
"Sekarang balik ke meja kamu sendiri sebelum kesabaranku habis!"
Alvin masih memandang sherly dengan raut tak bersahabat. Membuat wanita itu terpaku di tempat dengan wajah sedikit pucat. Harga dirinya seperti diinjak-injak, Alvin telah mempermalukannya di hadapan Daniza, anak cukup yang semasa sekolah dulu kerap menjadi korban pembullyan oleh sherly dan teman se-gengnya.
Tak ingin lebih malu lagi, Sherly beranjak sambil misuh-misuh menuju meja yang sempat ia tinggalkan tadi. Duduk di kursi dengan wajah tertekuk. Lihat saja, ia pasti akan membalas Daniza nanti. Begitu pikir Sherly.
"Bisa-bisanya Alvin membandingkanku dengan perempuan seperti dia. Cih, memang apa istimewanya si Daniza itu? Bagiku dia tetap gadis kampungan dan culun." Sherly bergumam-gumam kesal, memaki Daniza meskipun diakui dalam hati penampilan Daniza malam ini sangat memukau.
"Tunggu sebentar!" Sherly termenung sejenak begitu menyadari sesuatu. Ia berusaha menekankan memori pada otaknya. "Bukankah Daniza Amaria si culun itu sudah menikah dengan asisten papanya?"
Sherly masih ingat beberapa waktu lalu, ketika kedua orang tuanya mengajak menghadiri sebuah pesta pernikahan putri dari salah satu kolega bisnis papanya. Karena tahu itu adalah Daniza si anak culun, ia menolak untuk ikut.
"Iya, aku ingat betul bahwa Daniza memang sudah menikah. Tapi kenapa malam ini dia malah bersama Alvin. Dan kenapa juga Alvin mengenalkan istri orang sebagai calon istrinya? Apa jangan-jangan Daniza itu tukang selingkuh?"
Seringai tipis terbit di sudut bibir Sherly beberapa menit kemudian. Sepertinya ia bisa memanfaatkan informasi ini untuk balas mempermalukan Daniza. Sherly pun mencoba mencari sebuah bukti bahwa Daniza memang sudah menikah melalui sosial media. Kebetulan, mamanya pernah mengunggah foto ketika menghadiri pernikahan Daniza dan Revan di akun instagram pribadinya.
"Ketemu!" Wanita culas itu semakin menggebu. Foto pengantin wanita yang ada di akun Instagram mamanya itu memang Daniza. "Ternyata dia tidak lebih dari perempuan murahan!"
"Siapa yang perempuan murahan, Sher?" Pertanyaan itu membuat Sherly terlonjak. Ia refleks menoleh dan kemudian bernapas lega ketika melihat Tante Keshia, yang merupakan adik dari mendiang papa Alvin duduk di sebelahnya. Sherly sendiri adalah keponakan dari suami Tante Keshia, karena itulah Tante Keshia sangat ingin menjodohkan Alvin dengan Sherly. "Kamu kenapa menyendiri di sini, bukannya menikmati pestanya." Tante Keshia bertanya lagi.
"Tante Keshia lihat foto ini deh!" Sherly memperlihatkan foto yang sudah ia simpan di galeri ponselnya kepada Tante Keshia.
"Ini apa sih?" Tante Keshia menatap lekat-lekat foto tersebut, tetapi ekspresinya malah menunjukkan kebingungan.
__ADS_1
"Lihat baik-baik, Tante!" Ia menunjuk foto pengantin wanita. "Ini perempuan yang tadi dikenalkan Alvin sebagai calon istrinya. Dia ini adik kelas aku di SMA dulu, dan setahuku Daniza itu istri dari asisten kolega bisnis papa."
Kerutan di dahi keriput Tante Keshia tampak dalam. Ia masih meneliti foto. "Kamu yakin, Sher?'
"Yakin, Tante. Mama sama papa itu datang ke pernikahan mereka. Sejak papanya Daniza meninggal, suaminya itu yang gantiin papanya jadi direktur di perusahaan itu."
Tante Keshia kembali menatap ke arah meja Alvin dan Daniza yang terlihat sangat mesra. Meskipun sedikit berbeda, namun ia bisa melihat kemiripan wanita di foto dengan yang duduk bersama Alvin. "Kamu benar, Sher. Ini memang perempuan itu."
Sherly mengangguk yakin, membuat Tante Keshia semakin geram. Terlebih, ia sejak awal ia memang tidak menyukai wanita yang dibawa Alvin ke pesta ulang tahun mamanya.
"Jadi ini artinya si alvin itu membawa istri orang, ya?"
"Iya, Tante. Masa iya Alvin mau sama perempuan yang sudah bersuami." Sherly menyeringai saat melihat raut wajah Tante Keshia yang semakin geram. Sebagai saudara dari mendiang papa Alvin, ia tidak mungkin membiarkan keponakannya menjalin hubungan dengan istri orang. Terlebih, Alvin adalah keponakan kesayangan di keluarga mereka.
"Tante akan bicara dengan perempuan itu nanti. Ini tidak bisa dibiarkan."
Daniza menghembuskan napas panjang setelah melihat angka yang tertera pada layar ponselnya. Sebenarnya, ia kurang begitu menyukai pesta, terlebih karena semua orang yang ada di sana sangat asing baginya, kecuali Alvin dan Mama Elvira. Tetapi, saat ini Mama Elvira sedang sibuk menyambut tamu lainnya, sementara Alvin sedang ke toilet sebentar.
"Daniza!" Panggilan itu membuat Daniza menoleh. Tante Keshia tiba-tiba saja berdiri di sisinya.
"Iya, Tante." Ragu-ragu Daniza menyahut, apalagi setelah melihat raut wajah Tante Keshia yang jauh dari kata ramah.
"Alvin di mana? Kamu kok sendirian di sini?"
__ADS_1
"Kak Alvin sedang ke dalam, Tante."
Tante keshia mengulas senyum penuh sinis. Ini adalah kesempatan baginya untuk menjatuhkan mental Daniza. "Kebetulan ada hal penting yang mau saya bicarakan dengan kamu."
"Soal apa ya?" tanya Daniza. Ia mulai menebak ada sesuatu yang tidak beres.
"Langsung saja ya, saya tidak suka basa-basi," ucap wanita itu. "Saya dengar kamu sudah menikah. Apa itu benar?"
Daniza terdiam sejenak. Ia tahu status dirinya akan dipermasalahkan jika benar-benar menjalin hubungan dengan alvin. "Maaf, Tante. Saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, tapi saya sudah resmi bercerai."
Sepasang manik hitam Tante Keshia pun membulat penuh mendengar pengakuan Daniza itu. Ia hampir tak percaya bahwa keponakannya yang menjadi incaran gadis-gadis itu menjalin hubungan dengan seorang janda.
"Saya hampir tidak percaya ini. Alvin mengenalkan seorang janda sebagai calon istrinya?"
Daniza memilih diam mendengar kalimat sarkas itu. Ia tidak ingin memicu keributan di ulang tahun dan membuat Mama Elvira malu di pesta ulang tahunnya.
"Kamu seharusnya sadar, kalau kamu itu tidak pantas untuk Alvin. Kamu janda, sementara Alvin masih lajang. Keponakan saya layak untuk dapat perempuan yang jauh lebih layak dibanding kamu." Ia menjeda ucapannya dengan hela napas. "Kamu lihat dong, di pesta ini ada banyak perempuan lain yang jauh lebih pantas untuk Alvin. Kamu pakai trik apa untuk merayu keponakan saya?"
Setiap kata yang terucap dari bibir Tante Keshia layaknya sayatan belati tajam di hati Daniza. Ia pasti sudah menangis jika tidak berusaha menahannya. "Maaf Tante, tapi saya tidak pernah merayu Kak Alvin. Dia sendiri yang—"
"Alah, kamu pasti mau bilang Alvin yang mau sama kamu, kan?" Kalau kamu tidak merayu, mana mungkin Alvin mau sama perempuan seperti kamu?"
"Apa maksud Tante?" Nada datar yang terdengar dari balik punggung membuat Tante Keshia meremang.
__ADS_1
...***...