
Setelah mama Elvira pergi, Daniza menghabiskan waktu untuk merenung seorang diri di kamar. Tatapannya yang kosong mengarah kepada layar ponsel, yang menampilkan wajah Alvin dengan senyuman hangat. Foto itu pernah diambilnya secara diam-diam saat makan siang dengan Alvin di sebuah restoran.
Jarum pendek pada jam sudah menunjuk ke angka dua. Namun, Daniza belum juga dapat terpejam. Gumpalan rasa bersalah merajai hatinya yang sepi. Melengkapi kesunyian malam.
Tak dapat dipungkiri, Daniza memang merasakan kekosongan di hatinya selama beberapa hari tidak bertemu Alvin. Ia bahkan memeriksa ponsel setiap jam demi memastikan tidak ada pesan dari laki-laki itu. Sebab selama ini, Alvin kerap mengirimkan ponsel hanya untuk menanyakan sedang apa dirinya. Namun, sudah beberapa hari ini Alvin seolah menghilang dari hidupnya.
"Mbak Daniz kenapa? Wajahnya pucat," ucap Santi keesokan paginya.
"Tidak apa-apa, Santi." Daniza mendesahkan napas panjang. Ia hanya menatap beberapa menu sarapan yang dibuat oleh Santi, tetapi sama sekali tidak disentuhnya. Pagi ini ia kehilangan selera makan.
"Apa saya buatkan jus saja?" tawar Santi pada akhirnya.
"Boleh. Buatkan jus apel saja." Kebetulan Daniza memang sedang merasa lemas. Mengonsumsi jus apel mungkin akan membantu mengembalikan stamina.
Pagi ini tidak hanya Daniza yang kehilangan selera makan. Alvin pun mengalami. Roti bakar yang biasanya menjadi menu sarapan favorit itu hanya menjadi korban tusukan garpu hingga tak berbentuk.
Kedua alis Mama Elvira saling bertaut melihat tingkah putranya. Ia menggelengkan kepala sambil berdecak. Jika tidak sedang di meja makan, tangannya yang lembut itu mungkin sudah menjambak rambut putranya.
"Dimakan, Vin! Jangan cuma ditusuk garpu!"
Alvin tak menyahut. Membuat Mama Elvira dan Eric saling tatap. Mama Elvira melayangkan pertanyaan melalui lirikan mata, tetapi Eric hanya menjawab dengan bahu terangkat, sebab raut wajah Alvin sudah menjelaskan segalanya.
__ADS_1
"Vin, mama minta mulai sekarang kamu tidak usah hubungi Daniza lagi."
"Maksudnya?" Kepala Alvin sontak mendongak dengan tatapan menjurus serius. "Mama mau lihat aku mati perlahan?"
Mendengar itu Mama Elvira mendesahkan napasnya, malas. Sepertinya tingkat kebucinan Alvin pada Daniza sudah terlanjur mendarah daging. Mamah Elvira yakin isi kepala anaknya itu saat ini hanyalah Daniza dan Daniza lagi.
"Bukan begitu maksud Mama, Vin!"
"Bukan begitu gimana, Mah? Mentang-mentang Daniza yang menyuruh aku untuk menjauh, terus aku harus menuruti keinginannya, begitu? Tidak, Mah! Aku tidak akan menyerah hanya karena permintaan Daniza yang satu itu."
"Terus mau kamu apa?" tanya sang mama. Kali ini dengan nada sedikit menantang.
"Kalau sudah melengkung bagaimana?" sela Eric sengaja mengompori.
"Akan kuganti janur kuning itu dengan bendera kuning!" sahut Alvin sambil melotot ganas.
"Wah, Tante. Lihat, sepertinya anak Tante yang budiman seantero galaksi Bima Sakti ini berencana mau melakukan tindakan kriminal," seloroh Eric sengaja ingin tambah memperpanas suasana. Yang penting tidak melibatkan gorong-gorong sialan di belakang sekolah, Eric tidak akan ambil pusing.
"Haduuhh! Kalian ini kapan bisa serius sedikit." Mamah Elvira menatap gemas Eric dan Alvin secara bergantian. Kedua lelaki itu selalu saja berdebat di meja makan. "Maksud mama, mama ingin kamu bersikap lebih dewasa. Coba saja turuti dulu permintaan Daniza. Biarkan Daniza menyadari perasaannya. Kalau dia memang punya perasaan lebih terhadap kamu, pasti dia akan mencari dan meminta maaf."
Alvin tampak berpikir sejenak. Jika dipikir-pikir, ucapan mama memang ada benarnya. Mungkin kalau Alvin sedikit menjauh, maka Daniza akan menyadari perasaannya sendiri. "Lalu bagaimana kalau dia tidak mencariku?"
__ADS_1
"Artinya dia tidak menyukaimu. Begitu saja lola," sambar Eric. "Kalau Daniza suka, dia pasti cariin kamu." Ia memasukkan sepotong roti ke mulutnya sambil setengah tertawa.
Bagai karma yang terbayar lunas, Eric seketika tersedak roti tawar selai nanas yang sedang dikunyahnya. Ia terbatuk sambil menepuk dada berkali-kali, dan itu membuat Alvin memicing sinis lalu berkata,
"Mam—"
"Alvin!" Mamah Elvira menyela sebelum Alvin melanjutkan ucapannya. "Mau ngomong apa kamu?" lanjut Mamah Elvira. Ia tahu putranya itu hendak mengucapkan kalimat tidak sopan di meja makan.
"Tidak, Mah!" Alvin buru-buru memasukkan sepotong roti ke mulut sebelum sapu flying in the sky dan mendarat tepat ke wajahnya.
Sarapan pun berlangsung tanpa terasa, karena Alvin dan Eric terus berdebat yang menghangatkan suasana pagi itu. Selepas sarapan, Mama Elvira kembali ke kamar untuk mengambil tas yang ketinggalan. Sementara Alvin masih terduduk lemas di meja makan.
"Ric, kamu ada ide buat cari muka ke Daniza tidak?" tanyanya Alvin. Sepertinya laki-laki itu sudah kehabisan ide untuk mendekati Daniza. Jujur saja, ia mulai putus asa.
"Kalau mau cari muka, pakai tim SAR makanya biar pencarian maksimal! Jangankan muka kamu. Muka rata, muka tebal, sampai muka tembok ketemu semua!"
Ucapan santai bermuatan sindiran itu membuat Alvin melayangkan tatapan mengintimidasi.
"Belum pernah coba nginap di gorong-gorong, Ric, biar masuk Guinness World Records?"
*****
__ADS_1