Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Sedang Apa Kalian Di Sini?


__ADS_3

Alvin mendudukkan Daniza di ranjang. Tubuh wanita itu masih cukup lemah dan demamnya kembali meninggi karena efek banyak menangis di kamar mandi. Alvin buru-buru mengambil obat penurun demam yang belum sempat diminum Daniza dan menuang air putih ke dalam gelas.


"Minum obat dulu, biar demamnya cepat turun." Dengan penuh perhatian Alvin merawat Daniza. Setelah meminum obat, ia membaringkan tubuh lemah itu. Kemudian melakukan pijatan lembut di kaki dengan menggunakan massage oil. "Segini sudah pas, kan?"


Daniza mengangguk. Pijatan Alvin membuat otot-ototnya yang kaku terasa lebih nyaman.


Ketika pandangan mereka saling bertemu, Daniza langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain. Ia merasakan tubuhnya semakin memanas dan yakin pipinya saat ini sudah semerah udang rebus. Perhatian Alvin menciptakan rasa yang membuncah, tetapi juga malu.


Ah, Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Daniza baru pertama kali merasakan debaran seperti ini. Dulu, ia pikir hidupnya akan hancur setelah ditinggal Revan. Tetapi justru menjadi jalan menemukan Alvin. Seorang lelaki sempurna yang rela melakukan apapun demi dirinya. Bahkan Alvin tidak peduli dengan status Daniza yang merupakan seorang janda.


"Sekarang kamu tidur ya. Kata Mila kamu harus banyak istirahat," ucap Alvin. setelah selesai memijat kaki, ia memakaikan selimut.


"Tidak mau tidur," cicit Daniza.


"Kenapa?"


"Kalau aku tidur, Kak Alvin akan pergi." Daniza memeluk lengan kekar itu. Seolah tak rela jika Alvin meninggalkannya malam ini.


Jangan tanya seperti apa reaksi Alvin mendapati Daniza yang mendadak sangat manja. Hatinya terasa melayang ke nirwana.


"Aku tidak akan ke mana-mana. Akan tetap di sini menemani kamu."


Alvin memilih menyandar pada sandaran tempat tidur, lalu mengelus rambut Daniza. Perlahan rasa kantuk pun menyerang hingga Daniza mulai memejamkan mata.


"Lama-lama kok ngantuk juga, ya?" gumam Alvin, menatap Daniza yang sudah memasuki alam mimpi. Ia pun membungkuk dan menciumi kening wanita kesayangannya itu.


Bahagia sekali hati ini. Cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan.


Ia lantas melirik jam yang melekat di dinding. Sudah hampir larut malam dan ia sendiri ragu menyetir sendiri dalam keadaan mengantuk. Lagi pula, Alvin tidak tega meninggalkan Daniza sendiri. Tanpa sadar, kelopak matanya mulai menutup.


Malam pun terlewati begitu saja.


*

__ADS_1


*


*


Pagi harinya, Santi terlonjak ketika mendengar pintu apartemen tiba-tiba terbuka. Ia yang pagi itu tengah membuat sarapan di dapur bergegas keluar.


"Kemana anak tidak tahu diri itu?" pekik Mama Elvira.


Santi yang sebelumnya bekerja di Rumah Nyonya Elvira itu sudah hafal benar seperti apa reaksi sang majikan jika sedang kesal dengan putranya. Tetapi, setahu Santi semalam Alvin sudah pulang.


"Den Alvin 'kan semalam sudah pulang, Bu," jawabnya penuh keyakinan.


"Kalau sudah pulang tidak mungkin saya cari ke sini!" Suara Mama Elvira kembali memekik.


Santi melirik ke kamar Daniza yang masih tertutup rapat. Belum ada tanda jika penghuni di dalam telah bangun atau belum. Semalam juga setelah pulang dari mini market ia langsung masuk ke kamar dan tidur. Tidak lagi memeriksa keadaan Daniza.


"Wah, saya benar-benar tidak tahu, Bu. Soalnya semalam Den Alvin bilang mau pulang."


"Awas saja mereka kalau berani macam-macam dan bikin malu keluarga!"


Dengan langkah cepat, Mama elvira menuju pintu. Beruntung pintu sama sekali tidak terkunci. Sontak mata wanita itu berkilat marah melihat putranya berada satu ranjang dengan Daniza. Meskipun Daniza tidur berbalut selimut dan terhalang bantal guling sementara Alvin terbaring di ujung ranjang.


"Alvin Alexander!" Teriakan melengking Mama Elvira membuat Alvin dan Daniza terlonjak. Dalam keadaan masih dikuasai kantuk Alvin membuka mata.


"Eng … Mama, ada apa sih? Pagi-pagi sudah teriak?" Sepertinya Alvin masih belum sadar sepenuhnya bahwa dirinya sekarang ada di kamar Daniza. Ia malah mencari posisi nyaman untuk melanjutkan tidurnya.


Wushhh …


Sandal jepit Mama Elvira melayang tepat ke tubuh Alvin. Hal itu membuat Alvin sontak mengaduh, lalu menatap sang mama dengan raut wajah marah.


"Mama ini apa-apaan, sih?" Alvin menggeram sambil memijit pelipisnya yang terasa berat. "Jurus andalan Mama ganti jadi sandal flying in the sky?"


Tadinya Mama Elvira memang ingin melempar sapu, tetapi diurungkan karena mungkin Daniza akan ikut kena lemparan. Sehingga memilih melempar sandal miliknya.

__ADS_1


"Masih berani bercanda kamu, ya?" gerutu Mama Elvira dengan rahang mengetat.


"Mama yang bercanda. Pagi-pagi sudah dikasih sarapan sandal!" Alvin membalikkan tubuhnya dan berniat melanjutkan tidur.


Namun, saat memeluk sesuatu yang dipikirnya bantal guling, matanya seketika melotot setelah melihat wajah Daniza. "Daniza, kamu ngapain tidur di kamar aku?"


Akal sehat Alvin seketika bekerja dan baru menyadari bahwa dirinya bukan sedang berada di kamar pribadinya, melainkan di kamar Daniza.


"Ah, sial!" Alvin menepuk jidatnya kesal. Ternyata inilah alasan di balik sandal jepit flying in the sky.


"Sekarang kamu sudah mengerti di mana salahmu, 'kan?" tandas Mamah Elvira. Ia mengambil kembali sandal jepit bermotif logo LV tersebut lalu memakainya.


Menyadari sinyal bahaya, Alvin pun segera merubah posisinya menjadi duduk. Tangannya yang panjang mengguncang tubuh Daniza agar wanita itu segera terbangun. "Mah, ini salah paham! Semalam aku berniat meniduri Daniza, tapi aku malah ketiduran."


"Oh, jadi sekarang kamu sudah berani meniduri Daniza?" Amarah Mama Elvira semakin tersulut layaknya gunung berapi yang siap memuntahkan lahar.


Alvin menggigit bibirnya yang salah bicara. Pelan-pelan, ia mencoba menjelaskan kembali dan meralat kosa katanya. "Ah, bukan meniduri yang seperti itu, Mah! Maksud aku menidurkan! Iya, semalam aku mau menidurkan Daniza, tapi aku ketiduran."


Mendengar itu Mamah Elvira semakin tak terkendali. Kini sasaran kemarahannya bukan hanya Alvin, tetapi juga kepada Daniza, karena wanita itu dinilai tidak bisa menjaga diri.


"Daniza bukan bayi yang harus kamu nina-bobokan! Apa pun alasannya, kelakuan kalian ini tidak bisa dibenarkan dan memalukan." Mama Elvira beralih menatap Daniza yang tampak terkejut bercampur malu. "Dan kamu Daniza, saya tunggu kamu di ruang tamu!"


Setelah mengatakan itu, Mamah Elvira melangkah meninggalkan kamar. Daniza memandang Alvin dengan wajah takut-takut.


"Bagaimana ini, Kak? Sepertinya Ibu Elvira sangat marah. Kak Alvin kenapa tidur di sini, sih?"


Bukannya panik, Alvin malah bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia meletakkan punggung tangannya di dahi Daniza demi memeriksa suhu tubuhnya yang sudah agak turun.


"Kamu tenang saja, nanti biar aku yang menjelaskan ke mama. Lagi pula semarah-marahnya Mama tidak mungkin makan orang."


"Alvin, Daniza cepat keluar!" teriak Mama Elvira dari arah luar.


...****...

__ADS_1


__ADS_2