
Sontak Alvin dan Dokter Mila berlari panik menuju tempat Daniza berbaring. Daniza sendiri juga ikut panik lantaran tersadar bahwa dirinya baru saja melakukan kebodohan. Berpura-pura sakit demi mendapat perhatian tak pernah ada dalam pikirannya.
"Aduh, kenapa aku malah bohong?" batin Daniza. Ia meringis geli saat dokter Mila menekan bagian perutnya.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Dokter Mila.
"Yang ini!" kilah Daniza sambil menggeser tangan Dokter Mila ke sebelah kiri.
Dokter Mila lantas meraba perut Daniza sambil sedikit menekan dengan lembut. Kedua alis sang dokter sedikit mengernyit, kemudian menggerakkan tangannya ke bagian perut lainnya.
"Bagaimana? Apanya yang sakit, Daniz?" Alvin yang tak sabaran langsung menyergah. "Mil, kamu bagaimana sih, katanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"
Perkataan Alvin membuat Dokter Mila menahan senyum. Ia pasti sudah meledakkan tawa jika tidak ingat Daniza sedang demam. Karenanya, ia tetap berusaha bersikap profesional. Jatuh cinta memang kadang membuat seseorang menjadi gila. Begitu pikirnya.
"Sepertinya perut Daniza mengalami kram. Tidak perlu diobati. Cukup kamu di sini dan temani dia saja," perintah Dokter Mila sambil membenarkan pakaian Daniza yang terbuka sampai batas dada.
"Kamu yakin? Masa sakit perut tidak perlu diobati?" Alvin sedikit parno soal sakit perut. Sebab Daniza baru mengalami pendarahan beberapa waktu lalu. Ia khawatir sakit perut ada efek dari pendarahan itu.
"Memang ada beberapa sakit perut yang perlu pertolongan dokter. Tapi untuk kondisi Daniza ini tidak perlu perawatan khusus," ucapnya masih dengan keramahan yang sama. Meskipun dalam hati merasa sedikit tergelitik.
"Kamu yakin, kan?" tanya Alvin sekali lagi.
__ADS_1
"Aku yakin, Vin. Kamu temani saja Daniza di sini. Nanti juga sakit perutnya reda." Ia masih mengulas senyum. "Kalau begitu aku permisi dulu. Daniz, kamu istirahat yang banyak, ya. Kalau perutnya masih sakit, hubungi aku segera. Nomorku ada sama Alvin, kok."
"Terima kasih, Kak," lirih Daniza.
Dokter Mila pun pamit undur diri. Ia melangkah menuju pintu dan disusul Alvin yang mengikuti di belakangnya.
Melihat Alvin menyusul wanita itu, Daniza merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Matanya yang sayu kembali berkaca-kaca. Karena Dokter Mila dan Alvin sudah terlanjur ada di luar kamar.
"Mil, tunggu sebentar!" Alvin menarik tangan temannya itu sebelum sampai di pintu keluar. "Kamu yakin Daniza tidak apa-apa, kan?"
Untuk beberapa saat Dokter Mila menatap Alvin penuh selidik. Bibirnya mengulas senyum tipis. "Kamu tenang saja. Daniza hanya demam biasa."
"Bukan itu, Mil. Maksudku sakit perutnya Daniz. Aku takut itu bukan sakit perut biasa."
Untuk beberapa saat Alvin terdiam. Sorot matanya menggambarkan kekhawatiran berlebih. Dan hal itu saja sudah membuat Dokter Mila meyakini bahwa Daniza adalah seseorang yang sangat berarti bagi Alvin.
"Sebenarnya baru-baru ini Daniza mengalami pendarahan. Aku takut sakit perutnya karena pengaruh pendarahan itu." Jawaban yang diberikan Alvin membuat manik cokelat Mila membeliak. Tanpa dapat dikendalikan pikiran negatif merasuk di pikirannya.
"Pendarahan? Maksud kamu keguguran?" Wanita itu tampak terkejut, namun berusaha untuk menutupi dengan sikap santai.
"Iyalah, memang apa lagi?"
__ADS_1
Akal sehat Mila mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Alvin, lalu membentuk sebuah kesimpulan dalam benaknya. Masih segar dalam ingatan ketika Alvin membawa Daniza ke apartemen dalam keadaan basah kuyup.
Lalu, apakah hubungan kedua orang ini terlalu dalam sampai mengalami pendarahan? Mila benar-benar tidak menyangka Alvin sebrengsek itu. Padahal setahu Mila dari gosip yang beredar, Alvin sempat mengenalkan wanita bernama Daniza sebagai calon istri di pesta ulang tahun mamanya.
"Kamu tidak sedang bercanda, kan?" tanyanya seakan tak percaya.
"Untuk apa aku bohong, sih?"
Mila menghembuskan napas panjang. Butuh beberapa saat baginya untuk menormalkan pikiran. Selama ini, setahunya Alvin adalah tipe laki-laki yang sangat menghargai wanita. Ia bahkan belum pernah terdengar berpacaran dengan wanita manapun.
Mila mungkin akan jatuh cinta jika hatinya tidak lebih dulu diisi oleh lelaki lain. Sialnya, lelaki yang dicintai Mila lebih fokus dengan tujuan hidupnya sendiri dan sangat tidak peka. Sangat jauh berbeda dengan Alvin yang begitu posesif terhadap wanita yang disukainya.
"Alvin! Kamu itu berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang. Kenapa harus menjalin hubungan terlarang sampai membuat anak orang hamil di luar nikah?" tuduh Mila. Alvin seketika terlonjak mendengar tuduhan keji itu.
"Jangan sembarangan kamu, Mil!" balas Alvin tak terima. "Daniza itu wanita baik-baik. Dia hamil sama suaminya, bukan sama aku!"
Mata Dokter Mila kembali terbelalak. Kali ini lebih terkejut dari yang tadi. Ia hampir kehilangan akal sehat karena kelakuan temannya itu.
"Jadi kamu merebut istri orang yang sedang hamil begitu?"
Alvin menepuk jidat.
__ADS_1
***