Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Hadiah Dari Alvin


__ADS_3

Daniza masih larut dalam buai mimpi ketika alam bawah sadarnya menangkap suara bel yang entah sudah beberapa kali berbunyi. Pelan-pelan kelopak matanya terbuka. Masih dalam keadaan setengah sadar Daniza mencoba menajamkan pendengaran demi memastikan.


Benar saja, suara yang membangunkannya memang bel apartemen. Dahi mulus Daniza berkerut tipis. Dalam hati bertanya siapa yang datang. Tidak mungkin Alvin, kan? Sebab semalam laki-laki itu sudah memberitahu akan sibuk hari ini.


Daniza merenggangkan otot-ototnya, sebelum bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Sebelum membuka pintu, ia ingin memastikan lebih dulu siapa yang datang sepagi ini dan mengganggu tidurnya melalui monitor.


"Siapa itu?" Daniza bergumam. Sepasang alisnya saling bertaut. Daniza segera membuka pintu. Di sana seorang wanita kira-kira seumuran dirinya tersenyum ke arahnya.


"Selamat pagi, Bu Daniza. Saya Santi, yang ditugaskan Pak Alvin untuk ke sini."


"Oh ...." Daniza langsung teringat semalam. Alvin memang memberitahu bahwa ia akan mengirim seorang asisten rumah tangga untuk menemaninya tinggal di apartemen itu. "Silahkan masuk!" Daniza membalas dengan senyum ramah.


Santi melangkah masuk dengan menyeret sebuah koper, sambil sesekali mengedarkan pandangan ke segala penjuru.


"Semalam Kak Alvin memang bilang akan kirim orang ke sini." Daniza menutup pintu, lalu melangkah masuk. "Terima kasih, ya, sudah mau menemani saya di sini."


"Sama-sama, Bu."


Setelah mengobrol sebentar, Daniza membawa wanita itu ke kamar yang akan ia tempati. Apartemen Alvin ini tidak begitu luas. Namun, fasilitas mewah di dalamnya cukup memanjakan.


Daniza sedang menjelaskan apa saja yang akan dikerjakan Santi di apartemen itu, saat kembali terdengar suara bel berbunyi.


"Sebentar ya, Santi. Saya mau lihat siapa yang datang dulu."


"Silahkan, Bu."

__ADS_1


Daniza beranjak ke depan untuk melihat siapa yang datang. Ia langsung membuka pintu setelah melihat Eric berdiri di ambang pintu dengan sebuah paper bag di tangan.


"Selamat pagi, Daniz!" sapa Eric ramah.


"Selamat pagi, Kak!"


Pandangan Eric langsung menerobos ke dalam seperti sedang mencari sesuatu. Tadi Alvin sempat memintanya memeriksa apakah Santi benar-benar sudah tiba. "Santi sudah datang?" tanya Eric.


"Sudah, Kak!"


Tanpa menunggu waktu, Eric langsung mengutarakan tujuan kedatangannya ke apartemen pagi itu. Ia menyerahkan sebuah paper bag ke tangan Daniza.


"Apa ini?" tanya Daniza.


Daniza mendesahkan napas panjang mendengar ucapan Eric. Sikap Alvin dinilainya cukup berlebihan. Demi menghindarkannya dari Revan, Alvin sampai membuang ponsel berikut nomornya.


"Kenapa harus dibuang? Kan bisa ganti nomor."


"Tahu sendiri kelakuan si Bos. Katanya hape itu hadiah dari suami kamu, maka dia dibuang."


Eric sendiri sebenarnya cukup jengah dengan keposesifan teman sekaligus bosnya itu. Alvin benar-benar tidak rela jika Daniza memiliki kenangan apapun dari Revan, sekalipun itu hanya sebuah ponsel.


"Padahal bisa buang kartunya saja."


"Mana maulah dia! Gengsinya setinggi Gunung Everest." Eric menggelengkan kepala sambil berdecak. "Oh ya, di bawah juga ada mobil untuk kamu sekalian sama sopirnya."

__ADS_1


Daniza membeku selama beberapa saat. Situasi ini membuatnya tidak enak hati. Bagaimana pun juga ia tidak ingin sampai dicap memanfaatkan Alvin yang kaya raya. Karena tak tanggung-tanggung, Alvin memberikan fasilitas mewah untuk Daniza. Selain kartu tanpa batas, ponsel keluaran terbaru yang ditebak Daniza seharga puluhan juta, dan juga sebuah mobil mewah.


"Tapi, Kak!"


"Sebaiknya jangan menolak. Kamu sudah tahu seperti apa Alvin, kan? Jangan sampai dia melakukan hal gila lagi. Misalnya, mengikat Revan dan memasukkannya ke gorong-gorong."


Daniza hampir tertawa membayangkan ucapan Eric barusan. Namun, ia hanya mengatupkan bibir agar tawa tak pecah.


"Revan bisa jadi tikus got kalau itu benar-benar terjadi," lanjut Eric.


Daniza masih menimbang akan menerima segala fasilitas yang diberikan Alvin atau tidak. "Aku hanya tidak enak dengan Ibu Elvira. Lagi pula apa kata orang nanti? Aku bukan siapa-siapa di sini."


"Kenapa harus peduli sama orang? Soal ibunya Alvin, kamu tenang saja. Dia itu sebenarnya baik, kok. Alvin saja yang suka bikin mamanya senam jantung."


Daniza mengangguk pasrah.


Setelah mengobrol singkat, Eric bergerak meninggalkan apartemen. Sekarang ia masih punya tugas lain dari Alvin, yang sebenarnya tidak termasuk ke dalam pekerjaannya. Laki-laki itu bersandar di mobil dengan Hela napas yang berat.


"Nasib jadi bawahan. Status teman tidak berpengaruh!"


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2