Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Melupakan Untuk Sementara


__ADS_3

Mama Elvira dan Eric terlihat bingung dengan ucapan Alvin yang terdengar seperti sedang mengigau. Jika saja Alvin sedang dalam keadaan sehat, mereka pasti akan berpikir bahwa ia sedang bercanda.


Mama Elvira lantas menjelaskan kepada dokter perihal keanehan Alvin yang tiba-tiba membahas masalah sekolah, padahal Alvin dan Eric sudah lulus sejak beberapa tahun lalu. 


Dokter senior itu mendengarkan dengan saksama, sambil mencoba menyimpulkan sebuah dugaan. Meski begitu, ia tetap berusaha bersikap tenang dan mendekati Alvin pelan-pelan. Beruntung, sang dokter bule tersebut pernah bertugas di Indonesia, sehingga mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.


"Selamat sore, Alvin. Saya adalah dokter yang menangani kamu. Boleh saya mengajukan beberapa pertanyaan?" tanya Dokter itu.


Alvin menjawab dengan anggukan kepala.


"Apa kamu ingat nama lengkapmu?"


"Alvin Alexander," jawabnya singkat.


Sang dokter masih berusaha untuk tersenyum. Ia harus bisa bersikap setenang mungkin. "Usiamu berapa sekarang?" 


"18 tahun." 


Mendadak wajah dokter itu berubah serius. Ia sempat melirik Mama Elvira dan Eric, lalu kembali memusatkan perhatian kepada Alvin. "Apa kamu bisa mengingat tentang kecelakaan beberapa hari lalu?" 


Dahi Alvin berkerut dalam, berusaha mengingat rentetan kejadian terakhir yang dialaminya, tetapi semua tersamar dalam ingatan. Ia bahkan tidak tahu apa yang terjadi sampai bisa terbangun di rumah sakit.


"Aku tidak ingat apa-apa. Cuma ingat habis bolos sekolah satu minggu." 


Dokter yang selalu memasang sikap ramah itu kembali mengulas senyum. "Memangnya kamu kelas berapa sekarang?" 


"Kelas 2 SMA." Alvin menjawab polos.


Dokter tersebut kemudian menuliskan beberapa hal ke dalam buku catatan miliknya. Sementara Mama Elvira dan Eric masih berdiri tak jauh dari pembaringan.


Tak lama berselang, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka, disusul dengan kemunculan Daniza dari sana. Alvin menatap wanita yang baginya tidak asing itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Entah mengapa wajah pucat dan mata sembabnya membuat Alvin merasa sesak.


Sementara Daniza sudah berurai air mata. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat Alvin sudah membuka mata. Secepat kilat, wanita itu melangkah dengan setengah berlari dan memeluk suaminya. 


"Kamu sudah sadar, Mas?" lirih Daniza. 


Alvin yang terkejut refleks mendorong wanita itu agar menjaga jarak darinya. "Apaan mas-mas?" 


Daniza yang terlampau bahagia tanpa sadar kembali memeluk suaminya. Sangat erat. Hingga membuat Alvin mengeluh kesakitan. 


"Mah, dia ini siapa?" Alvin menatap mamanya. 

__ADS_1


"Vin, itu Daniza. Istri kamu, Nak!" 


Jantung Alvin seperti akan berhenti berdetak saat itu juga. Sorot matanya yang tajam seketika terarah kepada Daniza dengan penuh teliti. Meskipun banyak berubah dari segi penampilan, tetapi Alvin masih bisa mengenali dengan jelas wajah itu.


Lalu, mengapa mamanya malah berkata bahwa Daniza adalah istrinya? Ada apa ini? Alvin terlihat semakin bingung. 


"Dia Da-Daniza?" Alvin bertanya sekali. 


Sementara Daniza tampak bingung, yang ia lakukan hanya menatap Eric seperti meminta penjelasan tentang apa yang terjadi kepada suaminya. 


*


*


*


Suasana lebih tenang setelah kekacauan yang terjadi beberapa menit lalu. Alvin sempat memberontak setelah diberitahu tentang kemungkinan amnesia yang dialaminya oleh dokter. Tetapi, Eric dan mama Elvira berhasil menenangkannya. 


Sekarang Mama Elvira dan Daniza sedang berada di ruangan dokter untuk berkonsultasi tentang kondisi kesehatan Alvin. 


Hal ini memang menyakitkan bagi semua orang, terutama Daniza. Dilupakan oleh suami sendiri adalah sebuah mimpi buruk baginya. 


"Apa sebelumnya pasien pernah mengalami trauma?" tanya sang dokter. 


"Dia memang sempat trauma saat papanya mengalami kecelakaan mobil dan pergi untuk selamanya. Kejadiannya memang agak mirip dengan Alvin. Mobil jatuh ke sungai dan papanya tidak tertolong," kenang Mama Elvira. 


Daniza tampak terkejut mendengar ucapan Mama Elvira. Sebelumnya, ia tidak pernah tahu apapun tentang papa mertuanya. Sebab saat Daniza bertanya, Alvin terus menghindar dan tidak ingin membahas apapun tentang papanya. 


"Saya turut berduka," balas sang dokter. 


"Terima kasih, Dokter." 


"Sebelumnya maaf, saya harus memberitahu tentang hal ini." Sang dokter menjeda ucapannya dengan hela napas. "Saya menduga pasien mengalami trauma sampai kehilangan sebagian memori yang baru dan hanya mengingat kejadian masa lalu. Kami menyebutnya amnesia anterograde." 


Baik Daniza maupun Mama Elvira tertegun. Tatapan Daniza seolah menuntut penjelasan lebih. "Apa itu, Dokter?"


"Amnesia jenis ini membuat penderita tidak bisa mengingat hal-hal baru. Informasi yang harusnya disimpan ke memori jangka pendek menghilang. Hal ini disebabkan oleh cidera di kepala." 


"Tapi ini hanya bersifat sementara kan?" tanya Mama Elvira penuh harap.


"Tentang hal itu, kami belum bisa memastikan. Ada yang bertahan selamanya, tapi ada juga yang bersifat sementara. Kita bisa mengupayakan terapi untuk penyembuhan dan tentunya dukungan dari orang-orang terdekat." 

__ADS_1


*


*



Di dalam kamar perawatan, Alvin belum dapat berucap sepatah kata pun setelah mendengar penjelasan Eric tentang pernikahannya dengan Daniza. 


Kenyataan itu membuat Alvin seperti akan gila. Dalam diam, ia mencoba meredam amarah yang seakan mampu melumpuhkan akal sehatnya. Ia bisa saja menerima apapun, kecuali Daniza. 


Bagaimana mungkin dirinya menikahi gadis yang benar-benar dibencinya itu? Alvin bahkan pernah ingin membuat hidup Daniza semenderita mungkin. 


"Saudara macam apa kamu?" Alvin membuka suara, membuat Eric menatapnya intens. "Kenapa kamu biarkan aku menikah dengan si culun Daniza? Padahal kamu tahu sebenci apa aku sama dia." 


Eric terdiam beberapa saat. Dalam keadaan seperti sekarang, ia tidak boleh sembarang menjawab, sebab ditakutkan akan berakibat buruk bagi kesehatan mental Alvin. 


"Vin, kamu tidak lagi membenci Daniza. Kamu cinta sama dia," jawabnya berusaha tetap sabar. "Soal pernikahan itu, kamu yang ngotot ngejar Daniza sampai kalian bisa menikah." 


Sepasang mata Alvin terpejam. kedua tangannya terkepal sempurna. "Kamu bohong kan? Kamu dibayar berapa sama Daniza untuk menipu aku?" 


"Astaga, Vin. Daniza bahkan mencoba untuk menjauh dari kamu, tapi kamu nekat jadi pebinor cuma untuk dapetin Daniza." 


Tersentak, Alvin menghujamkan tatapan tajam kepada Eric. "Daniza itu janda?" 


"Dan kamu pebinor!" jawab Eric pasrah. 


 Ia memutuskan untuk menceritakan semua tanpa merahasiakan apapun, dengan harapan Alvin akan mengingat sesuatu. 


"Jangan bercanda, Ric? Aku nggak mungkin segila itu!" sentak Alvin. 


Dadanya mulai terasa sesak memikirkan setiap ucapan Eric. Ingin ragu, tetapi ia paham seperti apa Eric. Saudara angkatnya itu bukanlah seseorang yang bisa berbohong untuk sesuatu yang serius. 


"Kalau tidak percaya tanya sono sama Tante Elvira. Bahkan mantan suaminya si Daniz kamu geprek sampai masuk rumah sakit!" 


Semakin sesak saja Alvin mendengar penjelasan Eric. Udara di ruangan luas itu seolah tak cukup baginya untuk bernapas. 


"Vin ... kamu memang sempat membenci Daniz, tapi itu dulu. Sekarang kamu mencintai dia. Kalian ke Paris untuk berbulan madu." 


Dunia Alvin seperti akan runtuh saat itu juga. Rasanya lebih baik mati dalam kecelakaan itu dibanding harus menerima kenyataan menikahi Daniza. 


"Apa aku bisa bucin separah itu sama perempuan yang sudah membunuh papa?" 

__ADS_1


...****...


__ADS_2