
Tak lama berselang, pintu kaca itu terbuka, memunculkan seorang dokter dengan pakaian serba hijau. Semua yang ada di sana langsung berdiri menghampiri sang dokter.
“Dokter, bagaimana keadaan Siti dan Jarot? Em ... maksud saya, anak dan istri saya bagaimana?”
Dokter wanita itu mengulas senyum ramah. Ia menatap satu persatu keluarga pasien yang seolah sedang mendesak meminta jawaban.
“Kondisi anak-anak Pak Alvin stabil. Mereka lahir selamat, sehat dan tidak kekurangan. Berat badannya juga normal.” Ucapan dokter membuat semua orang berucap syukur. Mama Elvira kembali melelehkan air mata. Semakin tak sabar meminang cucu pertama di keluarganya.
"Tapi ...." Sang dokter menjeda ucapannya dengan tarikan napas. Seolah sedang memilih kalimat yang tepat agar tidak membuat keluarga pasien panik.
“Tapi apa, Dok?” desak Alvin. Perlahan senyumnya memudar. Dari mimik sang dokter, ia dapat menebak bahwa sesuatu yang serius telah terjadi terhadap Daniza.
“Maaf, kami harus sampaikan bahwa kondisi Bu Daniza sendiri sangat lemah. Ada benturan keras di kepala. Selain itu Bu Daniza juga kehilangan banyak darah.”
Deg! Jantung Alvin seperti akan berhenti berdetak. Napasnya tertahan di rongga leher.
__ADS_1
"Maksudnya bagaimana?" Alvin memberanikan diri bertanya.
"Untuk saat ini, Bu Daniza dalam keadaan belum sadarkan diri."
Sekujur tubuh Alvin mendadak lemas. Dadanya penuh sesak. Mendengar Daniza dalam keadaan tak sadarkan diri seolah melumpuhkan syaraf-syarafnya. Belum pernah sebelumnya ia merasakan takut kehilangan seperti sekarang.
"Tolong selamatkan anak saya, Dokter. Berapa pun biaya yang dibutuhkan tidak masalah, yang penting Daniza cepat siuman. Kalau perlu kita bawa ke rumah sakit di luar negeri." Mama Elvira yang shock langsung menyela.
"Mah ... Mama tenang dulu, ya. Tim dokter pasti melakukan yang terbaik untuk Daniza. Untuk saat ini kita hanya bisa menunggu perkembangan," bujuk Mila, masih memeluk sang mama.
Sementara Eric juga berusaha untuk menenangkan Alvin yang juga sangat terpukul dengan keadaan istrinya.
"Boleh ... tapi satu orang saja."
Alvin langsung melesatkan tubuhnya melewati pintu kaca itu. Sesampainya di dalam, ia melirik sebuah ruangan khusus dengan pintu setengah terbuka. Samar-samar terdengar suara tangis bayi dari dalam.
__ADS_1
Perlahan ia mendekat. Daniza baru saja selesai ditangani oleh beberapa dokter. Tubuhnya masih terbalut kain tipis berwarna hijau dan juga penutup kepala, serta alat bantu pernapasan yang menutupi mulut dan hidung.
Sementara di sudut lain, ada dua box bayi. Dua malaikat kecil itu baru saja dibaringkan oleh seorang dokter ahli anak. Alvin tak langsung melihat kedua bayinya. Ia memilih mendekati Daniza lebih dulu.
Sepasang matanya berkaca-kaca ketika melihat wajah pucat Daniza di atas pembaringan. Alvin mengusap puncak kepala, lantas menciumi kening dengan lembut.
"Kamu harus bertahan untuk aku dan anak-anak. Aku butuh kamu untuk membesarkan mereka," bisiknya ke telinga. Namun, Daniza tak memberi merespon sedikit pun.
Alvin masih larut dalam rasa sedih ketika samar-samar mendengar suara tangis bayi. Ia seketika tersadar dan langsung melirik ke sudut ruangan. Di sana dua bayi mungilnya sedang bergerak-gerak kecil. Seorang perawat tampak sedang mempersiapkan keperluan untuk kedua bayi itu, sebab beberapa menit lagi mereka harus di bawa ke ruang bayi.
Alvin berdebar menatap wajah kedua bayi mungil itu. Sangat lucu dan menggemaskan. Ingin menggendong, namun, melihat tubuh mungil yang begitu renta, ia mengurungkan niatnya.
"Sus, bisa bantu saja gendong anak-anak saya?" pintanya kepada seorang perawat.
"Bisa, Pak. Tapi hati-hati, ya." Wanita itu segera membantu Alvin dan memindahkan salah satu bayi ke pangkuannya. Bayi laki-laki adalah yang pertama duduk di pangkuan sang papa.
__ADS_1
Alvin mencium bayi mungil itu penuh haru. Sedih dan bahagia menyatu. Lantunan Adzan berkumandang merdu sebagai sambutan pertama Alvin untuk kedua buah hatinya.
...******...