Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Bonchap 06 - Jati Diri Om Jabrik


__ADS_3

Mama Elvira tak sanggup membendung luapan rasa kesal setelah perbuatan kedua putranya yang menembus batas. Ia seperti kehilangan muka di depan Mas Agung. Apalagi Alvin dan Eric sempat menuduh sembarangan tanpa bukti. 


"I'm so sorry! Aku benar-benar tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Sepertinya anak-anakku sedang salah paham." 


"No problem. Kamu boleh jelaskan dulu kepada mereka. Urusan kita bisa ditunda dulu," ujar si Landak yang tampak tidak begitu mempermasalahkan tuduhan keji Alvin dan Eric. 


"Terima kasih. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf." 


"Tidak apa-apa."


Mama Elvira langsung menarik lengan kedua putranya. Begitu tiba di depan, tatapan mengintimidasi dihadiahkan sang mama untuk anak-anak yang bandelnya seperti noda di piring itu. 


"Kalian ini apa-apaan? Bisa tidak jangan bikin ulah sehari saja!" 


"Siapa yang bikin ulah, Mah? Aku tidak mau Mama dimodusin sama om-om tadi," jawab Alvin masih dengan pikiran yang sama. Adegan usap-usap bibir tadi rupanya menjadi bukti paling nyata adanya apa-apa antara mama dan si Om. 


Sekedar informasi, ini semua berdasarkan kisah nyata dan pengalaman Alvin sendiri. Masih ingat pertemuan pertama antara Alvin dan Revan di restoran? Kala itu Alvin sengaja mengusap ujung bibir Daniza dari sisa saos untuk membuat Revan cemburu. Padahal saat itu Revan dan Daniza masih resmi sebagai suami dan istri. (Bab—7) 


"Sekali lagi kamu bicara seperti itu, mama kirim kalian ke pondok untuk diruqiyah!" ancam mama, lalu menatap si bungsu yang masih setia berdiri di samping kakaknya. 


"Memang om jabrik tadi siapa, Mah? Ngapain berdua-duaan di restoran," tambah Eric. 


"Jadi kalian ngikutin Mama sejak tadi?" Nada mama terdengar masih kesal.


"Kebetulan kita makan di restoran yang sama, terus nggak sengaja lihat Mama makan berdua dengan si om," jawab Eric lagi. Sementara Alvin masih diam di tempat.  


"Ayo, Ric! Cecar terus!" ucap Alvin dalam hati. 


"Eric, Alvin, Om Agung itu rekan bisnis mama. Tadi kebetulan jam makan siang, jadi mampir ke restoran sebelum ke sini." 

__ADS_1


"Kalau cuma rekan bisnis ngapain pakai elap-elap bibir segala?" tanya Eric lagi. 


"Bagus, Ric. Kamu memang adikku yang budiman seantero galaksi Bima Sakti!" Lagi, Alvin memuji dalam hati.


Rona merah terlihat jelas di pipi Mama Elvira saat itu juga. Jarinya refleks menyentuh ujung bibir yang tadi diusap Om Jabrik. 


Mendadak sikap galak tadi menghilang tanpa bekas. Berganti dengan senyum secantik lukisan Monalisa. Dulu cara ini sangat ampuh saat menghadapi suaminya, sekarang akan ia gunakan cara yang sama untuk menaklukkan anak-anaknya. 


"Oh ya, Alvin, Eric. kalian belum fitting jas buat nikahan nanti, kan? Ayo, kita fitting dulu biar pas." Sambil menarik lengan kedua anaknya untuk keluar dari hotel, seolah tidak terjadi perdebatan di antara mereka sebelumnya. 


Melupakan om Jabrik landak laut yang sudah kering menunggu di dalam. 


*


*


Malam harinya .... 


Selepas makan malam, Alvin masuk ke kamar Eric. Seperti biasa Eric sedang baring tengkurap di tempat tidur sambil memainkan ponsel. Alvin langsung menghempaskan tubuhnya tepat di sisi Eric. Ia juga sempat melirik layar ponsel yang memperlihatkan beberapa foto. 


"Tumben nggak stalking Instagram artis luar," cibir calon bapak itu. 


"Bosan! Kenapa, mau like dan komen lagi?" 


"Ogah! Ketahuan diusir lagi sama Daniza." Alvin memeluk bantal guling, lantas ikut menatap foto seorang pria berkacamata hitam di atas jet pribadi yang sedang dilihat Eric. 


"Jadi sekarang orientasimu pindah ke cowok, ya?" tuduhnya, membuat Eric melotot tajam.


"Sialan! Ini akun IG si om yang sama mama tadi. Lihat kalau tidak percaya!" Dia menggeser ponsel ke hadapan kakaknya.

__ADS_1


"Masa sih? Tahu dari mana itu akunnya?" 


"Cari tahu dari follower mama. Ternyata mereka teman lama yang bersemi kembali," jawab Eric lesu. 


"Terus info apa yang kamu dapat?" 


"Banyak! Kamu pasti kaget." Eric menghela napas panjang. "Namanya Agung Susarman. Pemilik Javada grup." 


Alvin terkesima, sepasang matanya membulat. Betapa tidak, nama perusahan yang baru saja disebut Eric adalah sebuah perusahaan yang memproduksi mobil mewah dan memiliki kantor pusat di Kanada. 


Bukan Wakanda ya, teman-teman. Hehe 🤭 ....


"Bodo amat! Mau Susarmen mau Susahmen bagiku dia tetap virus yang harus dijauhkan dari mama," ucap Alvin, masih tetap teguh dengan pendiriannya. 'Menurut kamu, Mama sama si om tadi ada affair, nggak?" 


Eric hanya menjawab dengan anggukan kepala. Tadi, ia sempat mencari tahu dan kebetulan menemukan foto masa muda Mama Elvira dalam postingan lawas si om. Selain itu, Eric menemukan fakta mengejutkan bahwa om jabrik adalah seorang duda keren.


"Terus kita harus bagaimana sekarang?" 


"Ya mau gimana lagi? Aku sih mendukung keputusan mama aja." 


Raut tak senang terlihat jelas di wajah Alvin mendengar jawaban Eric. Tidak akan ia biarkan mamanya menjadi korban janji manis lelaki. "Jadi kamu setuju mama dideketin sama si Jabrik itu?" 


"Apa salah kalau mama mau cari kebahagiaannya sendiri?" Mendadak wajah Eric berubah sedih dalam hitungan detik. "Sejak dulu mama sering makan hati sama perbuatan papa. Kalau sekarang ada orang yang mau menemani mama menghabiskan masa tuanya, kenapa kita harus keberatan? Lagian, mama belum begitu tua untuk menikah lagi." 


Jika dipikir lagi, Mama Elvira memang belum begitu tua. Ia menikah di usia 17 tahun karena perjodohan dan harus menjadi ibu di usia 18 tahun. Selain itu, ia harus belajar berdamai dengan kenyataan pahit karena suaminya mencintai wanita lain. 


Alvin terdiam. Hatinya penuh dengan kegalauan.


...*** ...

__ADS_1


__ADS_2