihnya pelan.
Ingatan Alvin tiba-tiba melayang ke masa lalu. Suatu malam ia dan Daniza pernah berdebat tentang pemberian nama untuk sepasang anak kembar mereka. Sebuah ide konyol terlintas di pikiran Daniza kala itu. Jika anak-anak mirip dengan Alvin, maka keduanya akan diberi nama yang serupa dengannya. Sebaliknya, jika mirip Daniza, maka akan dinamai seperti nama Daniza pula.
“Namanya mau western apa Indo banget?” tanya Alvin malam itu.
Daniza diam dan berpikir sejenak.
“Agak western kayaknya keren ya, Mas.” Ia menjawab antusias dan penuh semangat.
__ADS_1
“Ya udah, kalau anak-anak mirip kamu kasih aja nama Danhill atau Danone,” kelakar Alvin sambil membelai perut Daniza yang sudah membesar.
Tentu saja dua nama yang baru saja disebutkan Alvin memicu kekesalan Daniza. Siapa yang rela jika buah hatinya akan dinamai merk rokok dan perusahaan asal luar negeri. Wanita itu refleks menarik daun telinga suaminya.
“Danhill itu merek rokok, kan?”
“Itu Dunhill, Sayang, bukan Danhill! Beda tauk! Katanya mau yang agak western.”
“Tapi diucapkannya sama. Pokoknya aku tidak mau yang itu!”
“Iya-iya!” Alvin terkekeh sembari memikirkan nama lucu selanjutnya. Entah mengapa ia sangat senang menjahili Daniza selama hamil. Pipinya yang gempil tampak semakin menggemaskan saat sedang kesal. “Kalau begitu kasih aja nama Dansilk sama Dandruff.”
“Ampun, Sayang. Kaderete ini namanya,” protes Alvin. Mengusap rambut yang baru saja dijambak Daniza.
Perlahan Daniza mulai melepas tangan yang mencengkram rambut suaminya. “Habis kamu mau kasih nama anak tidak ada yang beres. Danruff itu artinya ketombe, Mas!”
Tawa Alvin meledak. Apalagi setelah melihat bibir Daniza yang mengerucut bak ikan cucut. Terlalu menggemaskan.
__ADS_1
“Maaf, maaf." Alvin masih betah dalam posisi meletakkan kepala di perut Daniza. Menikmati setiap gerakan kecil yang muncul pada permukaan perut. Sesekali ia menciumi saat menemukan tonjolan di sana. Hal yang kadang membuatnya tak sabar untuk segera menimang kedua buah hatinya. "Dek, mama kalian lagi nge-reog. Lucu, ya! Bentar lagi pasti Gangnam Style di sini.”
Mau tak mau Daniza terkekeh mendengar bisikan Alvin untuk kedua anak mereka.
“Nama Indo aja lah, Mas. Western nggak ada yang beres,” ucap Daniza pada akhirnya.
“Dari tadi, kek. Nama Indo juga banyak yang keren. Siti sama Djarot misalnya.”
Lagi, sepasang mata Daniza melotot tajam. Semakin gemas dengan ulah suaminya itu.
"Ya udah, nanti kita pilih nama pakai lucky wheel aja."
“Mas Alvinnnn ini bukan undian berhadiah!”
Lamunan Alvin membuyar seiring dengan kenangan Daniza yang menghilang. Tanpa sadar ia menjatuhkan air mata. Seandainya saja kondisi Daniza sekarang lebih baik, mungkin mereka akan menjadi orang paling bahagia di dunia.
Perlahan Alvin terpejam dalam posisi telungkup di samping Daniza.
__ADS_1
...*****...