
Sementara itu, Daniza sudah hampir menangis seorang diri di tengah keramaian. Sudah satu jam ia terpisah dari suaminya. Tadi, ia sempat ditabrak oleh seseorang hingga genggaman Alvin terlepas dan dalam hitungan detik, ia sudah tidak melihat keberadaan suaminya.
"Mas Alvin di mana?" gumam wanita itu dengan pandangan meneliti ke sekitar.
Daniza tidak tahu harus berbuat apa. Ponselnya juga ketinggalan di hotel tadi sehingga tidak bisa menghubungi Alvin untuk menginformasikan keberadaannya.
Sekarang ia benar-benar merasa sendirian di tengah keramaian dengan perasaan takut dan gelisah. Ingin bertanya, entah harus bertanya kepada siapa. Daniza sendiri tidak fasih berbahasa Inggris dan tempatnya berada sekarang sangat luas dan padat.
"Mas Alvin!" teriak Daniza entah untuk yang ke berapa kali. Dengan mata berkaca-kaca dan jantung berdegup cepat, ia kembali meneliti pengunjung yang berlalu lalang, dengan harapan akan melihat suaminya di sana.
Namun, hingga dua jam kemudian Alvin tak kunjung terlihat.
"Apa aku pulang ke hotel saja, ya?" gumamnya.
Tetapi, bagaimana caranya? Daniza bahkan tidak tahu jalan menuju hotel dan sialnya nama hotel yang menggunakan bahasa asing itu membuat Daniza kesulitan untuk mengingat. Dalam perjalanan bulan madu ini, ia benar-benar hanya mengandalkan Alvin.
"Aku harus bagaimana sekarang?"
Sedikit rasa sesal menyergap ke hati Daniza. Mengapa harus pergi ke tempat yang ramai pengunjung? Dan sialnya mengapa harus lupa membawa ponsel padahal ia sama sekali tidak tahu jalan.
Daniza terduduk di trotoar sambil menangis. Beberapa orang yang berlalu tampak menatapnya penuh tanya. Ada pula yang menghampiri untuk bertanya, tetapi Daniza hanya menjawab seadanya dan malah membuat beberapa orang bingung.
*
*
*
Akhirnya Daniza berakhir di kantor polisi. Ia baru saja tiba bersama beberapa orang petugas yang mencoba membantunya.
Daniza mulai lelah. Duduk seorang diri dengan mata sembab karena terus menangis. Sekarang ia benar-benar menyadari tidak bisa hidup tanpa Alvin. Beberapa jam saja terpisah sudah membuatnya merasa lebih baik mati.
Seorang wanita berseragam tampak menghampiri dan memberikan minuman dan makanan. Tetapi, Daniza hanya melirik tanpa menyentuh sedikitpun.
"Thank you," lirihnya.
Wanita berseragam itu tersenyum sambil mengusap bahu Daniza. Meskipun tidak paham, tetapi Daniza yakin bahwa wanita itu sedang memintanya untuk tetap tenang.
Daniza hanya dapat menunggu dan berharap keajaiban.
__ADS_1
Hingga tak lama berselang pintu kaca di ruangan itu terbuka.
"Sayang?" Panggilan itu membuat Daniza menoleh seketika. Ketakutan yang tadi merajai hatinya seketika sirna saat melihat suaminya memasuki ruangan itu.
"Mas!" Daniza langsung berlari ke arah Alvin dan memeluknya.
Alvin pun mendekap erat wanita itu. Sudah berjam-jam ia mencari Daniza dan memutuskan melapor ke kantor polisi untuk mendapatkan bantuan. Alangkah leganya perasaan Alvin mendapati Daniza terduduk seorang diri sambil menangis. Hatinya kini dipenuhi rasa syukur.
"Kamu ke mana aja, Mas? Kenapa meninggalkan aku di sana sendirian?" lirih Daniza.
"Maaf, Sayang. Aku pikir tadi kamu ada di belakangku. Saat aku menoleh ternyata kamu tidak ada." Alvin mengusap helai rambut dan punggung istrinya demi memberikan ketenangan.
"Aku takut sekali."
"Sudah, tenang dulu. Kamu aman sekarang. Maafin aku, ya."
Dalam pelukan suaminya, Daniza mengangguk. Rasanya seperti tidak ingin melepaskan pelukan itu.
*
*
*
"Sudah, jangan nangis lagi," bujuk Alvin lembut. Ia kemabli mendekap wanita yang duduk di sebelahnya.
"Jangan pernah tinggalin aku lagi, ya?" pintanya, masih terdengar terisak-isak.
"Tidak, Sayang. Siapa juga yang mau tinggalin kamu. Dapat kamu itu susah loh, sampai harus melakukan tindakan kriminal dulu."
Daniza mendongak menatap suaminya. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar tidak ingin terpisah lagi dari Alvin. Kejadian tadi benar-benar membuatnya ketakutan.
"Janji?"
"Janji! Makanya lain kali kalau ke mana-mana jangan jauh-jauh dari aku. Apa lagi di sini kamu tidak kenal siapapun."
Daniza mengangguk paham, membuat Alvin membenamkan bibirnya di kening.
"Tadi aku sempat berpikir akan kehilangan kamu untuk selamanya."
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi. Aku akan selalu ada untuk kamu."
Akhirnya Daniza mulai tenang setelah Alvin memberinya sebotol air mineral. Daniza memang dalam keadaan dahaga. Tadi, seorang polisi wanita sempat memberinya makanan dan minuman, tetapi Daniza sama sekali tidak menyentuhnya akibat rasa takut.
"Kalau kamu menghilang lagi, aku akan menghukum kamu dengan hukuman yang berat," ancam Daniza kemudian.
"Iya, Sayang. Tenang saja, pokoknya kita akan jadi pasangan paling so sweet di galaksi Bima Sakti."
*
*
*
Malam harinya
Daniza belum dapat memejamkan mata selepas aktivitas malam bersama. Padahal sudah menjelang tengah malam. Kejadian tadi siang masih menyisakan rasa takut. Menatap wajah suaminya yang sudah memasuki alam mimpi, Daniza membenamkan ciuman di pipi. Kemudian menyandarkan kepala di dada terbuka suaminya dan mendekap erat.
Alvin membuka mata saat merasakan gerakan tubuh Daniza yang gelisah. Meskipun pencahayaan kamar redup karena hanya satu lampu tidur yang menyala, tetapi Alvin dapat melihat kristal bening yang meleleh di pipi sang istri. "Kenapa belum tidur?"
Daniza refleks mengusap kedua sisi pipinya. "Aku masih kepikiran kejadian tadi."
"Ya ampun, Sayang. Kan sudah lewat. Lagi pula kita nggak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan," bujuk Alvin sembari mengusap lelehan air mata di pipi.
"Aku masih takut ditinggal kamu," lirihnya pelan sekali.
Alvin paham Daniza memiliki trauma dengan pernikahan masa lalunya. Wajar jika ia sampai memikirkan sesuatu yang berlebihan seperti sekarang. Dan sudah menjadi tugas Alvin untuk menghilangkan kenangan buruk itu dari ingatan istrinya.
"Sayang ... aku sangat mencintai kamu. Tidak ada sedikitpun alasan untuk bisa meninggalkan kamu."
"Janji?"
"Aku janji! Kamu sudah dua kali membuat aku berjanji hari ini, loh." Alvin kembali mendekap wanitanya itu. "Tidur, yuk! Atau jangan-jangan mau ditambah jatahnya?"
Daniza menatap suaminya. Kali ini tangisnya sudah terhenti dan berganti menjadi senyum menggoda.
"Mau ...."
"Gass lah!"
__ADS_1
Alvin menyeringai, lalu memerangkap tubuh kecil Daniza di bawah tubuh besarnya. Melewati malam panjang bersama.
...*****...