
Laki-laki itu menghembuskan napas berkali-kali demi meredam gejolak dalam dirinya. Hampir saja tidak sadar dan melahap Daniza mentah-mentah.
"Maaf, Sayang. Aku lupa." Ia mengulas senyum sambil garuk-garuk kepala.
Sementara Daniza yang masih terbaring berusaha menyembunyikan rona pada wajahnya. Perasaan seperti ingin menyembunyikan diri di planet paling terpencil di jagat raya. Sebenarnya tadi, ia sempat ingin memberitahu Alvin. Tetapi, serangan suaminya yang bertubi-tubi membuatnya ikut lupa dan malah menikmati sentuhan Alvin.
Kini, wanita itu merasa bersalah. Di malam pertama pernikahan justru membuat suaminya harus menunggu hingga beberapa hari. "Maaf ya, Mas."
"Maaf buat apa?"
"Karena kamu harus menunggu beberapa hari." Daniza semakin terlihat merasa bersalah.
Mengulurkan tangan, Alvin membelai puncak kepala istrinya seraya menerbitkan senyum tipis. "Tidak apa-apa. Kita masih punya banyak waktu. Nanti sekalian honeymoon-nya aja gas poll."
Rona merah di pipi Daniza semakin terlihat jelas mendengar kalimat suaminya yang terkesan sangat vulgar.
"Kamu siapkan amunisi aja untuk menghadapi aku."
Sepertinya Alvin benar-benar senang menggoda Daniza. Lihatlah bertapa ia tertawa geli melihat pipi istrinya yang semakin merah.
"Jangan ngomong gitu terus, Kak ... eh Mas ... aku 'kan mau!"
Bola mata Alvin seketika melebar. Ia pasti sudah tertawa lantang jika tidak memikirkan perasaan Daniza. "Kamu mau?"
Daniza gelagapan. Ia refleks mengatupkan bibir rapat. "Bu-bukan mau! Maksud aku ... aku malu!"
"Oh malu? Kirain mau."
Ingin sekali Daniza menghantamkan bantal ke tubuh suaminya yang mendadak berubah menjadi sangat jahil itu. Sepertinya Avin benar-benar senang menggoda Daniza.
__ADS_1
"Aku tabok pakai bantal, nih!" ancam Daniza. Masih dengan pipi memerah.
Pecah sudah tawa Alvin. Ia menarik tubuh mungil Daniza ke dalam pelukan. Menciumi pipi semerah tomat itu berkali-kali.
"Aku pijat aja, ya? Tadi katanya kaki kamu pegal," tawar Avin.
Tanpa mendapat izin dari si empunya, Alvin sudah meletakkan kaki Daniza di pangkuannya. Kemudian mulai memijat kaki dan betis.
"Segini nyaman?" Alvin hendak menanyakan kadar kenyamanan pijatannya.
"Nyaman."
Tangan laki-laki itu bergerak naik turun di kaki dan betis. Ia benar-benar menjalankan peran sebagai suami budiman dengan sempurna. Hingga akhirnya perlahan Daniza mulai memejamkan mata.
Alvin memandangi sosok cantik yang terlelap di sisinya dengan tatapan penuh cinta. Tidak ada hal yang paling membahagiakan baginya selain memiliki wanita itu di dalam hidupnya.
"Kok ikut ngantuk?"
Alvin memilih merebahkan tubuhnya. Kemudian menyusupkan tangan ke bawah leher Daniza dan menjadikan lengannya sebagai bantal. Malam ini ia terlelap dengan memeluk wanitanya itu.
Malam pertama pun berlalu tanpa adanya kegiatan begadang seperti rencana Alvin sebelumnya.
Perlahan kelopak mata Daniza mulai terbuka di pagi hari. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah wajah Alvin yang masih terlelap. Untuk beberapa saat ia terpaku. Memikirkan bagaimana suaminya itu bisa memiliki pahatan wajah paling sempurna.
Sampai sekarang Daniza masih bertanya-tanya apa yang membuat Alvin begitu mencintai dirinya sedalam ini. Sampai rela melakukan apa saja demi dirinya. Padahal Alvin dikelilingi wanita-wanita cantik dan berkelas.
"Terima kasih, Sayang. Ternyata begini rasanya diperjuangkan dan dicintai dengan tulus. Sebahagia ini rupanya," ucap Daniza dalam hati.
Tanpa sadar ia mendongak dan mencium pipi. Kemudian melingkarkan tangan ke tubuh tegap sang suami. Rasanya nyaman sekali berada dalam pelukannya pagi ini.
__ADS_1
"Selamat pagi, Suamiku," bisik Daniza pelan sekali. Berharap Alvin tidak mendengar sapaan itu.
"Hemm ... pagi juga, Sayang." Alvin menahan senyum setelah mengucapkan kalimat singkat itu. Membuat Daniza ingin menghilang saat itu juga.
Ponsel milik Alvin berdering nyaring memecah keheningan pagi. Alvin yang masih terbaring seorang diri di ranjang membuang napas kasar.
"Ngapain ini sekoteng telepon pagi-pagi?"
Tak punya pilihan lain, Alvin pun menggeser simbol hijau, agar segera terhubung dengan makhluk paling flat seantero galaksi Bima Sakti itu.
"Apa?" tanyanya langsung ketus.
"Baru bangun udah ngegas aja. Mentang-mentang semalam gas poll," cibir Eric.
Lagi-lagi Alvin menghembuskan napas kasar. Cukup kesal dengan tingkah usil sang asisten.
"Lupain gas poll. Mau apa kamu hubungi aku sepagi ini?"
"Cuma mau menyapa sekaligus bertanya, bagaimana malam pertamanya, Vin?" tanya Eric di ujung telepon.
Mendengar nada bicara Eric, Alvin yakin jika saat ini Eric sedang menahan tawa. Satu hal yang sangat disesali Alvin, kenapa juga semalam ia harus menghubungi Eric dan meminta tolong dibelikan pembalut? Padahal ujung-ujungnya tetap beli sendiri.
"Malah diam. Kayaknya kamu semaput habis malam pertama. Woy, jawab!"
Alvin menarik napas dalam. "Lumayan, Bro! Malam pertama jadi kang pijat."
Tawa Eric menggema di seberang sana.
...****...
__ADS_1