Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Jangan Sampai Menyesal!


__ADS_3

Alvin mondar-mandir di depan pintu kamar sambil memikirkan cara untuk masuk ke kamar tanpa harus merendahkan harga diri di depan Daniza. Benar kata Eric beberapa waktu lalu, bahwa kelakuan Alvin seperti remaja. 


"Apa aku pura-pura saja mau ambil baju di lemari, ya?" 


Laki-laki itu berdiri di ambang pintu. Memutar gagang pintu perlahan dan melongokkan kepala ke dalam. Kedua alis tebalnya saling bertaut saat tak menemukan Daniza di kamar. Tempat tidur juga dalam keadaan sangat rapi. 


"Apa dia di kamar mandi?" Perlahan Alvin melangkah memasuki kamar sunyi itu. Setelah memeriksa, ternyata di kamar mandi tak ada siapapun. Lalu, ke mana perginya Daniza? Padahal seharian ini ia tidak keluar kamar. 


Dengan perasaan campur aduk, Alvin berjalan menuju lemari. Ketika membukanya, ia harus terkejut karena sebagian ruang di lemari sudah kosong, yang menandai bahwa Daniza mungkin telah pergi dari rumah. 


"Dia pergi?" 


Alvin terdiam di tempat. Tiba-tiba merasakan kehampaan dalam hatinya. Ditambah rasa khawatir mengingat Daniza tengah berbadan dua. Kepingan rasa bersalah pun terasa semakin menggunung. 


Tanpa menunggu waktu, Alvin beranjak keluar rumah. Mama akan menjadi orang pertama yang ia tanyai mengenai keberadaan Daniza. 


*


*


Di butik


"Kenapa kamu harus sepanik ini hanya karena Daniza pergi? Bukannya kamu memang tidak suka sama dia?" Pertanyaan ketus itu menjadi jawaban pertama yang diterima Alvin dari mama saat menanyakan keberadaan Daniza. 


"Bukan begitu, Mama." Masih berusaha mempertahankan harga diri. "Daniza kan katanya sedang hamil, kalau di luar ada apa-apa bagaimana?" 


Mama terkekeh, tetapi terlihat begitu sinis. "Kamu sendiri sadar bahwa Daniza sedang hamil, terus kenapa kamu kasar sama dia?"  

__ADS_1


"Mah—" Baru saja Alvin akan menyanggah, tangan Mama Elvira sudah terangkat, sebagai simbol bahwa ia tak ingin mendengar apapun dari putranya. 


"Ingat ya, Vin, yang ada di perut Daniza itu anak kamu! Jangan sampai kamu menyesal!" ucapnya menekan. 


Untuk beberapa saat, Alvin kehilangan kata-kata. Ucapan Mama Elvira menciptakan perasaan lain di hati Alvin. Terlebih jika mengingat janin tak berdosa yang sedang tumbuh di rahim Daniza. 


"Tapi, Mah—" 


"Sudah, mama lagi sibuk dan tidak punya waktu untuk anak keras kepala macam kamu! Silahkan kamu pulang ke rumah dan renungi kesalahan kamu sendiri!"  


Alvin mengerucutkan bibir. Ia terpaksa harus meninggalkan butik mama dengan perasaan kesal. Tetapi, dari sikap mama tadi, Alvin dapat menarik sebuah kesimpulan, bahwa kemungkinan mama telah menyembunyikan Daniza. Kini, satu-satunya yang mampu menjawab di mana keberadaan Daniza hanyalah Eric seorang. 


"Mang, tolong antar saya ke kantor," pinta Alvin, sesaat setelah naik ke mobil. 


"Baik, Den." 


*


*


Menempuh perjalanan selama 30 menit, Alvin akhirnya tiba di kantor. Laki-laki itu sempat termangu di depan, memandangi gedung kantornya yang megah nan mewah. Seingatnya, dulu kantor ini belum sebesar sekarang. Ia kerap datang sepulang sekolah untuk menemui papa di kantor.


Begitu masuk, Alvin tiba-tiba merasa risih sebab beberapa staf menyambut kedatangannya dengan penuh hormat. Bahkan Alvin tak mengenal satu pun dari mereka. Semuanya serba asing baginya. 


"Wow, ini suatu keajaiban bos mau datang setelah hampir dua bulan absen," goda Eric, saat pertama kali melihat Alvin memasuki ruangannya. "Seharusnya aku membentangkan karpet merah." 


"Tidak usah lebay!" gerutu Alvin semakin kesal. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa. Kemudian meneliti ruangan Eric dengan rasa kagum. "Ruanganmu bagus juga." 

__ADS_1


"Jangan bilang kamu ke sini hanya untuk memuji ruangan ini?" Eric menyeringai setelah menyelesaikan kalimatnya. Padahal ia sudah bisa menebak tujuan kedatangan Alvin yang mendadak. 


"Ada sesuatu yang mau aku tanyakan ke kamu. Dan kamu pasti tahu jawabannya," ucap Alvin serius. 


"Kamu pikir aku google yang serba tahu?" Lagi-lagi, Eric membalas ucapan serius Alvin dengan gurauan. 


Hal yang membuat Alvin melayangkan bantal sofa ke arahnya. Eric tertawa kecil, sebelum akhirnya memilih duduk di sofa tepat di hadapan saudara angkatnya. 


"Daniza pergi dari rumah," ucap Alvin. 


"Lalu apa urusannya dengan kamu? Bukannya tadi pagi kamu bilang lebih senang kalau tidak ada Daniza? Aku rasa Daniza hanya mewujudkan keinginan kamu," balas Eric frontal. 


"Maksudku bukan seperti itu, Ric. Kamu kan tahu keadaanku sekarang bagaimana? Aku belum bisa ingat apapun tentang Daniza." Ia menjeda ucapannya dengan hela napas. "Kemarin dia memberitahu tahu sedang hamil dan aku tidak sengaja membentaknya." 


"Hah?" Eric terbelalak tak percaya. Ia memang tahu perihal kepergian Daniza. Pagi-pagi sekali Mama Elvira sudah membawa Daniza pergi ke sebuah tempat di mana Daniza bisa istirahat dan menenangkan pikiran. "Istri lagi hamil kamu bentak-bentak? Kamu pasti sudah gila." 


Alvin sendiri menyadari sikapnya kepada Daniza memang sudah terbilang berlebihan. Tetapi, semalam pikirannya sedang sangat kacau. Berbagai usaha yang dilakukan untuk mengembalikan memori yang hilang tak membuahkan hasil. 


"Aku kan sudah bilang tidak sengaja!" 


"Sengaja atau tidak, kamu sudah menyakiti Daniza. Pantas dia tidak tahan sama kamu." 


Menghela napas panjang, Alvin bersandar dengan frustrasi. "Mau bagaimana lagi, Ric. Aku masih terlalu muda untuk punya anak." 


Lagi, ucapan Alvin membuat Eric merasa seperti naik roller coaster yang membuat imun dan imannya naik turun. 


"Cobalah untuk berkaca, Tuan Alvin Alexander yang terhormat! Usiamu sekarang sudah 29 tahun dan sangat cocok menjadi bapak-bapak!" 

__ADS_1


...**** ...


__ADS_2